Konten dari Pengguna

Black and White Thinking: Pengertian dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi black and white thinking. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi black and white thinking. Foto Unsplash.

Polarisasi cara berpikir sering kali memengaruhi cara seseorang menilai situasi di sekitar. Salah satu pola kognitif yang cukup umum ditemukan adalah black and white thinking, atau pola pikir hitam-putih. Pola ini dapat berpengaruh pada banyak aspek kehidupan, mulai dari hubungan pribadi hingga pekerjaan.

Apa Itu Black and White Thinking?

Black and white thinking merupakan kecenderungan melihat segala sesuatu dalam dua kutub ekstrem tanpa mempertimbangkan area abu-abu di antaranya.

Menurut Jeremy Shapiro, Ph.D. dalam artikel web Psychology Today berjudul “How to Assess Black-&-White Thinking in Yourself and Others”, black-and-white thinking merupakan pola pikir terpolarisasi atau all-or-none yang membuat seseorang sulit melihat area tengah, sehingga realitas yang rumit dan bernuansa dipahami melalui pilihan-pilihan ekstrem yang sederhana.

Definisi dan Ciri-ciri Black and White Thinking

Pola pikir ini umumnya ditandai dengan penilaian yang mutlak. Seseorang yang menerapkan pola ini cenderung menganggap sesuatu hanya benar atau salah, tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain. Akibatnya, respons terhadap situasi bisa menjadi sangat kaku.

Mengapa Pola Pikir Ini Muncul?

Black and white thinking sering terbentuk sejak dini akibat pengalaman atau ajaran lingkungan. Selain itu, tekanan emosional dan keinginan mencari kepastian juga dapat memicu munculnya pola ini. Pola ini bisa jadi terasa lebih sederhana karena menawarkan kepastian.

Dampak Black and White Thinking pada Kehidupan

Pola pikir hitam-putih dapat memengaruhi penilaian diri sendiri, relasi, dan keputusan penting. Menurut Jeremy Shapiro, Ph.D. dalam artikel web Psychology Today “How to Assess Black-&-White Thinking in Yourself and Others”, black-and-white thinking membuat seseorang sulit melihat area tengah dalam situasi sulit, sehingga ia cenderung terpaku pada pilihan ekstrem yang dapat menimbulkan emosi dan perilaku maladaptif serta masalah dalam kehidupan dan hubungan.

Contoh Black and White Thinking dalam Kehidupan Sehari-hari

Penerapan black and white thinking bisa ditemui dalam banyak aspek kehidupan. Baik dalam hubungan pribadi, lingkungan sosial, hingga dunia kerja, pola ini sering muncul tanpa disadari.

Contoh di Lingkungan Pribadi dan Sosial

Di lingkungan sosial, orang yang berpikir hitam-putih cenderung menilai teman sebagai “baik” atau “jahat” tanpa memahami alasan di balik tindakan mereka. Hal ini juga bisa terjadi dalam keluarga ketika seseorang dianggap “selalu benar” atau “selalu salah”.

Contoh dalam Dunia Kerja dan Pendidikan

Di dunia kerja, pola pikir ini tampak dalam penilaian kinerja yang ekstrem, seperti menganggap rekan kerja “hebat” atau “tidak berguna”. Pada lingkungan pendidikan, siswa bisa merasa dirinya “pintar” atau “bodoh” berdasarkan satu hasil ujian tanpa melihat proses belajar.

Dampak Negatif dari Contoh Tersebut

Dampak dari black and white thinking dapat berupa kesalahpahaman, stres, hingga menurunnya rasa percaya diri. Artikel yang sama dari Psychology Today menuliskan bahwa cara berpikir seperti ini bisa menyebabkan penilaian diri yang terlalu keras dan konflik dalam hubungan.

Cara Mengenali dan Mengatasi Black and White Thinking

Mengenali pola pikir hitam-putih menjadi langkah awal untuk memperbaiki kualitas hidup. Menyadari keberadaannya dapat membuka jalan menuju cara berpikir yang lebih seimbang.

Tanda-Tanda Anda Mengalaminya

Beberapa ciri yang bisa dikenali antara lain sering menilai diri atau orang lain secara ekstrem, mudah kecewa ketika harapan tidak sesuai, dan jarang mempertimbangkan kemungkinan lain.

Tips Mengurangi Pola Pikir Hitam-Putih

Untuk mengurangi pola pikir ini, cobalah melihat berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan. Latihan refleksi diri dan berdiskusi dengan orang yang berpikiran terbuka juga dapat membantu.

Manfaat Berpikir Lebih Fleksibel

Berpikir lebih fleksibel membantu seseorang lebih mudah beradaptasi, membina hubungan yang sehat, dan menerima kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Seperti yang disarankan Psychology Today, langkah awal untuk mengubah black-and-white thinking adalah mengidentifikasi spektrum masalah, menilai posisi diri pada spektrum tersebut, dan menentukan titik perubahan yang lebih seimbang.

Kesimpulan

Black and white thinking dapat memengaruhi cara seseorang menilai situasi dan berinteraksi dengan orang lain. Pola pikir ini sering muncul tanpa disadari, namun bisa diatasi dengan kesadaran diri dan latihan berpikir lebih fleksibel. Dengan memahami dan mengurangi black and white thinking, kualitas hubungan dan keputusan sehari-hari bisa menjadi lebih baik.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Kognitif dan Pola Pikir: Cara Kerja Pikiran yang Membentuk Hidup