Konten dari Pengguna

Collective Narcissism: Pengertian, Ciri, dan Contoh Nyata

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Collective Narcissism. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Collective Narcissism. Foto Unsplash.

Collective narcissism sering muncul dalam obrolan soal identitas kelompok, nasionalisme, atau fanatisme komunitas. Istilah ini menggambarkan pola pikir ketika kebanggaan terhadap kelompok berubah menjadi sikap yang mudah tersinggung dan defensif. Memahami konsep ini membantu kita lebih waspada terhadap cara kelompok membentuk cara pandang dan emosi.

Apa Itu Collective Narcissism?

Secara sederhana, collective narcissism adalah keyakinan berlebihan bahwa kelompok sendiri luar biasa, namun orang lain tidak menghargainya sebagaimana mestinya.

Menurut Agnieszka Golec de Zavala, Aleksandra Cichocka, Roy Eidelson, dan Nuwan Jayawickreme dalam artikel penelitian empiris “Collective Narcissism and its Social Consequences”, collective narcissism adalah investasi emosional pada keyakinan yang tidak realistis tentang kebesaran kelompok sendiri. Pola ini dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap ancaman, kritik, atau kurangnya pengakuan terhadap kelompoknya, sehingga berpotensi mendorong sikap agresif terhadap kelompok luar.

Collective narcissism biasanya muncul ketika orang mencari pegangan untuk harga diri, merasa terancam, atau sangat bergantung pada identitas kelompok. Di sisi lain, kebanggaan sehat memberi ruang untuk menerima kritik dan mengakui kekurangan. Unsur kunci collective narcissism adalah gabungan antara keyakinan keagungan kelompok dan kebutuhan kuat akan pengakuan dari luar.

Ciri-Ciri Utama Collective Narcissism

Beberapa pola yang sering muncul antara lain keyakinan bahwa “kelompok kami istimewa dan selalu diremehkan”. Anggota kelompok sangat sensitif terhadap kritik, bahkan terhadap simbol seperti logo, bendera, atau tokoh panutan.

Selain itu, ada kecenderungan menyalahkan pihak luar atas berbagai masalah internal. Mereka menuntut penghormatan khusus dan respons yang dianggap kurang hormat bisa memicu kemarahan.

Dalam paparan Golec de Zavala dkk. dalam artikel penelitian sebelumnya, collective narcissism berkaitan dengan kebutuhan akan validasi terus-menerus terhadap citra besar kelompok sendiri. Ketika kelompok luar dianggap tidak memberi pengakuan, menunjukkan kritik, atau melakukan penghinaan terhadap kelompok, kondisi ini dapat memicu sikap permusuhan dan agresi balasan terhadap kelompok luar.

Dampak Sosial Collective Narcissism

Dampaknya terasa pada hubungan antar kelompok. Collective narcissism dapat mendorong prasangka dan stereotip negatif terhadap orang di luar kelompok. Mereka dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai pihak yang bisa diajak bekerja sama.

Dalam situasi yang memanas, pola ini ikut menyuburkan polarisasi sosial dan konflik berkepanjangan. Dukungan terhadap kebijakan agresif atau keras sering dibenarkan dengan alasan melindungi kehormatan kelompok. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kondisi ini dapat memperkuat siklus kecurigaan dan permusuhan timbal balik yang sulit diputus.

Contoh Collective Narcissism dalam Kehidupan Sehari-Hari

Collective narcissism dapat muncul di banyak level, mulai dari bangsa, etnis, agama, organisasi, hingga komunitas penggemar. Di ruang publik, ekspresinya sering tampak dalam reaksi berlebihan terhadap kritik terhadap simbol-simbol kelompok. Seseorang bisa merasa diserang secara pribadi hanya karena kelompoknya dikomentari.

Dalam konteks digital, pola ini semakin mudah terlihat. Sementara itu, kecepatan media sosial membuat respons emosional menyebar luas sebelum sempat dipikirkan ulang. Situasi ini membuat collective narcissism lebih mudah menyulut perdebatan panas.

Contoh di Level Nasional, Organisasi, dan Komunitas

Di level nasional, bentuknya bisa berupa nasionalisme yang sangat defensif. Bangsa sendiri diyakini superior, sedangkan dunia luar dianggap selalu ingin menjatuhkan. Kritik internasional langsung dibaca sebagai serangan terhadap kehormatan nasional.

Dalam organisasi atau perusahaan, collective narcissism tampak ketika semua kritik dianggap lahir dari rasa iri. Alih-alih mengevaluasi diri, kelompok menutup telinga dan memperkuat narasi bahwa mereka selalu disalahpahami. Di komunitas penggemar, reaksi keras terhadap siapa pun yang mengkritik idola atau karya tertentu juga menggambarkan pola ini, misalnya serangan di kolom komentar atau perdebatan panjang di forum online.

Cara Mengenali dan Mengurangi Collective Narcissism

Langkah awal adalah refleksi jujur. Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan misalnya: apakah saya merasa marah berlebihan saat kelompok saya dikritik, apakah saya langsung menganggap pihak luar jahat, atau apakah saya menganggap kelompok saya selalu jadi korban? Jika jawabannya sering “ya”, mungkin ada pola collective narcissism yang mulai menguat.

Penting untuk membedakan kebanggaan sehat dan sikap narsistik kolektif. Kebanggaan sehat mengizinkan kita mengakui kelebihan tanpa menutup mata pada kekurangan. Untuk menguranginya, strategi yang bisa dicoba antara lain membangun empati lintas kelompok, membuka ruang dialog yang tenang, serta menguatkan identitas positif tanpa perlu merendahkan orang lain.

Kesimpulan

Collective narcissism menggambarkan cara pandang ketika kebanggaan kelompok berubah menjadi kebutuhan pengakuan yang berlebihan dan mudah tersulut oleh kritik. Pola ini memengaruhi cara kita membaca niat pihak luar dan bisa mendorong prasangka serta konflik yang tidak perlu.

Dengan memahami ciri dan contoh collective narcissism, kita dapat lebih peka terhadap dinamika emosi dalam kelompok sendiri. Sikap reflektif, empati, dan kebanggaan yang lebih sehat membantu menjaga identitas kelompok tetap kuat tanpa harus hidup dalam rasa curiga berkepanjangan.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Psikologi Sosial: Memahami Perilaku dalam Interaksi