Konten dari Pengguna

Dissociation: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Memahaminya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Dissociation. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dissociation. Foto Unsplash.

Dissociation sering terdengar asing, padahal banyak orang pernah mengalaminya dalam bentuk ringan. Misalnya tiba-tiba sudah sampai rumah tanpa terlalu ingat perjalanan, atau terlalu larut dalam lamunan hingga lupa waktu. Fenomena ini bisa terasa sepele, namun dalam kondisi tertentu berubah menjadi masalah serius yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Dissociation Menurut Psikologi Kontemporer

Dalam psikologi modern, dissociation dipahami sebagai perubahan cara seseorang menyadari diri, mengingat pengalaman, dan merasakan lingkungan.

Menurut Steven Jay Lynn dan rekan-rekan dalam artikel review ilmiah “Dissociation and Dissociative Disorders Reconsidered: Beyond Sociocognitive and Trauma Models Toward a Transtheoretical Framework,” pengalaman disosiatif berada dalam rentang luas, mulai dari lapses in attention, minor memory problems, daydreaming, dan nonpathological absorption hingga gejala berat dalam dissociative disorders.

Artikel tersebut menekankan bahwa dissociation bersifat multidetermined dan perlu dipahami melalui kerangka transdiagnostic serta transtheoretical yang mempertimbangkan berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, dan budaya.

Definisi Dissociation dan Spektrum Pengalamannya

Secara sederhana, dissociation adalah kondisi ketika perhatian, ingatan, atau rasa diri seperti “terlepas” dari biasanya. Di ujung yang ringan, orang bisa melamun, mengemudi dengan mode “autopilot”, atau terlalu tenggelam dalam film hingga lupa sekitar.

Di sisi lain, ada bentuk yang jauh lebih berat, seperti jeda memori yang besar, merasa diri terpecah, atau merasa dunia tampak asing dan tidak nyata.

Lynn dkk. dalam artikel review ilmiah sebelumnya menjelaskan bahwa model lama tentang dissociation banyak diperdebatkan antara posttraumatic model yang menekankan trauma psikologis dan sociocognitive model yang menekankan pengaruh sosial, budaya, dan kognitif.

Sebagai alternatif, artikel ini menawarkan kerangka transtheoretical yang memahami dissociation sebagai fenomena multidetermined, muncul dari matriks variabel kausal yang saling berinteraksi, dan dapat dikaji dari level biologis hingga sosial-budaya.

Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Dissociation

Pengalaman disosiatif tidak selalu berawal dari trauma berat saja. Lynn dkk. dalam artikel review ilmiah yang disebutkan di awal menggambarkan dissociation sebagai fenomena multidetermined yang muncul dari matriks variabel kausal yang saling berinteraksi, mulai dari proses kognitif, regulasi diri, sugestibilitas, fantasy proneness, pengalaman trauma atau stres, hingga pengaruh sosial dan budaya.

Artikel tersebut juga menjelaskan bahwa isyarat situasional, keyakinan yang ditransmisikan secara budaya, serta pengalaman yang dipahami secara keliru dapat membentuk cara seseorang memahami dan melaporkan pengalaman disosiatifnya.

Ciri-Ciri Dissociation dan Cara Mengenalinya

Bagi banyak orang, pertanyaan praktisnya adalah: seperti apa rasanya dissociation dan kapan perlu waspada. Dalam kerangka yang dijelaskan Lynn, tanda-tandanya berkaitan dengan perubahan kesadaran, memori, identitas, dan cara memandang diri maupun dunia. Intensitas, frekuensi, serta dampaknya terhadap fungsi sehari-hari menjadi penentu apakah pengalaman tersebut masih wajar atau sudah mengarah ke gangguan disosiatif.

Gejala Umum Dissociation yang Sering Dialami

Beberapa ciri yang cukup sering muncul antara lain: merasa seperti menonton diri sendiri dari luar, dunia terasa kabur atau tidak nyata, dan waktu seolah “melompat” tanpa disadari. Sementara itu, sebagian orang mengalami jeda memori untuk kejadian tertentu atau merasa sulit menyatukan potongan pengalaman menjadi cerita yang utuh.

Lynn dkk. dalam artikel review ilmiah sebelumnya menekankan bahwa pengalaman disosiatif memiliki rentang yang luas, mulai dari lapses in attention, minor memory problems, daydreaming, dan nonpathological absorption hingga gejala berat dalam gangguan disosiatif. Artikel ini juga menyoroti pentingnya pendekatan fenomenologis dan idiografis karena determinan kondisi disosiatif dapat berbeda pada tiap individu, dengan kombinasi variabel dan gejala yang unik.

Kapan Dissociation Menjadi Masalah dan Perlu Ditangani

Dissociation mulai bermasalah ketika gejalanya mengganggu kerja atau sekolah, merusak hubungan, mengancam keselamatan diri, atau membuat bagian penting kehidupan sulit diingat. Dalam pandangan transtheoretical, penilaian klinis sebaiknya tidak berhenti pada daftar gejala, melainkan juga melihat konteks sosial, keyakinan pribadi, dan cara seseorang menjelaskan pengalamannya.

Jika keluhan berlangsung lama, terasa menakutkan, atau membuat Anda sulit berfungsi, langkah bijak adalah berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Pemahaman modern tentang dissociation membantu mengurangi stigma dan membuka ruang dialog yang lebih empatik.

Kesimpulan

Dissociation menggambarkan spektrum pengalaman, dari lamunan sehari-hari hingga gangguan yang berat. Pemahaman yang lebih luas, seperti kerangka transtheoretical, menunjukkan bahwa fenomena ini terkait banyak faktor dan tidak selalu berkaitan dengan satu penyebab tunggal.

Dengan mengenali ciri-ciri dissociation dan dampaknya terhadap kehidupan, seseorang dapat lebih peka terhadap kondisi diri maupun orang di sekitarnya. Bila gejala mulai mengganggu fungsi dan rasa aman, mencari bantuan profesional menjadi langkah yang layak dipertimbangkan agar pengalaman ini dapat dipahami dan ditangani dengan tepat.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Healing: Proses Pulih dan Berdamai dengan Diri