Konten dari Pengguna

Childhood Trauma: Pengertian dan Kaitannya dengan Perilaku Agresi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Childhood Trauma. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Childhood Trauma. Gambar: Pexels.

Menghadapi pengalaman tidak menyenangkan di masa kecil bisa berdampak besar pada tumbuh kembang seorang anak. Childhood trauma adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan luka psikologis yang terbentuk akibat kejadian tertentu di usia dini, dan sering kali meninggalkan bekas hingga dewasa. Untuk memahami lebih jauh, mari simak penjelasan mengenai arti, penyebab, serta dampak dari trauma masa kanak-kanak.

Apa Itu Childhood Trauma?

Childhood trauma merujuk pada kondisi psikologis yang muncul akibat pengalaman buruk di masa kecil, seperti kekerasan fisik, penelantaran, atau kehilangan orang terdekat. Menurut The National Child Traumatic Stress Network (dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021 dalam Trauma Masa Anak-anak dan Perilaku Agresi), trauma masa anak-anak merupakan suatu kejadian yang menakutkan, berbahaya, atau penuh kekerasan yang mengancam kehidupan anak atau integritas tubuh, terjadi pada anak usia 0–18 tahun. Sementara menurut The National Institute of Mental Health (USA, dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021), trauma yang dialami anak merupakan pengalaman yang dialami anak dalam suatu peristiwa menyakitkan secara emosional atau tertekan, yang sering mengakibatkan efek mental dan fisik yang abadi.

Definisi Childhood Trauma Menurut Para Ahli

Para ahli sepakat bahwa trauma masa kanak-kanak adalah respons emosional terhadap peristiwa yang mengancam rasa aman dan kenyamanan anak. Trauma menurut Hutagalung, Hatta, dan Ishak (2013, dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021) adalah luka yang dialami seseorang, diakibatkan oleh sesuatu yang tidak terduga dan sangat menakutkan, seperti ancaman pembunuhan, kecelakaan, bencana alam, atau perang, yang membuat korban takut, cemas ekstrem, depresi, dan sedih. Trauma ini dapat memengaruhi kepercayaan diri dan hubungan sosial anak dalam jangka panjang. Tidak semua pengalaman dianggap traumatis oleh anak-anak — pengalaman hidup yang traumatis bagi satu anak mungkin tidak traumatis bagi yang lain, karena anak-anak menafsirkan pengalaman secara unik dan berbeda-beda.

Ciri-Ciri Anak Mengalami Trauma Masa Kecil

Beberapa tanda anak mengalami trauma antara lain sering merasa cemas, mudah marah, menarik diri dari lingkungan, atau mengalami gangguan tidur. Berdasarkan Child Welfare Information Gateway (2014, dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021), trauma dapat memengaruhi anak secara: tubuh (ketidakmampuan mengontrol respons fisik terhadap stres, penyakit kronis hingga dewasa); otak/berpikir (kesulitan berpikir, belajar, dan berkonsentrasi; memori yang rusak); emosi/perasaan (harga diri rendah, merasa tidak aman, ketidakmampuan mengatur emosi, kesulitan membentuk kelekatan, masalah pertemanan dan kepercayaan, depresi & kecemasan); serta perilaku (kurangnya kendali impuls, berkelahi, agresi, melarikan diri, penyalahgunaan zat, hingga bunuh diri). Anak juga bisa menunjukkan reaksi berlebihan terhadap situasi yang mengingatkan pada kejadian traumatis.

Penyebab Trauma Masa Kanak-Kanak

Penyebab childhood trauma sangat beragam, mulai dari faktor lingkungan hingga kejadian yang menimpa langsung anak. The National Child Traumatic Stress Network (dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021) merinci beberapa pengalaman yang dapat dimaknai sebagai traumatis bagi anak: pelecehan dan pengabaian fisik, seksual, atau psikologis (termasuk perdagangan manusia); bencana alam dan teknologi atau terorisme; kekerasan keluarga atau komunitas; kehilangan orang yang dicintai secara tiba-tiba atau dengan kekerasan; gangguan penggunaan zat (pribadi atau keluarga); pengungsi dan pengalaman perang; kecelakaan serius atau penyakit yang mengancam jiwa; serta stresor terkait keluarga militer.

Faktor Lingkungan dan Keluarga

Lingkungan tempat tinggal yang tidak aman, keluarga yang penuh konflik, atau kurangnya perhatian orang tua dapat memperbesar risiko anak mengalami trauma. Menurut Morin (2020, dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021), hampir semua peristiwa dapat dianggap traumatis bagi seorang anak jika terjadi secara tak terduga, berulang kali, dengan sengaja kejam, dan anak tidak siap menghadapinya. Anak membutuhkan lingkungan yang stabil agar bisa tumbuh secara optimal.

Pengalaman Kekerasan dan Penelantaran

Kekerasan fisik, verbal, atau penelantaran adalah penyebab umum trauma masa kecil. Berdasarkan data statistik yang dikutip dalam Nurhayati dan Setyani (2021): American Psychological Association (2008) memperkirakan tingkat menyaksikan kekerasan masyarakat berkisar 39–85%, dengan tingkat viktimisasi mencapai 66%. Penelitian Hillis, Mercy, dan Amobi (2016) menemukan estimasi minimum tingkat kekerasan pada anak-anak tahun 2014 mencapai 64% di Asia, 56% di Amerika Utara, 50% di Afrika, 34% di Amerika Latin, dan 12% di Eropa — secara global, lebih dari 1 miliar anak mengalami kekerasan selama 2014. Di Indonesia, berdasarkan laporan UNICEF (2015, dikutip dalam Kemenkes RI, 2018), 40% anak usia 13–15 tahun melaporkan pernah mendapat serangan fisik, 26% mendapat hukuman fisik dari orang tua atau pengasuh, dan 50% pernah di-bully di sekolah. Anak yang menjadi korban kekerasan cenderung mengalami luka batin yang mendalam.

Pengaruh Peristiwa Traumatis dalam Keseharian

Peristiwa seperti bencana alam, kecelakaan, atau kehilangan orang terdekat juga bisa meninggalkan dampak psikologis yang mendalam pada anak. Respons anak terhadap peristiwa ini sangat dipengaruhi oleh dukungan dari lingkungan sekitar — anak-anak dan remaja diperkirakan menjadi sebagian besar dari 2,5 miliar orang yang terkena dampak bencana di seluruh dunia dalam dekade terakhir (APA, 2008, dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021).

Dampak Childhood Trauma pada Anak dan Kaitannya dengan Perilaku Agresi

Childhood trauma dapat memengaruhi perilaku, perkembangan emosi, bahkan kesehatan mental anak. Fokus utama artikel Nurhayati dan Setyani (2021) adalah bagaimana trauma masa anak-anak secara spesifik berdampak pada perilaku agresi di kemudian hari.

Perubahan Perilaku dan Emosi

Anak yang mengalami trauma bisa menjadi mudah tersinggung, menarik diri dari pergaulan, atau sulit mempercayai orang lain. Gangguan emosi seperti kecemasan dan depresi juga sering muncul. Trauma diketahui dapat berkontribusi terhadap agresi dengan meningkatkan reaktivitas emosional — kognisi terkait trauma, seperti kemungkinan dirugikan dan rasa terancam, dapat memperburuk reaktivitas dan agresi emosional (Grattan dkk., 2019, dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021).

Risiko Gangguan Perkembangan dan Perubahan Struktur Otak

Selain masalah perilaku, trauma masa kecil juga meningkatkan risiko gangguan perkembangan. Trauma masa anak-anak yang terjadi terus-menerus dapat memengaruhi struktur otak. Dr. Nadine Burke Harris, dalam sesi TED Talks (2017, dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021), menyatakan bahwa trauma masa anak-anak dapat memengaruhi pengembangan otak, sistem kekebalan tubuh, sistem hormonal, cara DNA dibaca dan ditranskripsi, nucleus accumbens (pusat kesenangan dan penghargaan otak), korteks prefrontal (kontrol impuls), dan pusat tanggapan rasa takut otak. Penelitian Profesor Carmen Sandi dan timnya di EPFL (2015, dikutip dalam Nurhayati & Setyani, 2021) menemukan bahwa tikus jantan pra-remaja yang terpapar situasi yang secara psikologis membuat stres menunjukkan perubahan neurologis yang serupa dengan yang ditemukan pada manusia yang kejam — korteks orbitofrontal, yang berfungsi menghambat impuls agresif, menunjukkan aktivasi yang sangat sedikit, sementara amigdala (wilayah otak yang terlibat dalam reaksi emosional) justru terlalu aktif.

Studi Empiris tentang Trauma Masa Anak-anak dan Perilaku Agresi

Nurhayati dan Setyani (2021) merangkum beberapa studi empiris konkret: penelitian Sarchiapone (2008) terhadap 540 tahanan pria menemukan korelasi signifikan antara skor Childhood Trauma Questionnaire (CTQ) dan skor riwayat agresi (BGHA) — narapidana dengan skor CTQ di atas rata-rata memiliki riwayat kekerasan yang jauh lebih tinggi. Penelitian Augsburger (2015) pada 158 perempuan mantan kombatan atau warga sipil selama perang saudara di Burundi menemukan bahwa pengalaman masa kanak-kanak yang merugikan menjadi dasar perilaku agresif di daerah pasca-konflik. Penelitian Simsek dan Evrensel (2018) pada 50 orang sehat di Istanbul juga menemukan hubungan antara trauma masa anak-anak dan perilaku agresi. Di Indonesia, penelitian Samidah, Murwati, dan Mirawati (2018) menemukan hubungan antara pengalaman hukuman fisik di masa anak dengan perilaku agresif pada remaja.

Penelitian Sansone, Leung, dan Wiederman (2012) secara khusus menguji hubungan antara lima jenis trauma masa kecil — menyaksikan kekerasan, pengabaian fisik, penganiayaan emosional, penganiayaan fisik, dan penganiayaan seksual — dengan skor agresi pada masa dewasa. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam analisis multivariat, hanya dua variabel yang tetap dapat memprediksi perilaku agresif secara independen: menyaksikan kekerasan dan pelecehan emosional.

Kesimpulan

Childhood trauma adalah kondisi yang sebaiknya dikenali sejak dini agar tidak berdampak negatif di masa depan. Faktor lingkungan, pengalaman kekerasan, dan peristiwa traumatis bisa menjadi penyebab utama trauma pada anak. Berdasarkan tinjauan Nurhayati dan Setyani (2021), trauma masa anak-anak yang terus berlangsung dalam waktu lama dapat memberikan dampak yang lebih luas, termasuk perubahan pada struktur otak manusia yang berkaitan erat dengan kecenderungan perilaku agresi di masa dewasa. Memahami ciri, penyebab, dan kaitannya dengan perilaku agresi sangat penting agar anak mendapat dukungan serta penanganan yang tepat sejak dini.