Konten dari Pengguna

Apa Itu Socratic Questioning? Manfaat & Cara Menggunakannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi socratic questioning. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi socratic questioning. Foto Unsplash.

Teknik bertanya secara mendalam menjadi salah satu cara penting dalam menggali pemikiran dan emosi seseorang. Salah satu metode yang cukup dikenal dalam dunia psikologi dan terapi adalah socratic questioning. Melalui pendekatan ini, proses berpikir menjadi lebih terarah dan seseorang dapat menemukan makna atau solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Pengertian Socratic Questioning

Socratic questioning merupakan teknik bertanya yang digunakan untuk mengeksplorasi gagasan, menyingkap asumsi, dan menganalisis konsep dengan pertanyaan yang terarah. Metode ini sudah dikenal sejak zaman filsuf Yunani, Socrates, yang gemar menggali jawaban lewat diskusi terbuka. Dalam dunia terapi, tujuan utama socratic questioning adalah membantu klien memahami pola pikir mereka dan menemukan sudut pandang baru.

Menurut Therapist Aid dalam “Socratic Questioning: Cognitive Restructuring Technique”, Socratic questioning adalah teknik CBT untuk memeriksa, menantang, dan mengubah pikiran irasional dengan membantu individu merefleksikan bukti, menemukan kesalahan berpikir, lalu menyusun kembali pikiran agar lebih akurat dan seimbang.

Cara Kerja Socratic Questioning

Dalam praktiknya, socratic questioning dilakukan secara bertahap, dimulai dari pertanyaan dasar hingga ke arah refleksi mendalam. Proses ini melibatkan dialog terbuka antara terapis dan klien, di mana setiap pertanyaan diarahkan untuk menantang pola pikir atau keyakinan yang ada.

Jenis-Jenis Pertanyaan Socratic

- Pertanyaan klarifikasi digunakan untuk memperjelas pernyataan atau pemikiran klien, seperti “Apa yang Anda maksud dengan itu?”

- Pertanyaan asumsi bertujuan mengidentifikasi anggapan yang belum tentu benar, misalnya “Apa yang membuat Anda yakin hal itu benar?”

- Pertanyaan bukti dan alasan menantang dasar pemikiran, contohnya “Bukti apa yang mendukung pikiran Anda?”

- Pertanyaan perspektif lain membantu melihat masalah dari sudut pandang berbeda.

- Pertanyaan implikasi dan konsekuensi membahas dampak dari suatu pemikiran atau tindakan.

- Pertanyaan refleksi mengajak klien menilai ulang pandangannya sendiri.

Manfaat Socratic Questioning dalam Terapi

Teknik socratic questioning memiliki banyak manfaat, terutama dalam praktik terapi. Salah satunya adalah membantu klien menggali dan memahami pola pikir yang selama ini memengaruhi perilaku dan perasaan mereka. Selain itu, teknik ini juga mendorong pemikiran kritis sehingga klien dapat mengevaluasi dan mengubah pola pikir yang kurang produktif.

Menurut Therapist Aid dalam “Socratic Questioning: Cognitive Restructuring Technique”, Socratic questioning membantu klien memeriksa, menantang, dan mengubah pikiran irasional dengan menjawab serangkaian pertanyaan yang mengungkap kesalahan berpikir, lalu merevisi pikiran awal agar menjadi lebih akurat dan seimbang.

Contoh Penerapan Socratic Questioning

Penerapan socratic questioning biasanya berupa rangkaian tanya jawab antara terapis dan klien. Terapis bisa menanyakan, “Apa yang membuat Anda berpikir demikian?” lalu menindaklanjuti dengan “Bagaimana jika situasinya berbeda?” Proses ini mendorong klien untuk menganalisis sendiri keyakinannya dan mencari sudut pandang baru.

Kesimpulan

Socratic questioning merupakan teknik bertanya terstruktur yang efektif untuk menggali pemikiran dan membantu perubahan pola pikir. Cara kerja yang berfokus pada pertanyaan terbuka dan refleksi diri membuat metode ini relevan dalam terapi maupun kehidupan sehari-hari.

Seperti dijelaskan oleh Therapist Aid, Socratic questioning membantu seseorang memperlambat proses berpikir, merefleksikan bukti dari pikirannya, menemukan kesalahan berpikir, lalu menyusun ulang pikiran agar menjadi lebih akurat dan seimbang.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Kognitif dan Pola Pikir: Cara Kerja Pikiran yang Membentuk Hidup