Konten dari Pengguna

Distress Tolerance: Pengertian, Manfaat, dan Contoh Praktis

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Distress Tolerance. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Distress Tolerance. Foto Unsplash.

Distress tolerance sering dibahas dalam psikologi modern sebagai kemampuan untuk “bertahan” saat emosi sedang sangat kuat tanpa langsung bereaksi gegabah. Keterampilan ini banyak digunakan dalam terapi seperti Dialectical Behavior Therapy (DBT) untuk membantu orang menghadapi tekanan hidup. Dengan memahami konsepnya, Anda bisa belajar merespons emosi sulit dengan cara yang lebih aman dan selaras dengan tujuan hidup.

Apa Itu Distress Tolerance?

Secara sederhana, distress tolerance adalah kemampuan untuk menoleransi emosi dan situasi yang menyakitkan tanpa harus segera menghilangkannya atau kabur dari masalah.

Menurut Monica Vermani dalam artikel Psychology Today berjudul “Understanding and Strengthening Distress Tolerance” pada blog “A Deeper Wellness”, distress tolerance adalah kemampuan untuk menghadapi dan mengelola emosi negatif. Artikel tersebut menjelaskan bahwa menghindari, menekan, atau mematikan emosi negatif dapat membentuk kebiasaan dan perilaku yang bermasalah. Sebaliknya, distress tolerance mengajak seseorang untuk tetap hadir, memperhatikan kondisi emosional yang tidak nyaman, dan memprosesnya agar mampu merespons situasi sulit dengan lebih sehat, bukan sekadar bereaksi impulsif.

Lain halnya dengan over-control, misalnya memaksa diri terlihat tenang dengan cara menekan emosi sampai tidak terasa sama sekali. Distress tolerance justru mengakui bahwa rasa sakit itu ada, tetapi kita tetap memilih langkah yang mendukung nilai dan tujuan jangka panjang. Dengan begitu, risiko perilaku impulsif seperti ledakan marah, menyakiti diri, atau keputusan drastis bisa berkurang. Tujuan akhirnya adalah membuat kita cukup stabil untuk melewati badai emosi dengan aman.

Ciri-Ciri Orang dengan Distress Tolerance yang Baik

Orang dengan distress tolerance yang baik biasanya mampu mengambil jeda sejenak sebelum merespons saat marah, cemas, atau sedih. Mereka dapat mengakui emosi sulit dengan sikap seperti, “ini berat, tetapi bisa saya lewati,” tanpa langsung menyalahkan diri sendiri.

Selain itu, mereka tetap berusaha menjalankan aktivitas penting seperti bekerja, mengasuh anak, atau belajar meski suasana hati sedang tidak nyaman. Di sisi lain, mereka juga lebih jarang memakai cara pelampiasan yang destruktif, seperti menyakiti diri, melampiaskan agresi pada orang lain, atau lari lewat penggunaan zat secara berlebihan.

Contoh dan Cara Menguatkan Distress Tolerance

Distress tolerance adalah kumpulan keterampilan praktis yang bisa dilatih dari situasi kecil sehari-hari. Artikel dari Psychology Today membahas tujuh langkah sederhana untuk menghadapi emosi negatif, seperti mengenali perasaan yang muncul, memilih untuk tetap hadir, memperhatikan kondisi tubuh, mengatur napas, dan menantang pikiran negatif. Sumber yang sama menjelaskan bahwa dengan mempraktikkan langkah-langkah ini, seseorang dapat memperkuat distress tolerance, membangun resiliensi, serta lebih mampu memproses emosi negatif tanpa langsung menghindari atau mematikannya.

Contoh Distress Tolerance dalam Kehidupan Sehari-Hari

Salah satu contoh adalah saat terjadi konflik dengan pasangan. Alih-alih langsung membalas pesan dengan kata-kata tajam, Anda bisa mengambil jeda 10 menit untuk bernapas dan menuliskan dulu isi hati di catatan sebelum memutuskan apa yang akan dikirim.

Contoh lain muncul ketika cemas menjelang presentasi. Anda mengizinkan rasa cemas hadir, sambil tetap menyiapkan materi dan memakai teknik grounding, seperti mengamati beberapa hal yang terlihat, disentuh, dan didengar di sekitar. Saat menghadapi kehilangan atau penolakan, Anda mengakui rasa sedih dan memberi ruang untuk berduka, namun tetap menjaga rutinitas dasar seperti makan, tidur, dan mandi sebagai bentuk perawatan diri.

Artikel yang sama dari Psychology Today menjelaskan bahwa ketika seseorang mampu duduk bersama emosi negatif, tetap hadir, dan memprosesnya tanpa menghindari atau mematikan emosi tersebut, ia sedang memperkuat distress tolerance. Dengan mempraktikkan langkah-langkah ini secara berulang, seseorang dapat lebih mampu mengatur emosi, merespons situasi sulit dengan lebih sehat, dan membangun resiliensi.

Latihan Sederhana untuk Menguatkan Distress Tolerance

Ada beberapa latihan sederhana yang bisa dicoba. Pertama, latihan “nama dan narasi emosi”: berhenti sejenak, beri nama emosi yang muncul, lalu buat narasi singkat seperti, “saya merasa cemas karena…, dan perasaan ini akan naik-turun.” Cara ini membantu otak merasa lebih terarah.

Kedua, teknik distraksi sehat jangka pendek, misalnya berjalan sebentar, mandi air hangat, atau mendengarkan musik menenangkan sampai intensitas emosi menurun. Ketiga, self-soothing berbasis indra, seperti memakai aroma yang menenangkan, membungkus diri dengan selimut hangat, atau mendengarkan suara yang lembut. Seperti dijelaskan dalam artikel Psychology Today, keterampilan ini berkembang lewat latihan konsisten, dan semakin sering diterapkan pada situasi kecil, semakin siap kita menghadapi krisis emosional yang lebih besar.

Kesimpulan

Distress tolerance membantu kita bertahan di tengah emosi yang menggebu tanpa harus terjebak reaksi impulsif. Keterampilan ini tidak menghapus rasa sakit, tetapi memberi ruang agar kita bisa memilih respons yang lebih bijak dan sejalan dengan nilai hidup.

Dengan memahami pengertian, ciri, serta contoh penerapannya, Anda bisa mulai melatih distress tolerance melalui langkah-langkah sederhana setiap hari. Latihan singkat seperti memberi nama emosi, menggunakan distraksi sehat, dan menenangkan diri lewat indra dapat menjadi fondasi yang kuat untuk kesehatan mental jangka panjang.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Emosi dan Regulasi Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari