Ciri Kepribadian:Pengertian, Contoh,dan Kaitannya dengan Kesejahteraan Subjektif
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami ciri kepribadian dapat membantu seseorang mengenali diri sendiri dan berinteraksi lebih baik dengan lingkungan sosial. Setiap individu membawa kepribadian unik yang membentuk cara berpikir, bersikap, hingga mengambil keputusan sehari-hari. Mengetahui ciri kepribadian dapat menjadi langkah awal untuk meraih kesejahteraan yang lebih baik dalam hidup.
Apa Itu Ciri Kepribadian?
Ciri kepribadian merupakan pola perilaku, pikiran, dan perasaan yang konsisten pada diri seseorang dalam berbagai situasi. Menurut Giyati dan Indra Ratna Kusuma Wardani dalam jurnal berjudul Ciri-ciri Kepribadian dan Kepatutan Sosial Sebagai Prediktor Subjective Well-Being (Kesejahteraan Subyektif) pada Remaja Akhir, dengan mengutip Larsen dan Buss (2002), ciri-ciri kepribadian adalah kumpulan sifat psikologis dalam diri individu yang terorganisasi dan relatif bertahan, yang memengaruhi interaksi dan adaptasi individu dengan lingkungan intrapsikis, fisik, maupun sosial. Pemahaman tentang ciri kepribadian penting karena menjadi dasar seseorang dalam membina hubungan, mengambil keputusan, hingga membangun kesejahteraan subjektif; Giyati dan Wardani sendiri secara khusus mengkaji ciri kepribadian bersama kepatutan sosial (kecenderungan merespons dengan cara yang dianggap lebih dapat diterima secara sosial) sebagai dua prediktor kesejahteraan subjektif pada remaja akhir.
Definisi dan Pentingnya Ciri Kepribadian
Kepribadian tidak hanya berkaitan dengan sikap, tetapi juga mencakup cara seseorang menanggapi tantangan dan peluang hidup. Sifat yang relatif bertahan dan terorganisasi ini, sebagaimana didefinisikan Giyati dan Wardani, membuat seseorang dengan kepribadian stabil cenderung lebih adaptif dan mudah membangun relasi sosial yang sehat.
Jenis-Jenis Ciri Kepribadian Menurut Penelitian
Giyati dan Wardani menjelaskan bahwa model ciri kepribadian yang digunakan dalam penelitian ini dikenal dengan nama Big Five Personality. Goldberg mengembangkan model ini dengan lima dimensi extraversion, agreeableness, conscientiousness, emotional stability, dan intellect atau imagination, sementara Costa dan McCrae mengembangkannya menjadi neuroticism, extraversion, openness to experience, agreeableness, dan conscientiousness. Dengan demikian, ciri kepribadian utama umumnya meliputi keterbukaan (openness), ketelitian (conscientiousness), keramahan (agreeableness), kestabilan emosi atau sebaliknya neurotisisme (emotional stability/neuroticism), dan ekstroversi (extraversion). Sifat-sifat ini muncul dalam berbagai intensitas pada setiap individu; misalnya, ada yang sangat terbuka pada pengalaman baru, sementara yang lain lebih suka rutinitas.
Contoh Ciri Kepribadian pada Diri Sendiri
Setiap orang sebaiknya mengenali ciri kepribadian yang dimiliki agar dapat berkembang secara pribadi maupun sosial.
Cara Mengidentifikasi Kepribadian Diri
Dalam psikologi kepribadian, cara paling umum untuk mengenali kepribadian diri adalah melalui laporan diri (self-report) menggunakan skala atau tes kepribadian terstandar, seperti yang digunakan Giyati dan Wardani dalam penelitiannya untuk mengukur Big Five Personality pada partisipan remaja akhir. Selain laporan diri, meminta pandangan dari orang terdekat juga merupakan metode yang diakui dalam penelitian kepribadian; Simine Vazire dalam Journal of Research in Personality berjudul Informant Reports: A Cheap, Fast, and Easy Method for Personality Assessment menyebutkan bahwa laporan dari orang yang mengenal kita dengan baik (informant report) merupakan metode penilaian kepribadian yang murah, cepat, dan mudah dilakukan. Untuk tes kepribadian sederhana yang dapat diakses publik, salah satu contohnya adalah International Personality Item Pool yang dikembangkan Goldberg dan kolega, sebagaimana dipublikasikan dalam Journal of Research in Personality. Perlu diluruskan, Giyati dan Wardani menemukan bahwa bukan proses "mengenali" ciri kepribadian itu sendiri yang meningkatkan kesejahteraan subjektif, melainkan kecenderungan pada ciri kepribadian tertentu—khususnya conscientiousness dan extraversion serta rendahnya neurotisisme—yang terbukti berhubungan signifikan dengan kesejahteraan subjektif pada remaja akhir.
Daftar Contoh Kepribadian Umum
Beberapa ciri kepribadian yang sering ditemui antara lain:
Keterbukaan terhadap pengalaman baru (openness)
Tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas (conscientiousness)
Keramahan atau mudah bergaul (agreeableness/extraversion)
Mudah cemas atau sensitif (neurotisisme)
Suka bekerja sama (agreeableness)
Karakter seperti ini dapat muncul dalam bentuk positif maupun negatif, tergantung situasi dan cara seseorang mengelolanya.
Hubungan Ciri Kepribadian dengan Kesejahteraan Subjektif
Kepribadian berperan besar dalam membentuk kesejahteraan emosional dan sosial individu, meski tidak semua ciri kepribadian memiliki pengaruh yang sama kuatnya. Giyati dan Wardani menemukan bahwa ciri kepribadian conscientiousness, extraversion, dan neuroticism berhubungan signifikan dengan kesejahteraan subjektif pada remaja akhir, sedangkan ciri kepribadian agreeableness dan openness to experience tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dalam penelitian tersebut.
Dampak Kepribadian Terhadap Kehidupan Sosial dan Emosional
Sifat bertanggung jawab dan teliti (conscientiousness) serta mudah bergaul (extraversion) terbukti paling konsisten membantu seseorang membangun hubungan harmonis serta mengelola stres, sementara rendahnya kecenderungan neurotik turut menekan afek negatif. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ciri kepribadian dan kepatutan sosial sama-sama berkontribusi pada kesejahteraan subjektif, khususnya pada masa remaja akhir.
Kesimpulan
Ciri kepribadian merupakan bagian penting dalam membentuk pola pikir dan perilaku seseorang. Dengan memahami ciri kepribadian—khususnya kecenderungan pada conscientiousness, extraversion, dan stabilitas emosi yang terbukti berhubungan signifikan dengan kesejahteraan subjektif—individu dapat mengembangkan diri, memperbaiki hubungan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan subjektif. Mengenali kepribadian sendiri, baik lewat refleksi diri, tes kepribadian terstandar, maupun pandangan orang terdekat, juga membuka peluang untuk tumbuh lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.