Character Building adalah Kunci Pembentukan Karakter
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Character building adalah proses yang bertujuan membentuk kepribadian dan moral seseorang sejak dini. Konsep ini semakin mendapat perhatian karena diyakini dapat menciptakan generasi yang berintegritas dan siap menghadapi tantangan hidup. Pemahaman yang tepat tentang pengertian character building serta faktor yang memengaruhinya sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Character Building
Character building merujuk pada upaya sadar untuk membentuk, membina, dan mengembangkan karakter seseorang agar menjadi individu yang berakhlak mulia. Menurut St. Rahmatiah dalam Character Building (Pembangunan Karakter) (2021), dalam konteks pendidikan (Modul Diklat LAN RI, dikutip dalam Rahmatiah), membangun karakter (character building) adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki, dan/atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak (budi pekerti) insan manusia (masyarakat), sehingga menunjukkan perangai dan tingkah laku yang baik berlandaskan nilai-nilai agama dan Pancasila.
Definisi Character Building Menurut Para Ahli
Beberapa ahli mendefinisikan character building sebagai proses sistematis yang menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam diri seseorang. Rahmatiah menjelaskan bahwa secara etimologi, istilah karakter berasal dari bahasa Latin character, yang berarti watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian, dan akhlak. Secara terminologi, karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Proses ini berlangsung terus-menerus dan dipengaruhi oleh berbagai aspek lingkungan.
Tujuan Utama Character Building
Tujuan utama dari character building adalah menciptakan individu yang dapat bertindak sesuai norma sosial, memiliki integritas, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat di sekitarnya. Rahmatiah menjelaskan bahwa tujuan pembangunan karakter adalah untuk mengembangkan karakter bangsa agar mampu mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila — berfungsi untuk mengembangkan potensi dasar agar berbaik hati, berpikiran baik, dan berperilaku baik; memperbaiki perilaku yang kurang baik dan menguatkan perilaku yang sudah baik; serta menyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Dengan demikian, character building bukan sekadar pembentukan perilaku, melainkan juga penguatan nilai batin.
Tiga Lapis Pendidikan Karakter
Rahmatiah menjelaskan tiga lapis (layer) pendidikan karakter: (1) menumbuhkan kesadaran sebagai sesama makhluk Tuhan, yang menumbuhkan rasa saling menghargai, menyayangi, dan kejujuran; (2) membangun dan menumbuhkan karakter keilmuan, yang sangat ditentukan oleh keingintahuan (kuriositas) intelektual sejak pendidikan usia dini, melahirkan kreativitas, inovasi, dan produktivitas; dan (3) menumbuhkan karakter yang mencintai dan bangga sebagai bangsa Indonesia, yang memacu semangat untuk berprestasi setinggi-tingginya.
Pentingnya Character Building dalam Kehidupan
Character building sangat penting dalam membentuk perilaku yang konsisten dan bertanggung jawab. Individu yang memiliki karakter kuat cenderung lebih mudah beradaptasi, menjaga hubungan baik, dan mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai situasi.
Faktor yang Memengaruhi Character Building
Rahmatiah (mengutip Djamika Rahmat, Sistem Etika Islam, 1987) sebenarnya mengelompokkan faktor pembentuk karakter menjadi dua kategori spesifik, bukan empat kategori generik seperti "keluarga, pendidikan, sosial-budaya, dan faktor internal" seperti disebutkan sebelumnya.
Faktor dari Dalam Diri
Faktor dari dalam diri meliputi lima hal: insting, kepercayaan, keinginan, hati nurani, dan hawa nafsu.
Faktor dari Luar Diri
Faktor dari luar diri meliputi empat hal: lingkungan, rumah tangga dan sekolah, pergaulan teman dan sahabat, serta penguasa atau pemimpin. Selain itu, Rahmatiah menjelaskan bahwa pembentukan karakter didapatkan dan diimplementasikan melalui empat lingkungan: lingkungan keluarga (home), lingkungan kerja kantor (business), lingkungan sekolah (school), dan lingkungan kerabat atau pergaulan (community) — bukan hanya "lingkungan keluarga, pendidikan, dan sosial-budaya" secara terpisah seperti disebutkan sebelumnya.
Nilai-Nilai dalam Pembangunan Karakter
Rahmatiah juga merinci nilai-nilai utama dalam pembangunan karakter: perjuangan, semangat, kebersamaan atau gotong royong, kepedulian atau solider, sopan santun, persatuan dan kesatuan, kekeluargaan, dan tanggung jawab. Selain itu, terdapat sejumlah nilai budaya yang dapat dijadikan karakter (Agus Zaenul Fitri, 2012, dikutip dalam Rahmatiah), yaitu ketakwaan, kearifan, keadilan, kesetaraan, harga diri, percaya diri, harmoni, kemandirian, kepedulian, kerukunan, ketabahan, kreativitas, kompetitif, kerja keras, keuletan, kehormatan, kedisiplinan, dan keteladanan.
Enam Tahap dalam Pembangunan Karakter
Dalam artikel Rahmatiah, terdapat enam tahap konkret dalam pembangunan karakter, yang dapat dicapai secara efektif melalui salat:
Relaksasi: mengistirahatkan pikiran secara berkala agar tetap peka dan mampu bekerja dengan hati serta pikiran yang jernih, sehingga tidak menunggu emosi meledak hingga titik jenuh baru menyadari kesalahan.
Membangun Kekuatan Afirmasi: mentransformasikan misi hidup melalui proses berkelanjutan, sehingga seseorang memiliki kesempatan berpikir jernih tentang dirinya dan menemukan solusi atas masalahnya.
Meningkatkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ): Rahmatiah mengutip Daniel Goleman bahwa kecerdasan emosional (EQ), berbeda dari IQ, dapat terus ditingkatkan sepanjang hidup — nilai dan watak dasar seseorang tidak berakar pada IQ, melainkan pada kemampuan emosional.
Membangun Pengalaman Positif: menciptakan pengalaman batiniah dan fisik yang mendorong paradigma ke arah positif, sebagai penyeimbang dampak lingkungan negatif terhadap hati dan pikiran.
Pembangkit dan Penyeimbang Energi Batiniah: menciptakan keseimbangan antara dorongan keinginan dan kenyataan, serta antara pikiran dan tindakan.
Pengasahan Prinsip: memperkuat karakter melalui delapan prinsip, meliputi pelatihan penjernihan emosi (Zero Mind Process), prinsip bintang (membangun ketenteraman, kebijaksanaan, kepercayaan diri, integritas, dan motivasi), prinsip kepercayaan, prinsip kepemimpinan, prinsip pembelajaran, prinsip visualisasi dan simulasi, prinsip keteraturan (kedisiplinan), serta ketangguhan sosial.
Pengaruh Sosial dan Budaya terhadap Character Building
Norma sosial, budaya, dan nilai yang berlaku di masyarakat sangat memengaruhi cara seseorang membentuk karakter. Interaksi sosial memberikan pengalaman nyata dalam menerapkan nilai-nilai tersebut.
Faktor Internal: Nilai, Sikap, dan Kepribadian Individu
Selain faktor eksternal, karakter juga dibentuk oleh faktor internal seperti nilai pribadi, sikap, dan kepribadian yang dimiliki sejak lahir atau berkembang seiring waktu — sejalan dengan lima faktor dari dalam diri (insting, kepercayaan, keinginan, hati nurani, hawa nafsu) yang dijelaskan Rahmatiah. Faktor ini menjadi penentu bagaimana seseorang merespons pengaruh dari luar.
Kesimpulan
Character building adalah strategi penting dalam membentuk kepribadian dan moral individu, yang menurut Rahmatiah (2021) melibatkan faktor dari dalam diri (insting, kepercayaan, keinginan, hati nurani, hawa nafsu) dan dari luar diri (lingkungan, rumah tangga-sekolah, pergaulan, kepemimpinan), serta dapat diimplementasikan melalui enam tahap konkret — mulai dari relaksasi hingga pengasahan prinsip. Dengan memahami dan menerapkan character building, setiap individu dapat berkembang menjadi pribadi yang berintegritas dan siap menghadapi tantangan kehidupan.