Konten dari Pengguna

Apa Itu Reframing dalam Psikologi? Manfaat dan Penerapannya

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi reframing. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi reframing. Foto Unsplash.

Reframing menjadi salah satu teknik psikologi yang populer untuk membantu seseorang melihat masalah dari sudut pandang berbeda. Cara ini sering digunakan dalam terapi maupun kehidupan sehari-hari untuk mengelola emosi dan stres. Banyak orang yang merasa lebih tenang dan mampu menghadapi tantangan setelah mencoba teknik ini.

Pengertian Reframing

Reframing dikenal sebagai proses mengubah sudut pandang terhadap suatu peristiwa atau pengalaman.

Menurut Nurhidayatullah Dahlan, Salmiati, dan Muhammad Ilham Bakhtiar dalam artikel jurnal "Penerapan Teknik Reframing Untuk Mereduksi Tingkat Kejenuhan Belajar Siswa", teknik reframing membantu konseli menyusun kembali cara pandang terhadap suatu masalah agar dapat melihat situasi dari perspektif yang lebih konstruktif, positif, tidak terlalu problematik, dan lebih terbuka terhadap solusi.

Definisi Reframing Menurut Para Ahli

Beberapa ahli psikologi mendefinisikan reframing sebagai teknik yang mengarahkan individu untuk menilai kembali makna dari pengalaman tertentu. Dengan begitu, respons emosional yang muncul bisa menjadi lebih sehat dan tidak berlebihan.

Tujuan Utama Reframing dalam Psikologi

Tujuan utama reframing dalam psikologi adalah memudahkan seseorang mengelola pikiran negatif. Selain itu, teknik ini membantu meningkatkan resiliensi ketika menghadapi tekanan atau masalah sehari-hari.

Manfaat Reframing

Penerapan reframing menawarkan sejumlah manfaat yang cukup nyata, baik untuk kesehatan mental maupun produktivitas. Teknik ini dianggap mampu mendukung keseimbangan emosi dan mengurangi dampak stres yang dialami seseorang.

Manfaat Reframing untuk Kesehatan Mental

Dengan reframing, seseorang dapat mengurangi beban pikiran dan memperbaiki cara pandang terhadap masalah. Hal ini berdampak positif pada kesehatan mental, karena membantu mengurangi kecemasan dan rasa putus asa.

Efektivitas Reframing dalam Mengatasi Kejenuhan

Menurut penelitian Nurhidayatullah Dahlan, Salmiati, dan Muhammad Ilham Bakhtiar dalam artikel "Penerapan Teknik Reframing Untuk Mereduksi Tingkat Kejenuhan Belajar Siswa", penerapan konseling kelompok dengan teknik reframing terbukti dapat mengurangi kejenuhan belajar siswa.

Teknik ini membantu siswa menyusun kembali cara pandang terhadap masalah, menerima perspektif yang lebih konstruktif dan positif, serta melihat situasi dari sudut pandang lain agar lebih terbuka terhadap solusi.

Cara Menerapkan Teknik Reframing

Bagi yang ingin mencoba reframing, ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk memulai. Prosesnya sederhana dan bisa diterapkan dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari.

Langkah-Langkah Praktis Reframing

Langkah awal adalah mengenali pikiran negatif yang muncul, kemudian mencoba mengidentifikasi sisi lain yang lebih positif dari situasi tersebut. Setelah itu, biasakan mengganti pola pikir lama dengan perspektif baru yang lebih memberdayakan.

Contoh Penerapan Reframing dalam Kehidupan Sehari-hari

Misalnya, ketika menghadapi kegagalan, seseorang dapat melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Seperti yang dijelaskan dalam penelitian Nurhidayatullah Dahlan, teknik reframing membantu konseli mengubah cara pandang terhadap masalah menjadi lebih luas dan positif, termasuk membingkai ulang kelemahan sebagai kekuatan dan masalah sebagai peluang.

Kesimpulan

Reframing dalam psikologi merupakan strategi efektif untuk mengelola pikiran dan emosi negatif. Dengan mengubah cara pandang terhadap masalah, seseorang dapat memperoleh manfaat signifikan, mulai dari kesehatan mental yang lebih baik hingga motivasi yang meningkat. Penerapan teknik ini tidak hanya bermanfaat di dunia terapi, tetapi juga relevan dalam menghadapi tantangan sehari-hari.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Self Improvement: Proses Menjadi Versi Terbaik Diri