Konten dari Pengguna

Attachment Style Adalah: Pengertian, Jenis, dan 4 Tipe Gaya Kelekatan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Attachment Style. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Attachment Style. Gambar: Pexels.

Attachment style adalah konsep penting dalam psikologi yang membahas pola hubungan seseorang dengan orang terdekatnya sejak kecil. Pemahaman tentang attachment style membantu banyak orang mengenali pola interaksi, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial. Setiap individu memiliki gaya kelekatan yang berbeda, yang bisa memengaruhi cara mereka membangun relasi sepanjang hidup.

Apa yang Dimaksud dengan Attachment Style?

Attachment style merupakan cara seseorang membangun hubungan emosional dengan orang lain, terutama sejak masa kanak-kanak. Istilah kelekatan (attachment) pertama kali dikemukakan oleh psikolog asal Inggris, John Bowlby, pada tahun 1958. Menurut skripsi Siti Rohmah, Gaya Kelekatan (Attachment Style) Santriwati Terhadap Pembina di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini Pasuruan, Bowlby (dikutip dalam Johnson & Medinnus, 1974) menggambarkan konsep attachment sebagai sebuah pertalian atau ikatan antara ibu dan anak. Kelekatan dapat disimpulkan sebagai kecenderungan anak atau individu untuk mencari dan berusaha mempertahankan kedekatan hubungan fisik dan ikatan emosional yang kuat pada individu lain tertentu secara resiprokal (timbal balik), yang mempunyai nilai kelangsungan hidup bagi anak atau individu tersebut, sehingga memungkinkan anak mempunyai perasaan aman, nyaman, dan terlindungi.

Definisi Attachment Style dalam Psikologi

Dalam psikologi, attachment style menggambarkan kecenderungan seseorang dalam merespons, mempercayai, dan berinteraksi dengan orang lain. Byrne (2004, dikutip dalam Rohmah) mendefinisikan gaya kelekatan sebagai derajat keamanan yang dialami dalam hubungan interpersonal — gaya-gaya yang berbeda pada awalnya dibangun pada saat masih bayi, namun perbedaan dalam kelekatan tampak memengaruhi perilaku interpersonal sepanjang hidup. Pola ini biasanya terbentuk dari pengalaman awal bersama pengasuh, seperti orang tua atau wali.

Pentingnya Memahami Attachment Style

Memahami attachment style sangat membantu seseorang mengenali pola hubungan yang sehat atau sebaliknya. Pengetahuan ini berguna dalam membangun kepercayaan diri, menciptakan komunikasi yang efektif, dan mengurangi konflik dalam relasi.

4 Attachment Style: Apa Saja?

Perlu diklarifikasi secara signifikan bahwa keempat tipe attachment style yang dibahas dalam skripsi Rohmah bukan Secure, Anxious, Avoidant, dan Disorganized seperti disebutkan sebelumnya. Sumber tersebut merujuk pada model empat kategori Bartholomew dan Horowitz (1991), yang didasarkan pada kombinasi pandangan positif/negatif terhadap diri sendiri dan orang lain, yaitu: Secure, Preoccupied, Dismissing, dan Fearful.

Secure Attachment (Gaya Kelekatan Aman)

Gaya kelekatan aman ditunjukkan oleh adanya pandangan positif terhadap diri sendiri dan pandangan positif terhadap orang lain. Individu dengan tipe ini merasa nyaman terhadap keakraban dan merasa aman dengan dirinya sendiri, cenderung memandang diri mudah menyayangi, serta percaya bahwa orang lain responsif dan menerima keberadaan mereka. Mereka mampu mempertahankan persahabatan akrab dalam waktu lama tanpa takut menjadi independen dan sendirian.

Preoccupied Attachment (Gaya Kelekatan Terikat)

Ditunjukkan oleh adanya pandangan negatif terhadap diri sendiri namun pandangan positif terhadap orang lain. Individu dengan tipe ini sangat tergantung pada hubungan dengan orang lain, dan cenderung menggunakan hubungan tersebut untuk meningkatkan rasa berharga dalam diri mereka dengan mencari nilai dan pendapat orang lain terhadap diri.

Dismissing Attachment (Gaya Kelekatan Lepas)

Ditunjukkan oleh adanya pandangan positif terhadap diri sendiri namun berpandangan negatif terhadap orang lain, sehingga individu tersebut akan menghindari keakraban dan menjadi tidak tergantung pada hubungan dengan orang lain. Mereka cenderung menghindari hubungan dekat dan mempertahankan kebebasan mereka.

Fearful Attachment (Gaya Kelekatan Cemas)

Ditunjukkan oleh adanya pandangan negatif terhadap diri sendiri dan pandangan negatif pula terhadap orang lain. Individu ini merasa cemas terhadap keakraban dan menghindar secara sosial — mereka tidak merasa dicintai dan yakin bahwa orang lain memberikan penolakan dan tidak dapat dipercaya, sehingga menghindari hubungan dekat sebagai cara melindungi diri dari penolakan yang sudah diantisipasi.

Selain model Bartholomew dan Horowitz di atas, literatur psikologi perkembangan internasional yang lebih dikenal luas (Mary Ainsworth; Main & Solomon, 1986) juga mengklasifikasikan kelekatan bayi menjadi kelekatan aman (secure) dan tiga jenis kelekatan tidak aman (insecure): avoidant, resistant/ambivalent, dan disorganized — kerangka inilah yang menjadi dasar istilah "Anxious," "Avoidant," dan "Disorganized" yang populer di masyarakat umum saat ini, meski berbeda dari model empat kategori yang secara spesifik dibahas dalam skripsi Rohmah.

Faktor yang Mempengaruhi Attachment Style

Rohmah, mengutip Ainsworth (dalam Feeney & Noller, 1996), mengidentifikasi tiga faktor utama yang memengaruhi pembentukan kelekatan — bukan "hubungan anak-pengasuh" dan "lingkungan sosial-budaya" secara umum seperti disebutkan sebelumnya.

Pengalaman Masa Lalu

Perlakuan orang tua dan orang-orang di sekitar individu akan memengaruhi dirinya dalam membangun kelekatan. Perpisahan atau kehilangan orang-orang yang disayangi, termasuk perceraian orang tua, juga menjadi aspek yang dapat membentuk kelekatan pada diri seseorang.

Faktor Keturunan

Keturunan dikatakan dapat memengaruhi pembentukan kelekatan karena kecenderungan anak untuk meniru orang tuanya — baik perilaku maupun emosi yang menyertainya — sehingga ketika beranjak remaja, model pembentukan kelekatan sedikit banyak akan mirip dengan orang tuanya.

Jenis Kelamin

Feeney dan Noller (1996, dikutip dalam Rohmah) menyatakan bahwa wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan pria dalam konteks hubungan, yang dapat memengaruhi kualitas hubungan dengan pasangan maupun dalam hubungan orang tua-anak.

Collins dan Read (dalam Feeney & Noller, 1996, dikutip dalam Rohmah) juga menambahkan bahwa gaya kelekatan dapat berubah secara signifikan akibat peristiwa dalam keluarga, seperti meninggalkan rumah, pernikahan, perceraian, atau meninggalnya pasangan.

Fase Perkembangan Kelekatan

Bowlby (dikutip dalam Carlson, 1984, dan Rohmah) menjelaskan bahwa bayi menggunakan beberapa cara untuk memberi sinyal pada pengasuhnya guna membangun kelekatan, yaitu melalui tangisan, tawa, gerakan menghisap, hingga jangkauan tangan dan gerakan merangkak/berjalan seiring bertambahnya usia. Perilaku kelekatan yang ditujukan secara khusus kepada pengasuh baru mulai tampak secara pasti setelah bayi berusia sekitar 6 bulan, ketika bayi sudah mampu mengenali pengasuhnya dalam berbagai situasi.

Strategi Meningkatkan Gaya Kelekatan

Rohmah, mengutip Papalia dkk. (2008), menjelaskan dua aspek utama yang perlu ditingkatkan untuk mengembangkan gaya kelekatan yang aman: sensitivitas figur (seberapa besar kepekaan figur lekat terhadap kebutuhan individu) dan responsivitas figur (bagaimana figur lekat menanggapi kebutuhan individu tersebut secara berkesinambungan dan konsisten).

Pentingnya Attachment Style dalam Kehidupan Sehari-hari

Attachment style membawa dampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan personal hingga dunia pendidikan.

Dampak Attachment Style pada Hubungan Interpersonal

Pola kelekatan yang sehat memudahkan seseorang menjalin hubungan harmonis dengan pasangan, teman, atau rekan kerja. Sebaliknya, Santrock (2007, dikutip dalam Rohmah) menjelaskan bahwa kelekatan tidak aman (insecure attachment) secara teoretis berkaitan dengan kesulitan berhubungan dan masalah-masalah perkembangan selanjutnya — misalnya, remaja yang memiliki konflik dengan figur lekatnya dapat mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan serta ketergantungan berlebihan pada orang lain.

Attachment Style dalam Konteks Pendidikan dan Pengasuhan

Dalam dunia pendidikan dan pengasuhan, pemahaman tentang attachment style membantu guru dan orang tua menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara emosional. Cassidy dan Berlin (dikutip dalam Rohmah) menemukan bahwa figur lekat yang mengembangkan insecure attachment pada anak cenderung menunjukkan karakteristik seperti tidak responsif terhadap kebutuhan anak (unavailable dan rejecting), jarang melakukan kontak fisik yang hangat, sering marah atau membentak, serta tidak konsisten dalam menerapkan perilaku terhadap anak.

Kesimpulan

Attachment style adalah konsep yang menggambarkan pola hubungan emosional seseorang, mulai dari masa anak-anak hingga dewasa. Berdasarkan model Bartholomew dan Horowitz (1991) yang dibahas dalam skripsi Rohmah, terdapat empat tipe utama attachment style — secure, preoccupied, dismissing, dan fearful — yang dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, faktor keturunan, dan jenis kelamin. Dengan memahami tipe-tipe ini serta cara meningkatkan sensitivitas dan responsivitas figur lekat, seseorang dapat mengenali cara terbaik membangun relasi yang sehat. Pengetahuan ini juga bermanfaat dalam membentuk karakter dan kemampuan sosial individu sepanjang hayat.