Burnout Adalah: Pengertian, Perbedaan dengan Stres, dan Faktor Penyebabnya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Burnout kerap menjadi istilah yang sering diperbincangkan saat seseorang merasa kelelahan akibat tekanan pekerjaan atau rutinitas. Kondisi ini bisa memengaruhi kinerja, mental, bahkan kesehatan fisik jika tidak diatasi sejak awal. Agar dapat mengenali dan mencegahnya, penting memahami apa itu burnout, bagaimana perbedaannya dengan stres, serta apa saja faktor penyebabnya.
Pengertian Burnout
Istilah burnout sering digunakan untuk menggambarkan kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat tekanan berkepanjangan. Menurut skripsi Deci Wahyu Purnamawati, Perbedaan Burnout pada Karyawan Ditinjau dari Tipe Kepribadian Ekstrovert-Introvert, burnout adalah keadaan stres secara psikologis yang sangat ekstrem sehingga individu mengalami kelelahan emosional dan motivasi yang rendah untuk bekerja, yang dapat merupakan akibat dari stres kerja yang kronis (King, 2010, dikutip dalam Purnamawati). Spector (1996, dikutip dalam Purnamawati) menambahkan bahwa burnout adalah keadaan tekanan psikologis seorang karyawan setelah berada di pekerjaan tersebut untuk jangka waktu tertentu, ditandai kelelahan emosional dan motivasi kerja yang rendah.
Burnout Itu Artinya Apa?
Secara sederhana, burnout itu artinya seseorang merasa habis energi, kehilangan semangat, dan mulai tidak peduli terhadap pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Sering kali, kondisi ini datang setelah seseorang menghadapi tekanan hebat dalam jangka waktu lama. Davis dan John (1985, dikutip dalam Purnamawati) menjelaskan bahwa burnout merupakan situasi ketika karyawan menderita kelelahan kronis, kebosanan, depresi, dan menarik diri dari pekerjaan — pekerja yang terkena burnout lebih gampang mengeluh, menyalahkan orang lain bila ada masalah, lekas marah, dan menjadi sinis tentang karier mereka.
Tiga Dimensi Burnout
Maslach, Schaufeli, dan Leiter (dikutip dalam Rizka, 2013, dikutip dalam Purnamawati) merumuskan tiga dimensi burnout:
Kelelahan Emosional (Emotional Exhaustion): perasaan lelah dan letih di tempat kerja. Ketika seseorang mengalami exhaustion, mereka akan merasakan energinya seperti terkuras habis dan ada perasaan "kosong" yang tidak dapat teratasi lagi.
Depersonalisasi (Depersonalization): pengembangan perasaan sinis dan tak berperasaan terhadap orang lain, berupa sikap sinis terhadap orang-orang di lingkup pekerjaan dan kecenderungan menarik diri serta mengurangi keterlibatan dalam bekerja — perilaku ini menjadi upaya melindungi diri dari perasaan kecewa.
Penurunan Pencapaian Prestasi Pribadi: biasanya ditandai perasaan tidak puas terhadap diri sendiri, pekerjaan, bahkan kehidupan, yang disebabkan oleh perasaan bersalah telah memperlakukan orang lain di sekitarnya secara negatif.
Ciri-ciri Burnout
Beberapa ciri utama burnout antara lain mudah lelah, sulit berkonsentrasi, muncul perasaan sinis, hingga mengalami penurunan prestasi kerja — sejalan dengan ketiga dimensi di atas. Tidak jarang juga disertai gangguan tidur dan menurunnya kepuasan terhadap diri sendiri maupun pekerjaan, sebagaimana dijelaskan Maslach dan Leiter (dikutip dalam Rizka, 2013, dikutip dalam Purnamawati): burnout dapat mengakibatkan timbulnya rasa cemas, depresi, atau bahkan gangguan tidur.
Perbedaan Burnout dan Stres
Burnout sering dianggap sama dengan stres, padahal ada perbedaan yang cukup jelas. Burnout dapat merupakan akibat dari stres kerja yang kronis (King, 2010, dikutip dalam Purnamawati), sehingga burnout secara konseptual berkaitan erat dengan stres yang berkepanjangan, bukan kondisi yang sepenuhnya terpisah.
Apa Bedanya Stres dan Burnout?
Stres umumnya mendorong seseorang untuk tetap menyelesaikan tugas, walau merasa tertekan. Sementara itu, burnout menyebabkan individu merasa tidak berdaya dan akhirnya menarik diri dari tanggung jawab — Lefton (1997, dikutip dalam Purnamawati) menjelaskan bahwa orang-orang yang menghadapi kondisi tekanan tinggi setiap hari sering merasa lemah, putus asa, dan emosional terkuras, dan akhirnya dapat berhenti mencoba.
Dampak Burnout vs Dampak Stres
Stres dapat menyebabkan ketegangan fisik atau emosi, namun bila dikelola bisa hilang. Lain halnya dengan burnout yang berisiko memicu masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan tidur, atau menurunnya produktivitas dalam jangka panjang (Maslach & Leiter, dikutip dalam Rizka, 2013, dikutip dalam Purnamawati).
Faktor Penyebab Burnout
Burnout dipicu oleh banyak faktor yang saling terkait, baik dari dalam diri maupun lingkungan sekitar. Purnamawati merujuk pada dua kerangka faktor yang saling melengkapi.
Faktor Kepribadian dan Lingkungan
Kepribadian ekstrovert dan introvert juga berperan dalam tingkat risiko burnout. Seperti dijelaskan Purnamawati, karyawan dengan tipe kepribadian introvert cenderung menarik diri dan menyendiri, terutama dalam keadaan emosional dan sedang menghadapi masalah atau konflik, sehingga permasalahan yang dihadapinya akan menumpuk tanpa ada pemecahan masalah yang didapatnya — kondisi ini membuat mereka lebih mudah terkena kelelahan emosional yang tinggi, depersonalisasi, serta penurunan pencapaian prestasi pribadi yang tinggi. Sebaliknya, karyawan bertipe ekstrovert lebih mudah bersosialisasi dan mempunyai banyak teman, sehingga lebih mudah mengatasi masalah dengan berbagi cerita, tidak mudah memendam masalah, dan cenderung memiliki risiko kelelahan emosional yang lebih rendah — sejalan dengan temuan penelitian Arifianti (2008, dikutip dalam Purnamawati) bahwa karyawan berkepribadian ekstrovert dengan beban kerja berlebihan cenderung lebih rendah kemungkinannya mengalami burnout dibandingkan karyawan introvert yang cenderung tertutup dan memendam permasalahan.
Faktor Organisasi dan Individu
Purnamawati merujuk pada dua kerangka faktor yang lebih spesifik daripada sekadar "perfeksionisme dan kurangnya waktu istirahat" seperti disebutkan sebelumnya. Menurut Sihotang (2004, dikutip dalam Purnamawati), terdapat dua faktor yang memengaruhi munculnya burnout: faktor eksternal, meliputi lingkungan kerja psikologis yang kurang baik, kurangnya kesempatan untuk promosi, imbalan yang diberikan tidak mencukupi, kurangnya dukungan sosial dari atasan, tuntutan pekerjaan, dan pekerjaan yang monoton; serta faktor internal, meliputi usia, jenis kelamin, harga diri, dan karakteristik kepribadian. Selain itu, Maslach dkk. (dikutip dalam Widiastuti & Astuti, 2008, dikutip dalam Purnamawati) menyebutkan faktor situasional (beban kerja yang berlebihan, minimnya fasilitas, dan kurangnya dukungan sosial) serta faktor individual (karakteristik demografi seperti usia dan jenis kelamin, serta karakteristik kepribadian).
Kesimpulan
Memahami burnout adalah langkah awal untuk menjaga kesehatan mental dan produktivitas. Berdasarkan skripsi Purnamawati, burnout terdiri atas tiga dimensi — kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian prestasi pribadi (Maslach, Schaufeli, & Leiter, dikutip dalam Rizka, 2013) — yang dipengaruhi oleh faktor eksternal/situasional (lingkungan kerja, beban kerja, dukungan sosial) dan faktor internal/individual (usia, jenis kelamin, harga diri, serta tipe kepribadian ekstrovert-introvert). Mengenali perbedaan burnout dan stres membantu mencari solusi paling tepat sebelum dampaknya semakin parah. Jika mulai merasakan gejala burnout, coba atur ulang prioritas, perbaiki pola istirahat, dan jangan ragu meminta dukungan dari lingkungan sekitar.