Konten dari Pengguna

Childhood Emotional Neglect dan Dampaknya pada Perkembangan Diri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Childhood Emotional Neglect. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Childhood Emotional Neglect. Foto Unsplash.

Banyak orang dewasa membawa luka emosional dari masa kecil tanpa menyadarinya. Salah satunya adalah pengalaman yang dikenal sebagai childhood emotional neglect, ketika kebutuhan emosi anak nyaris tidak tersentuh. Kondisi ini sering tersembunyi di balik keluarga yang tampak “baik-baik saja”.

Apa Itu Childhood Emotional Neglect?

Childhood Emotional Neglect (CEN) menggambarkan situasi ketika perasaan dan kebutuhan emosional anak tidak diakui, tidak ditanggapi, atau dianggap sepele.

Menurut Chatrine Tan dan Roswiyani dalam artikel jurnal ilmiah “Pengaruh Childhood Emotional Neglect terhadap Self-Expression pada Dewasa Awal” yang diterbitkan di PAEDAGOGY: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi pada 2026, Childhood Emotional Neglect terjadi ketika kebutuhan emosional anak, seperti perhatian, empati, dan validasi, tidak terpenuhi secara memadai. Kurangnya respons emosional dari orang tua dapat menghambat anak dalam mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi, serta dalam jangka panjang memengaruhi konsep diri, keterikatan, dan hubungan interpersonal.

Definisi dan Ciri-Ciri Childhood Emotional Neglect

CEN berbeda dengan kekerasan fisik atau verbal yang lebih jelas terlihat. Pengabaian emosional sering terjadi secara halus, misalnya orang tua hadir di rumah, tetapi jarang mendengarkan curhat anak atau menanggapi sedih dan marah dengan empati. Anak bisa saja dipenuhi kebutuhan materi, sedangkan kebutuhan untuk dipeluk, didengar, dan diyakinkan hampir tidak tersentuh. Lama-kelamaan, anak belajar bahwa perasaannya tidak penting dan terbiasa menekan emosi sendiri.

Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Childhood Emotional Neglect

Pola pengasuhan yang kaku dan otoriter sering menuntut anak patuh tanpa ruang untuk mengungkapkan perasaan. Di sisi lain, orang tua yang tumbuh dalam keluarga dingin secara emosional cenderung mengulang pola yang sama tanpa sadar.

Artikel jurnal ilmiah yang disebutkan sebelumnya menjelaskan bahwa kurangnya respons emosional, perhatian, empati, dan validasi dari orang tua dapat menghambat anak dalam mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara sehat. Pola ini dapat membentuk kecenderungan menekan emosi, menghindari ekspresi diri, serta memengaruhi konsep diri, keterikatan, dan hubungan interpersonal pada masa dewasa awal.

Dampak Childhood Emotional Neglect pada Dewasa Awal

Masa dewasa awal adalah fase ketika seseorang mulai membangun karier, relasi dekat, dan kemandirian. Pengalaman childhood emotional neglect yang tidak tersentuh sering muncul kembali dalam bentuk kesulitan mengenali dan menyampaikan perasaan. Di titik ini, banyak orang baru menyadari bahwa “ada yang mengganjal”, meski sulit menjelaskan apa.

Pengaruh Childhood Emotional Neglect terhadap Self-Expression

Dewasa awal yang tumbuh dengan CEN kerap kesulitan menamai emosi sendiri, sehingga cenderung memendam dan mengikuti arus.

Artikel ilmiah sebelumnya yang ditulis Chatrine Tan dan Roswiyani menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat Childhood Emotional Neglect yang dialami individu, semakin rendah kemampuan self-expression yang dimilikinya. Dalam konteks dewasa awal, kondisi ini dapat tampak sebagai kesulitan mengekspresikan pikiran, emosi, kebutuhan, dan identitas diri secara terbuka, serta kecenderungan menghindari keterbukaan emosional dalam hubungan interpersonal.

Konsekuensi Jangka Panjang dan Pentingnya Kesadaran Diri

Dalam jangka panjang, CEN dapat berkaitan dengan harga diri yang rapuh, kecenderungan menarik diri, dan rasa terasing meski dikelilingi banyak orang. Beberapa orang juga lebih rentan mengalami kecemasan atau gejala depresi karena terbiasa mengabaikan emosi yang menumpuk.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, memahami bahwa kesulitan mengekspresikan diri dapat berkaitan dengan pengalaman pengabaian emosional masa kecil membantu individu melihat pola emosinya secara lebih jelas. Artikel ini menekankan pentingnya mengenali dan memahami emosi, dukungan sosial, regulasi emosi, serta intervensi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan emosional dan pengembangan kemampuan ekspresi diri yang lebih sehat.

Kesimpulan

Childhood emotional neglect sering tidak terlihat, tetapi dampaknya terasa jelas ketika seseorang memasuki masa dewasa awal. Kesulitan mengekspresikan diri, rasa kosong, dan hubungan yang tidak memuaskan bisa berakar dari kebutuhan emosional yang diabaikan sejak kecil.

Mengenali pola childhood emotional neglect bukan untuk menyalahkan orang tua, melainkan untuk memahami diri dengan lebih jujur. Dengan kesadaran, edukasi emosi, dan dukungan yang tepat, pengalaman ini tetap bisa diolah menjadi titik awal perubahan menuju hubungan yang lebih hangat, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Healing: Proses Pulih dan Berdamai dengan Diri