Konten dari Pengguna

Disonansi Kognitif: Teori, Penyebab, dan Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Disonansi Kognitig. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Disonansi Kognitig. Gambar: Pexels.

Disonansi kognitif merupakan fenomena psikologis yang kerap dialami banyak orang tanpa disadari. Kondisi ini muncul ketika seseorang menghadapi pertentangan antara keyakinan, sikap, dan perilaku yang dijalani. Untuk memahami lebih jauh, simak penjelasan berikut mengenai teori, penyebab, dan contoh disonansi kognitif.

Apa Itu Disonansi Kognitif?

Disonansi kognitif (cognitive dissonance) adalah suatu kondisi yang membingungkan yang terjadi pada seseorang ketika kepercayaan mereka tidak sejalan bersama. Kondisi ini mendorong mereka untuk mengubah pikiran, perasaan, dan tindakan mereka agar sesuai dengan pembaharuan. Disonansi dirasakan ketika seseorang berkomitmen pada dirinya sendiri dalam melakukan suatu tindakan yang tidak konsisten dengan perilaku dan kepercayaan mereka yang lainnya (East, dalam Japariyanto, 2006, dikutip dalam M. Farid Khakim & Much. Imron dalam jurnal Disonansi Kognitif Mahasiswa dalam Memilih Program Studi Manajemen di STIENU Jepara).

Lebih lanjut, elemen kognitif adalah sesuatu yang dipercayai oleh seseorang, bisa berupa dirinya sendiri, tingkah lakunya, atau juga pengamatan sekeliling. Pengurangan disonansi dapat timbul baik dengan menghilangkan, menambah, atau mengganti elemen-elemen kognitif tersebut (Solomon, dalam Japariyanto, 2006, dikutip dalam Khakim & Imron, 2011).

Sejarah Singkat Teori Disonansi Kognitif

Teori disonansi kognitif pertama kali diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957 melalui bukunya A Theory of Cognitive Dissonance. Teori ini merupakan salah satu pendekatan terhadap tingkah laku yang paling penting, berdasarkan prinsip konsistensi. Teori cognitive dissonance mengemukakan bahwa orang termotivasi untuk mengurangi keadaan negatif dengan cara membuat suatu keadaan sesuai dengan keadaan lainnya (Solomon, dalam Japariyanto, 2006, dikutip dalam Khakim & Imron, 2011).

Teori Disonansi Kognitif

Pemahaman mengenai teori disonansi kognitif membantu menjelaskan alasan seseorang dapat bertindak di luar nilai yang diyakini. Teori ini juga memberi gambaran mengenai cara pikiran manusia berusaha menjaga konsistensi.

Penjelasan dan Prinsip Kerja Teori Disonansi Kognitif

Menurut Khakim dan Imron (2011), Cognitive Dissonance Theory dibentuk dalam tiga konsep utama (Festinger, dalam Japariyanto, 2006):

Pertama, seseorang lebih suka untuk konsekuen dengan cognitions mereka dan tidak suka menjadi tidak konsisten dalam pemikiran, kepercayaan, emosi, nilai, dan sikap. Kedua, disonansi terbentuk dari ketidaksesuaian psikologis (psychological), lebih dari ketidaksesuaian logis (logical) — semakin besar ketidaksesuaian, semakin tinggi disonansi yang terbentuk. Ketiga, disonansi adalah konsep psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan dan mengharapkan dampak yang bisa diukur (Khakim & Imron, 2011).

Proses disonansi ini sering terjadi dalam berbagai situasi sehari-hari, termasuk saat membuat pilihan sulit, menerima informasi baru yang tidak sejalan dengan keyakinan lama, atau setelah melakukan keputusan pembelian yang besar. Kondisi pasca keputusan ini dikenal sebagai post-purchase dissonance — di mana konsumen memiliki perasaan yang cenderung untuk memecahkannya dengan mengubah sikap mereka agar sesuai dengan perilakunya (Schiffman & Kanuk, dalam Japariyanto, 2006, dikutip dalam Khakim & Imron, 2011, hal. 17).

Penyebab Disonansi Kognitif

Disonansi kognitif dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri maupun lingkungan sekitar. Memahami penyebabnya dapat membantu seseorang mengenali dan mengelola perasaan tidak nyaman tersebut.

Faktor Internal dan Eksternal

Disonansi kognitif dapat dipicu oleh berbagai faktor. Secara internal, nilai pribadi, kepercayaan, serta pengalaman hidup membentuk cara pandang seseorang — dan ketika tindakan bertentangan dengan keyakinan tersebut, disonansi muncul. Secara eksternal, tekanan sosial, harapan keluarga, dan norma lingkungan juga dapat memicu disonansi. Seseorang yang berada pada situasi ketidakpastian mengenai manfaat suatu keputusan — di mana kebingungan atau keraguan bersumber dari peran penyedia jasa dalam memberikan layanan — juga rentan mengalami disonansi (Gabbott, dalam Poerwanto, 2000, dikutip dalam Khakim & Imron, 2011).

Studi Kasus Mahasiswa dalam Memilih Program Studi

Khakim dan Imron (2011) meneliti pembentukan disonansi kognitif pada 65 mahasiswa Program Studi Manajemen STIENU Jepara. Penelitian ini menggunakan analisis faktor terhadap 22 item indikator yang mencakup tiga dimensi. Hasilnya menunjukkan bahwa pada dimensi emosional, mahasiswa merasa senang (tidak muak) dengan pilihannya. Pada dimensi kebijaksanaan (wisdom of purchase), mahasiswa merasa telah membuat pilihan yang tepat. Pada dimensi perhatian pada kesepakatan (concern over the deal), mahasiswa merasa telah mengambil persetujuan yang tepat dan tidak melakukan kesalahan dengan keputusan yang dibuat (Khakim & Imron, 2011).

Dengan demikian, secara keseluruhan, tingkat disonansi kognitif mahasiswa STIENU Jepara dalam memilih Program Studi Manajemen tergolong rendah — hasil yang sejalan dengan penelitian Japariyanto (2006) terhadap konsumen mobil Toyota Avanza yang juga menunjukkan disonansi keseluruhan yang rendah.

Contoh Disonansi Kognitif dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena disonansi kognitif bukan hanya terjadi di lingkungan akademik, tetapi juga dalam interaksi sosial dan keputusan sehari-hari.

Contoh pada keputusan akademik

Seorang siswa yang memilih jurusan tertentu demi harapan orang tua, padahal sebenarnya ia memiliki minat yang berbeda. Situasi ini memicu perasaan tidak nyaman, kebingungan, dan pertanyaan "apakah ini keputusan yang tepat?" — yang merupakan manifestasi dari dimensi wisdom of purchase dan emotional dalam disonansi kognitif (Khakim & Imron, 2011).

Contoh pada keputusan konsumen

Ketika seorang konsumen telah membuat komitmen untuk memesan produk mahal, mereka sering mulai mengalami disonansi kognitif ketika memikirkan keunggulan dari merek yang tidak dipilih. Ketidaknyamanan muncul akibat bertentangnya dua kognisi: "saya telah membeli produk ini" dan "produk lain mungkin lebih baik" (Schiffman & Kanuk, dalam Japariyanto, 2006, dikutip dalam Khakim & Imron, 2011).

Contoh pada situasi sosial

Seseorang yang tetap bertahan di lingkungan yang tidak sesuai dengan nilai pribadinya demi menjaga hubungan baik. Ketidaksesuaian antara tindakan (tetap berada di lingkungan tersebut) dan keyakinan pribadi memunculkan tekanan psikologis yang mendorong perubahan sikap atau perilaku. Menurut Festinger (1957) dalam A Theory of Cognitive Dissonance, tekanan untuk mencapai konsistensi kognitif ini bersifat universal dan berlaku di berbagai domain kehidupan.

Cara Mengatasi Disonansi Kognitif

Permasalahan yang berkaitan dengan ketidaksesuaian atau disonansi dapat diselesaikan dengan tiga cara dasar: (a) change belief — mengubah kepercayaan; (b) change action — mengubah tindakan; dan (c) change action perception — mengubah persepsi dari tindakan (Festinger, dalam Japariyanto, 2006, dikutip dalam Khakim & Imron, 2011). Ketiga cara ini membantu individu menciptakan ketenangan batin dan mengembalikan konsistensi psikologis.

Kesimpulan

Disonansi kognitif merupakan kondisi psikologis yang terjadi ketika seseorang menghadapi konflik antara kepercayaan, sikap, dan perilaku. Sebagaimana dikemukakan Khakim dan Imron (2011), disonansi kognitif terbentuk dari tiga dimensi utama: emosional, kebijaksanaan pembelian, dan perhatian pada kesepakatan. Fenomena ini dapat muncul akibat faktor internal maupun eksternal, dalam banyak aspek kehidupan — dari keputusan akademik hingga pilihan konsumen. Disonansi dapat diatasi melalui tiga cara: mengubah kepercayaan, mengubah tindakan, atau mengubah persepsi atas tindakan yang telah dilakukan. Dengan memahami teori dan mekanismenya, individu dapat lebih bijak dalam mengelola perasaan tidak nyaman dan mengambil keputusan yang lebih selaras dengan nilai pribadi.