Coping Mechanism Adalah: Pengertian dan Contoh Strategi Menghadapi Stres
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menghadapi tekanan hidup terkadang membuat seseorang mencari berbagai cara untuk tetap bertahan secara mental maupun emosional. Dalam psikologi, coping mechanism adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan strategi menghadapi stres atau tantangan sehari-hari. Beragam contoh coping mechanism bisa diterapkan, mulai dari mengelola pikiran hingga beraktivitas fisik.
Pengertian Coping Mechanism
Menurut Siti Maryam dalam Strategi Coping: Teori dan Sumberdayanya (2017), perilaku coping dapat dikatakan sebagai transaksi yang dilakukan individu untuk mengatasi berbagai tuntutan internal dan eksternal yang membebani dan mengganggu kelangsungan hidupnya. Maryam, mengutip Lazarus dan Folkman (1984), menjelaskan bahwa keadaan stres yang dialami seseorang menimbulkan efek kurang menguntungkan secara fisiologis maupun psikologis, sehingga individu melakukan tindakan untuk mengatasinya — tindakan inilah yang dinamakan strategi coping.
Maryam merangkum dari beberapa pengertian bahwa coping merupakan: respon perilaku dan pikiran terhadap stres; penggunaan sumber yang ada pada diri individu atau lingkungan; pelaksanaan yang dilakukan secara sadar; serta bertujuan mengurangi atau mengatur konflik internal dan eksternal untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik.
Jenis-Jenis Coping Mechanism
Maryam menyajikan tiga kerangka teoretis berbeda, yang secara konsisten membedakan strategi coping berdasarkan fokusnya: berpusat pada masalah (problem focused) dan berpusat pada emosi (emotion focused), bukan aktif/pasif.
Strategi Coping Menurut Stuart dan Sundeen (1991)
Maryam merinci dua kategori. Berpusat pada masalah: konfrontasi (mengubah keadaan secara agresif dengan pengambilan risiko), isolasi (menarik diri dari lingkungan), dan kompromi (mengubah keadaan secara hati-hati dengan meminta bantuan keluarga/teman). Berpusat pada emosi: denial (menolak masalah), rasionalisasi (menggunakan alasan yang dapat diterima akal untuk menutupi ketidakmampuan), kompensasi (menonjolkan sifat baik untuk menutupi ketidakmampuan), represi (melupakan masa tidak menyenangkan), sublimasi (menyalurkan perasaan dengan sikap positif), identifikasi (meniru cara berpikir orang lain), regresi (bersikap seperti anak kecil), proyeksi (menyalahkan orang lain), konversi (mentransfer reaksi psikologis ke gejala fisik), dan displacement (mengarahkan reaksi emosi ke orang lain).
Strategi Coping Menurut Lazarus dan Folkman (1984)
Berfokus pada masalah: planful problem solving (usaha analitis mengubah keadaan), confrontative coping (bereaksi dengan risiko), dan seeking social support (mencari dukungan informasi, bantuan nyata, atau emosional dari pihak luar). Berfokus pada emosi: positive reappraisal (menciptakan makna positif), accepting responsibility (menumbuhkan kesadaran peran diri dalam masalah), self controlling (regulasi perasaan dan tindakan), distancing (menjaga jarak dari masalah), dan escape avoidance (menghindar dari masalah, kadang melalui perilaku negatif seperti tidur berlebihan atau penyalahgunaan obat).
Maryam menegaskan bahwa jenis coping yang digunakan bergantung pada jenis stres: situasi yang masih dapat diubah secara konstruktif menggunakan strategi problem focused, sementara situasi sulit seperti kematian pasangan menggunakan strategi emotion focused (Evans & Kim, 2013; Rutter, 2013; Compas et al., 2014).
Strategi Coping Keluarga Menurut Friedman (1998)
Maryam merinci dua tipe: internal (intrafamilial, tujuh strategi: mengandalkan kemampuan sendiri, penggunaan humor, musyawarah bersama, memahami masalah, pemecahan masalah bersama, fleksibilitas peran, dan normalisasi) dan eksternal (ekstrafamilial, empat strategi: mencari informasi, memelihara hubungan aktif dengan komunitas, mencari pendukung sosial, dan mencari dukungan spiritual).
Sumber Daya Coping
Maryam, mengutip Lazarus dan Folkman (1984), merinci lima sumber daya yang memengaruhi strategi coping seseorang:
Kondisi kesehatan — status kenyamanan menyeluruh jasmani, mental, dan sosial memengaruhi kemampuan melakukan coping dengan baik.
Kepribadian — Maramis (1998) membagi kepribadian menjadi introvert (banyak fantasi, mudah tersinggung, pesimis) dan ekstrovert (terbuka, tidak lekas merasa kritik, optimis), yang memengaruhi pilihan strategi coping.
Konsep diri — ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian seseorang yang dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman.
Dukungan sosial — keterlibatan orang lain dalam menyelesaikan masalah; menurut Holahan dan Moos (1987), individu dengan sumber daya sosial cukup cenderung menggunakan problem-focused coping dan menghindari avoidance coping.
Aset ekonomi — keluarga dengan aset ekonomi lebih mudah melakukan coping untuk penyelesaian masalah, meski kepemilikan aset tidak menjamin efektivitas penggunaannya (Bryant, 1990).
Pentingnya Memilih Coping Mechanism yang Tepat
Sumberdaya coping bersifat subjektif sehingga perilaku coping bervariasi pada setiap orang. Efektivitas strategi bergantung pada kesesuaian antara jenis stres yang dihadapi dan sumber daya yang dimiliki individu atau keluarga.
Kesimpulan
Coping mechanism adalah transaksi individu dalam mengatasi tuntutan internal-eksternal yang membebani. Berdasarkan Maryam (2017), strategi coping secara konsisten terbagi menjadi problem-focused dan emotion-focused — sebagaimana dikemukakan Stuart & Sundeen (1991) dan Lazarus & Folkman (1984) — atau internal/eksternal menurut kerangka keluarga Friedman (1998), bukan klasifikasi "aktif/pasif." Efektivitas strategi ditentukan oleh lima sumber daya coping: kondisi kesehatan, kepribadian, konsep diri, dukungan sosial, dan aset ekonomi.