Barbara Fredrickson: Karier dan Teorinya dalam Psikologi Positif
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Barbara Fredrickson dikenal luas berkat kontribusinya dalam bidang psikologi positif, terutama melalui riset tentang emosi positif dan kesejahteraan. Karier akademiknya serta teori yang ia kembangkan menjadi rujukan penting di dunia psikologi. Artikel ini membahas perjalanan karier, teori, dan dampak pemikirannya bagi masyarakat luas, termasuk kajian kritis mengenai hubungannya dengan eudaimonia Aristotelian sebagaimana dianalisis oleh Pia Valenzuela.
Profil Singkat Barbara Fredrickson
Nama Barbara Fredrickson sudah lama menjadi perhatian dalam psikologi. Latar belakang pendidikannya yang kuat membawanya ke posisi strategis di berbagai institusi akademik.
Latar Belakang Pendidikan dan Awal Karier
Barbara Fredrickson adalah psikolog sosial Amerika yang menempuh pendidikan di Carleton College (B.A.) dan University of Michigan (Ph.D.), di mana ia kemudian mengembangkan riset tentang emosi positif. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam gerakan psikologi positif yang berkembang pesat sejak akhir tahun 1990-an. Fredrickson menghindari penggunaan istilah "kebahagiaan" karena maknanya yang ambigu. Dalam tulisan berjudul Fredrickson on Flourishing through Positive Emotion sand Aristotle’s Eudaimonia, Ia lebih memilih berbicara tentang human flourishing sebagai sesuatu yang melampaui kebahagiaan karena mencakup keduanya: feeling good dan doing good (Valenzuela, 2022, mengutip Fredrickson, Positivity, 2009).
Posisi dan Pencapaian Akademik
Fredrickson menjabat sebagai Kenan Distinguished Professor di Departemen Psikologi dan Ilmu Saraf, University of North Carolina at Chapel Hill. Ia memimpin Lab Emosi Positif dan Psikofisilogi (Positive Emotions and Psychophysiology Lab/PEPLab) dan merupakan salah satu peneliti paling dikutip dalam psikologi positif. Bukunya Positivity (2009) menjadi referensi luas dalam literatur psikologi kesejahteraan.
Kontribusi Karier Barbara Fredrickson
Kiprah Fredrickson memberi warna baru pada pemahaman tentang emosi. Ia menyoroti betapa pentingnya sisi positif dalam kehidupan manusia, yang kini menjadi landasan berbagai intervensi psikologis.
Penelitian Utama di Bidang Emosi Positif
Fredrickson mendasarkan argumentasinya pada beberapa eksperimen korelasional prospektif dan eksperimen longitudinal yang dirandominisasi. Hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengalaman harian dari emosi-emosi positif meramalkan dan menghasilkan pertumbuhan dalam sumber daya personal seperti kompetensi, makna hidup, optimisme, ketahanan, penerimaan diri, hubungan sosial positif, serta kesehatan fisik (Valenzuela, 2022).
Kebaruan dalam pendekatan Fredrickson adalah argumen bahwa mengalami emosi positif dan merasa baik tidak sekadar menunjukkan kehadiran human flourishing. Melampaui menjadi satu dimensi dari flourishing, emosi positif juga mendorong perkembangan dan pemeliharaannya. Ia merujuk pada banyak penanda fungsi optimal atau eudaimonic well-being yang dapat dipahami sebagai sumber daya personal yang tahan lama yang membantu orang menghadapi keadaan yang berubah dalam kehidupan (Valenzuela, 2022).
Pengaruh Karyanya terhadap Dunia Psikologi
Karya Fredrickson telah digunakan sebagai referensi oleh banyak peneliti dan praktisi. Teori Broaden-and-Build menjadi fondasi berbagai program intervensi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis. Seligman dan Csikszentmihalyi (2000) dalam Positive Psychology: An Introduction., — artikel yang melahirkan gerakan psikologi positif modern — menempatkan riset Fredrickson sebagai salah satu pilar utama pemahaman kontemporer tentang kesejahteraan.
Teori Barbara Fredrickson tentang Emosi Positif
Teori yang ia kembangkan sangat berpengaruh dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu teori utamanya adalah Broaden-and-Build Theory yang dikenal luas di kalangan psikolog.
Broaden-and-Build Theory: Prinsip Dasar
Teori Broaden-and-Build menjelaskan bahwa emosi positif seperti kegembiraan, minat, dan cinta memiliki atribut kognitif unik yang tidak hanya menjadi akses epistemis terhadap kesejahteraan tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan dengan membangun sumber daya (Valenzuela, 2022). Sumber daya yang dibangun bersifat tahan lama — berbeda dari emosi itu sendiri yang bersifat sementara — mencakup kompetensi, optimisme, ketahanan, dan hubungan sosial yang positif.
Fredrickson juga mengidentifikasi undoing effect (efek pemulihan): emosi positif mempercepat pemulihan kardiovaskular dari emosi negatif, sebagaimana ditunjukkan oleh Fredrickson dan Levenson (1998) dalam Positive Emotions Speed Recovery from the Cardiovascular Sequelae of Negative Emotions. Selain itu, ia memperkenalkan konsep upward spirals: emosi positif dan sumber daya yang dibangunnya saling memperkuat dalam spiral yang menanjak menuju flourishing yang lebih besar (Garland, Fredrickson dkk., 2010, dikutip dalam Valenzuela, 2022).
Implikasi Teori dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam praktik, teori ini mendorong individu untuk lebih sering memupuk perasaan positif melalui aktivitas seperti meditasi cinta-kasih (loving-kindness meditation), praktik bersyukur, dan membangun koneksi sosial bermakna. Merasa baik tidak sekadar duduk berdampingan dengan fungsi optimal sebagai indikator flourishing; merasa baik mendorong fungsi optimal dengan membangun sumber daya personal yang tahan lama yang menjadi modal seseorang menjalani perjalanan hidup dengan lebih sukses (Valenzuela, 2022).
Hubungan Teori dengan Eudaimonia Aristotelian
Valenzuela (2022) menganalisis secara kritis hubungan antara teori Fredrickson dan eudaimonia Aristotelian. Pemahaman Fredrickson tentang hedonic well-being mencakup kepuasan global individu terhadap kehidupan beserta afek yang menyenangkan. Sebaliknya, eudaimonic well-being mencakup rasa tujuan dan makna serta ketahanan dan integrasi sosial mereka (Valenzuela, 2022, mengutip Fredrickson, 2013).
Human flourishing melibatkan aspek hedonis dan eudaimonis: konstruk ini mencakup keduanya, yaitu merasa baik (hedonia) dan berfungsi secara efektif (eudaimonia), dan dalam hal ini merupakan cermin berlawanan dari gangguan mental umum seperti depresi dan kecemasan (Valenzuela, 2022).
Namun Valenzuela (2022) mengkritik bahwa pemahaman eudaimonia Fredrickson berbeda dari pendekatan yang didasarkan langsung pada eudaimonia Aristotelian. Eudaimonia Aristoteles mencakup aspek-aspek seperti merasa baik dan beberapa kondisi eksternal — dan terutama hidup yang baik sesuai dengan potensi tertinggi manusia, yaitu kehidupan menurut keunggulan atau virtus. Dalam pendekatan Fredrickson tidak ada referensi pada kehidupan yang baik yang terhubung dengan kebaikan manusia sebagaimana dalam etika Aristoteles. Namun, ada pemahaman tentang menjadi seseorang yang dermawan (benevolent), seseorang yang lebih baik, sebagai aspirasi manusia yang diperlukan (Valenzuela, 2022).
Dampak dan Relevansi Teori Fredrickson Saat Ini
Teori Broaden-and-Build telah menjadi dasar berbagai program intervensi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis, termasuk program mindfulness, terapi berbasis kekuatan, dan intervensi emosi positif dalam konteks kesehatan dan pendidikan. Tugade dan Fredrickson (2004) dalam Resilient Individuals Use Positive Emotions to Bounce Back from Negative Emotional Experiences, membuktikan bahwa individu yang tangguh (resilient) menggunakan emosi positif untuk bangkit kembali dari pengalaman emosional negatif — mendukung relevansi klinis teori ini.
Tantangan yang diidentifikasi oleh Valenzuela (2022) mencakup perdebatan tentang apakah teori Fredrickson benar-benar mencakup dimensi eudaimonia yang penuh — terutama dimensi moral-etis yang tidak dapat direduksi ke fungsi psikologis semata. Kritik lain datang dari konteks budaya yang berbeda dalam merespons emosi positif.
Kesimpulan
Barbara Fredrickson memperkaya dunia psikologi dengan teori tentang emosi positif yang mudah diterapkan dan berdasarkan bukti empiris yang kuat. Teori Broaden-and-Build menjelaskan bagaimana emosi positif tidak hanya mencerminkan flourishing tetapi juga secara aktif membangun sumber daya personal yang tahan lama melalui spiral ke atas. Analisis kritis Valenzuela (2022) menunjukkan bahwa sementara teori Fredrickson mencakup dimensi eudaimonic well-being, pendekatan ini berbeda dari konsep eudaimonia Aristotelian yang penuh karena tidak secara eksplisit menyentuh dimensi moral-etis dan virtus. Sampai saat ini, gagasan Fredrickson tetap menjadi pijakan penting dalam praktik psikologi modern.