Ciri-ciri dan Penyebab Highly Sensitive Person (HSP)
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Highly Sensitive Person (HSP) atau dikenal juga sebagai Sensory Processing Sensitivity (SPS) merupakan istilah untuk menggambarkan individu yang memiliki tingkat kepekaan lebih tinggi terhadap rangsangan fisik, emosional, maupun sosial. Kondisi ini sering kali memengaruhi cara seseorang merespons lingkungan sekitar dan pengalaman hidup sehari-hari. Memahami ciri-ciri serta penyebab HSP dapat membantu seseorang mengenali kebutuhan dirinya dan menjaga kesehatan mental.
Pengertian Highly Sensitive Person
Menurut Jovanka Ris Natalia dan Joshualdi Bernathsius dalam artikel Highly Sensitive Person dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental (2019), HSP atau SPS adalah sifat kepribadian yang merujuk pada sensitivitas individu terhadap stimulus internal atau eksternal, termasuk isyarat emosi dan sosial, dengan ambang batas rendah tetapi lebih mudah terpengaruh oleh stimulus tersebut dibandingkan individu lain (Grimen & Diseth, 2016; Yano, Kase, & Oishi, 2019). Sifat ini ditemukan pada lebih dari 100 spesies dan dimiliki oleh 20% populasi manusia (Acevedo et al., 2014). Kondisi ini bukanlah sebuah gangguan, melainkan bagian dari variasi temperamen manusia yang wajar ditemui.
Ciri-Ciri Highly Sensitive Person
Setiap HSP memiliki karakteristik unik yang bisa dikenali dalam kehidupan sehari-hari. Ciri-ciri ini biasanya terlihat dalam aspek emosional, reaksi terhadap lingkungan, hingga tanda fisik tertentu.
Karakteristik Emosional
Natalia dan Bernathsius menjelaskan bahwa individu HSP segera mempersepsikan dan mengalami emosi orang-orang di sekitarnya sehingga cenderung menghindari emosi dan situasi negatif. Proses kognitif internal seperti pikiran, fantasi, atau ide-ide lebih memengaruhi sistem saraf HSP dibandingkan dengan non-HSP. Menurut Cooper (2015, dalam Natalia & Bernathsius), peningkatan sensitivitas pada HSP berkontribusi terhadap kesulitan dalam meregulasi dan mengontrol emosi — Cooper mengumpamakan HSP seperti termometer yang mudah untuk mencapai titik didih.
Respons Terhadap Lingkungan
Natalia dan Bernathsius menjelaskan bahwa HSP memiliki tingkat kesadaran dan sensitivitas yang lebih tinggi dari rata-rata terhadap: lima sistem indera (penglihatan, penciuman, pengecapan, pendengaran, dan sentuhan); obat-obatan, kafein, alkohol, dan sebagainya; emosi baik diri sendiri maupun orang lain; perubahan kecil pada lingkungan; serta intuisi atau informasi ekstrasensori. Situasi tertentu seperti berbicara dengan orang asing, rasa lapar, khawatir, cemas, kurang tidur, dan terutama amarah lebih menstimulasi respons sistem saraf pada orang HSP dibandingkan non-HSP (Rizzo-sierra, 2012, dalam Natalia & Bernathsius). HSP sering merasa kewalahan di tempat ramai — Cooper juga menyatakan bahwa HSP merasakan keinginan untuk menarik diri dari pertemuan besar karena tidak mampu menghindari perasaan cemas.
Ciri-Ciri Fisik
Natalia dan Bernathsius menjelaskan bahwa memiliki pikiran yang sangat aktif membuat HSP lebih responsif terutama setelah paparan cahaya yang terang, lingkungan yang ramai, suara yang kencang, atau bau yang menyengat. Di sisi lain, sistem saraf yang aktif meningkatkan jumlah informasi sensoris yang harus diproses otak secara simultan, sehingga sensitivitas yang meningkat ini menyebabkan stimulasi sensoris berlebihan yang akan memaksimalkan kerja otak dan membuat HSP mudah merasa lelah dan kewalahan — untuk memulihkan perasaan ini, HSP cenderung pendiam dan membutuhkan waktu tidur yang lebih lama.
Penyebab Highly Sensitive Person
Sensitivitas tinggi pada HSP dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri maupun lingkungan sekitar. Dua aspek utama yang sering dibahas adalah faktor biologis dan pengalaman hidup.
Faktor Genetik dan Biologis
Natalia dan Bernathsius menjelaskan bahwa etiologi dari HSP adalah genetik dan lingkungan. Sifat HSP dapat diturunkan dan dapat dilihat sejak masih bayi, yaitu ditandai dengan bayi yang sangat reaktif (mudah menangis) dan akan bermanifestasi HSP pada masa remaja (Greven et al., 2018).
Secara neurologis, Natalia dan Bernathsius menjelaskan bahwa otak HSP diperkirakan memiliki pola konektivitas yang lebih kompleks, yang menyebabkan peningkatan input informasi sensoris dan pemrosesan sensoris yang lebih dalam. Hal ini dimediasi oleh perbedaan konsentrasi neurotransmitter otak — asetilkolin, norepinefrin, dopamin, dan serotonin — pada HSP dibandingkan non-HSP. Hal ini dibuktikan dengan hasil pemeriksaan functional MRI (fMRI) pada HSP yang lebih aktif di regio otak yang melibatkan kewaspadaan, atensi, dan pengambilan keputusan (regio cingulata dan premotor area) (Acevedo et al., 2014).
Pengaruh Lingkungan dan Pengalaman
Natalia dan Bernathsius menjelaskan bahwa pengalaman masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan berinteraksi dengan HSP menyebabkan afek negatif (depresi, ansietas, pemalu) di masa dewasa dibandingkan dengan anak-anak yang tidak memiliki pengalaman tidak menyenangkan (Jagiellowicz et al., 2016). Chen et al. (2011) menemukan bahwa lingkungan keluarga dan pengalaman hidup yang tidak menyenangkan meningkatkan level sensitivitas pada HSP, dan menghipotesiskan bahwa genetik dan lingkungan memengaruhi variasi kepribadian individu.
Dampak Menjadi Highly Sensitive Person
Natalia dan Bernathsius menjelaskan bahwa beberapa penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara HSP dengan gangguan kesehatan mental seperti depresi, ansietas, dan stres. Menurut Meindl (2019, dalam Natalia & Bernathsius), ada lima area overstimulasi yang menyebabkan stres pada HSP: (1) overstimulasi lingkungan kronik yang meningkatkan risiko perasaan tak berdaya dan depresi; (2) stimulasi internal tubuh yang meningkatkan rasa tidak berdaya terhadap ansietas dan depresi; (3) kehidupan batin yang kaya — intuisi akurat untuk mengantisipasi bahaya yang berkontribusi membuat HSP rentan depresi dan cemas; (4) overstimulasi interpersonal — HSP cenderung terbawa oleh emosi orang di sekitarnya; dan (5) respons depresif terkait bahan kimia — contohnya kontrasepsi oral dapat memengaruhi mood HSP.
Di sisi lain, Natalia dan Bernathsius juga mencatat aspek positif: sifat sensitif ini membuat HSP lebih teliti dan lebih baik dalam menghindari kesalahan, serta lebih selaras antara pikiran dengan perasaannya (Aron, 2010).
Pengukuran HSP
Natalia dan Bernathsius menjelaskan bahwa HSP dapat dinilai secara kuantitatif dengan menggunakan Highly Sensitive Person Scale (HSPS) yang didesain untuk menilai perbedaan temperamen terkait sensitivitas terhadap stimulus fisik, emosi, dan sosial. Kuesioner HSPS terdiri dari 27 pertanyaan dengan tiga subskala: Ease of Excitation (EOE) yang menilai kewalahan secara mental; Aesthetic Sensitivity (AES) yang menilai apresiasi dan kewaspadaan terhadap keindahan; dan Low Sensory Threshold (LST) terkait dengan gairah sensoris yang tidak menyenangkan terhadap stimulus eksternal.
Kesimpulan
Highly Sensitive Person merupakan individu dengan tingkat kepekaan fisik dan emosional yang lebih tinggi dari rata-rata, dimiliki oleh sekitar 20% populasi manusia, dan diturunkan secara genetik serta dipengaruhi lingkungan. Perbedaan biologis pada sistem saraf pusat — khususnya konsentrasi neurotransmitter dopamin, serotonin, asetilkolin, dan norepinefrin — menyebabkan otak HSP jauh lebih aktif. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental (depresi, ansietas, stres) namun juga membawa kelebihan berupa ketelitian tinggi dan empati yang mendalam.