Konten dari Pengguna

Apa Itu Terapi Kognitif Perilaku? Penjelasan dan Contoh Praktis

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Terapi Kognitif. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Terapi Kognitif. Gambar: Pexels.

Terapi kognitif perilaku semakin dikenal sebagai pilihan efektif dalam penanganan masalah psikologis sehari-hari. Pendekatan ini berfokus pada cara berpikir dan perilaku seseorang yang memengaruhi emosi dan tindakan mereka. Untuk mengenal lebih jauh, simak uraian tentang konsep dasar, cara kerja, hingga manfaat terapi ini berikut ini.

Pengertian Terapi Kognitif Perilaku

Terapi kognitif perilaku merupakan metode psikoterapi yang membantu individu mengenali dan mengubah pola pikir negatif yang berdampak pada perilaku.

Definisi dan Sejarah Singkat

Terapi kognitif perilaku (Cognitive Behaviour Therapy/CBT) merupakan metode psikoterapi yang membantu individu mengenali dan mengubah pola pikir negatif yang berdampak pada perilaku. Intervensi ini melibatkan langkah-langkah kognitif yang terkait dengan pengaruh dari keyakinan irasional mengenai berbagai permasalahan psikologis. Keyakinan irasional sering diasosiasikan dengan perilaku menghindar, dan restrukturasi kognitif dapat digunakan untuk mengatasi masalah keyakinan irasional yang mengganggu kognisi dalam melakukan respons yang benar (Rozental & Carlbring, 2014, dikutip dalam Rabia Adawiya dan IGAA Noviekayati, Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behaviour Therapy) bagi Individu Perfeksionis, 2019).

Konsep terapi kognitif perilaku diperkenalkan oleh Aaron T. Beck pada awal 1960-an, yang mengembangkan pendekatan ini untuk menangani depresi. Sejak itu, CBT berkembang menjadi salah satu terapi paling banyak diteliti dan diterapkan di bidang kesehatan mental untuk berbagai kondisi psikologis. Berbeda dari terapi konvensional, CBT menekankan hubungan antara pikiran, emosi, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Cara Kerja Terapi Kognitif Perilaku

Proses terapi kognitif perilaku dilakukan secara terstruktur dan bertahap, menyesuaikan kebutuhan tiap individu. Dalam setiap sesi, klien diajak untuk mengamati pola pikir yang memicu perilaku tertentu, lalu bersama terapis, mencari solusi yang lebih adaptif. Penanganannya melibatkan latihan praktis dan diskusi secara rutin.

Prinsip Dasar Terapi

Proses terapi kognitif bisa membantu orang untuk memahami masalah kognisi tertentu dalam melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi komitmen, serta meningkatkan kesediaan individu untuk terlibat pada perilaku yang lebih adaptif (Adawiya & Noviekayati, 2019, mengutip Rozental & Carlbring, 2014). Selain itu, menyadari adanya keyakinan irasional yang dimiliki dapat membantu individu dalam memahami kesenjangan antara situasi yang dialami dan tujuan serta nilai-nilai yang diharapkan (Adawiya & Noviekayati, 2019).

Tujuan Utama

Tujuan utama dari terapi kognitif perilaku adalah membantu individu menghilangkan dan menyadari distorsi kognitif yang mengganggu kehidupan sosial maupun fungsionalnya (Adawiya & Noviekayati, 2019, Abstrak). Pembahasan mengenai asumsi, core beliefs, dan pemikiran negatif yang otomatis sangat penting untuk mencegah individu dari pola pikir dan perilaku yang tidak adaptif (Rozental & Carlbring, 2014, dikutip dalam Adawiya & Noviekayati, 2019).

Contoh Terapi Kognitif Perilaku

Berbagai teknik sederhana dapat diterapkan dalam praktik terapi kognitif perilaku. Pendekatan ini dirancang agar klien aktif dalam proses pemulihan dan bisa menerapkan strategi yang dipelajari di kehidupan nyata.

Contoh Teknik Terapi

Dalam penelitian Adawiya dan Noviekayati (2019), terapi kognitif berlangsung sebanyak tujuh kali pertemuan dengan beberapa teknik utama: (1) konseling CBT — eksplorasi keyakinan irasional dan restrukturasi kognitif; (2) menulis diary harian berdasarkan format ABC dari teori CBT — di mana A adalah Antecedents (pemicu/situasi), B adalah Belief (keyakinan/pikiran klien), dan C adalah Consequences (konsekuensi perilaku); dan (3) teknik relaksasi sebagai langkah terakhir untuk mengelola stres dan ketegangan fisik (Adawiya & Noviekayati, 2019).

Beberapa kelebihan terapi kognitif yang diidentifikasi dalam dokumen sumber antara lain: klien dapat memahami secara jelas jenis-jenis distorsi kognitif; mampu membantu klien memberikan tanggapan yang rasional; berorientasi pada masalah yang ada saat ini; merupakan terapi terstruktur jangka pendek; dan membantu klien dalam mengenali hal-hal yang memunculkan kecemasan (Adawiya & Noviekayati, 2019).

Studi Kasus pada Individu Perfeksionis

Dalam penelitian Adawiya dan Noviekayati (2019), terapi kognitif perilaku diterapkan pada seorang remaja dengan kecenderungan perfeksionis yang kuat, di mana subjek merasa dirinya lebih unggul daripada teman-temannya dan menganggap keberhasilan adalah segalanya sehingga subjek cenderung tidak pernah mengenal kegagalan (Adawiya & Noviekayati, 2019, Abstrak). Kebiasaan ini membuat relasi sosialnya terganggu dan subjek sering stres dan jatuh sakit ketika merasa usahanya kurang maksimal.

Melalui tujuh sesi terapi dengan format ABC diary, klien mulai menyadari bahwa pemikiran negatifnya menjadikan penghalang bagi dirinya untuk mempunyai teman dan berkembang. Perubahan yang dialami klien mencakup: klien mau menerima hasil dari usahanya sekalipun tidak sesuai rencananya; klien tidak lagi bersikap egois saat harus bekerja dalam tim; dan ketika mengalami kegagalan, klien mencoba membuat rencana kedua karena klien dapat berpikir secara rasional dan menghilangkan distorsi kognitifnya (Adawiya & Noviekayati, 2019).

Manfaat Terapi Kognitif Perilaku

Manfaat terapi kognitif perilaku mencakup: membantu klien memahami jenis-jenis distorsi kognitif dengan lebih jelas; membantu memberikan tanggapan yang rasional; berorientasi pada masalah kini; serta merupakan terapi terstruktur jangka pendek (Adawiya & Noviekayati, 2019). Pendekatan ini tidak hanya membantu mengatasi kecemasan dan depresi, tetapi juga meningkatkan kemampuan mengelola stres, memperbaiki hubungan sosial, serta membangun kepercayaan diri. Beck (2011) dalam Cognitive Behavior Therapy: Basics and Beyond (Guilford Press) mengkonfirmasi bahwa CBT efektif untuk berbagai kondisi psikologis, dari gangguan kecemasan hingga gangguan kepribadian, pada rentang usia anak-anak hingga dewasa.

Kesimpulan

Terapi kognitif perilaku menawarkan pendekatan terstruktur untuk mengubah pola pikir dan perilaku yang kurang sehat. Berdasarkan penelitian Adawiya dan Noviekayati (2019) dalam Seminar Nasional Multidisiplin 2019, CBT yang diterapkan melalui tujuh sesi terapi — mencakup konseling CBT, diary format ABC, dan teknik relaksasi — terbukti membantu klien perfeksionis menghilangkan distorsi kognitif dan memperbaiki relasi sosialnya. Dengan teknik yang dapat diterapkan sehari-hari, CBT menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan untuk menjaga kesehatan mental.