Konten dari Pengguna

Bernard Weiner: Teori Attribution Theory of Motivation and Emotion

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Motivasi. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Motivasi. Gambar: Pexels.

Bernard Weiner dikenal luas dalam dunia psikologi berkat kontribusinya pada teori atribusi, khususnya dalam bidang motivasi dan emosi. Teori ini telah memengaruhi cara banyak orang memandang penyebab dari perilaku dan perasaan manusia. Artikel ini membahas perjalanan karier Bernard Weiner, konsep utama dalam teori atribusinya, serta dampaknya dalam psikologi modern.

Mengenal Bernard Weiner

Dalam sebuah bab buku dengan judul Attribution Theory and Motivation yang ditulis oleh Paul Harvey, PhD, dan Mark J. Martinko, PhD , Bernard Weiner (1985) dikenal atas kontribusinya yang menegaskan bahwa atribusi terhadap perilaku dan hasil (outcomes) pada akhirnya membentuk respons emosional dan perilaku seseorang. Kontribusi ini menjadi fondasi pemahaman hubungan antara persepsi kausal, emosi, dan motivasi dalam psikologi sosial.

Profil Singkat Bernard Weiner

Bernard Weiner (lahir 1935) adalah psikolog Amerika yang dikenal atas kontribusinya dalam teori atribusi, khususnya dalam menjelaskan hubungan antara motivasi dan emosi. Ia menjabat sebagai profesor di University of California, Los Angeles (UCLA) sejak 1965 dan menghasilkan berbagai karya penting, termasuk An Attributional Theory of Achievement Motivation and Emotion (1985) serta An Attributional Theory of Motivation and Emotion (1986).

Teori Atribusi Bernard Weiner

Berdasarkan kajian Harvey dan Martinko , inti dari teori atribusi Weiner adalah dua dimensi utama dalam mengklasifikasikan penyebab suatu peristiwa:

Dimensi pertama: Locus of Causality

Menggambarkan internalitas atau eksternalitas suatu atribusi. Atribusi internal terjadi ketika seseorang mengaitkan hasil dengan faktor dirinya sendiri (kemampuan, usaha, kepribadian), sementara atribusi eksternal mengaitkan hasil dengan kondisi lingkungan. Dimensi ini terutama memengaruhi reaksi emosional: atribusi internal untuk peristiwa negatif sering dikaitkan dengan emosi negatif berfokus diri seperti rasa bersalah (guilt) dan malu (shame), sedangkan atribusi eksternal untuk peristiwa yang sama dikaitkan dengan emosi berfokus luar seperti marah (anger) dan dendam (resentment) (Weiner, 1985, dalam Harvey & Martinko).

Dimensi kedua: Stability

Menggambarkan apakah penyebab bersifat stabil (konsisten dari waktu ke waktu) atau tidak stabil (mudah berubah). Penyebab stabil seperti kecerdasan sulit diubah; penyebab tidak stabil seperti usaha relatif mudah diubah. Berbeda dari dimensi pertama, dimensi stabilitas terutama memengaruhi ekspektasi masa depan individu. Ketika kinerja buruk diatribusikan ke penyebab stabil (kecerdasan rendah), seseorang tidak akan berharap kinerjanya akan membaik; sebaliknya, jika diatribusikan ke penyebab tidak stabil (kurang usaha), ada harapan perbaikan di masa mendatang (Harvey & Martinko).

Selain kedua dimensi ini, Weiner (1995) juga mengklasifikasikan atribusi berdasarkan dimensi kontrol (controllability) — yakni sejauh mana individu dapat mengendalikan penyebab tersebut (Harvey & Martinko).

Aplikasi Teori Atribusi pada Motivasi dan Emosi

Teori ini digunakan untuk memahami mengapa seseorang merasa termotivasi atau justru kehilangan motivasi setelah suatu peristiwa. Hubungan antara atribusi, emosi, dan perilaku digambarkan sebagai proses berantai (attribution–emotion–behavior process) oleh Harvey dan Martinko. Cara individu mengaitkan hasil dengan penyebab tertentu secara langsung memengaruhi emosi seperti rasa bersalah, malu, marah, atau dendam — yang pada gilirannya menentukan respons perilaku berikutnya.

Contoh Penerapan Teori Atribusi

Misalnya, ketika seorang dokter salah mendiagnosis pasien dan mengaitkan kesalahan tersebut dengan kekurangcermatan dirinya (atribusi internal-stabil), ia lebih mungkin mengalami kecemasan, penurunan kepercayaan diri, dan learned helplessness. Sebaliknya, dokter yang mengaitkan kesalahan yang sama dengan faktor eksternal yang tidak stabil (informasi yang tidak lengkap dari pasien, keterbatasan waktu) cenderung lebih optimis tentang prospek diagnostik masa depannya (Harvey & Martinko). Penilaian ini menentukan reaksi emosional dan tindakan ke depan.

Relevansi dalam Pendidikan dan Psikologi Modern

Gagasan Weiner tentang atribusi terus digunakan dalam penelitian psikologi, pendidikan, dan konseling. Graham (2020) dalam tinjauan komprehensif di Contemporary Educational Psychology mendokumentasikan pengaruh teori Weiner selama lebih dari 35 tahun dalam penelitian motivasi belajar dan intervensi pendidikan. Di lingkungan kerja, Harvey dan Martinko merekomendasikan attributional training sebagai teknik praktis untuk manajer — membantu karyawan memahami pola atribusi mereka dan mengoreksi bias yang menghambat motivasi.

Kesimpulan

Bernard Weiner memberikan sumbangsih besar dalam dunia psikologi, terutama melalui teori atribusi yang menyoroti hubungan antara cara berpikir kausal, motivasi, dan emosi. Melalui dua dimensi utama — locus of causality dan stability — teori ini menjelaskan bagaimana persepsi seseorang terhadap penyebab keberhasilan dan kegagalan membentuk respons emosional dan perilaku berikutnya.