Eksistensialisme: Teori Eksistensialisme Psikologi dalam Dunia Klinis
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Eksistensialisme dalam psikologi menawarkan pendekatan yang menekankan makna dan pengalaman hidup manusia. Teori ini sering digunakan sebagai dasar dalam praktik psikologi klinis untuk membantu individu memahami peran dirinya dalam kehidupan. Menurut Kajian Kebenaran Psikologi Eksistensial Rollo May Dalam Dunia Klinis, hasil kajian menunjukkan bahwa teori eksistensial memberikan manfaat dalam dunia klinis terutama dalam bidang psikopatologi dan psikoterapi (Gusti Ayu dkk.,).
Pengertian Eksistensialisme dalam Psikologi
Eksistensialisme dalam psikologi mengacu pada pemikiran yang berpusat pada kebebasan individu dan pencarian makna hidup. Pendekatan ini berkembang dari filsafat eksistensial yang menekankan keberadaan manusia dan tanggung jawab pribadi terhadap hidupnya.
Apa Itu Eksistensialisme?
Eksistensialisme adalah pandangan yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya. Konsep yang diyakini oleh teori ini mengarahkan pada manusia akan pentingnya menemukan kembali hakikat diri dan keberadaannya di dunia (Gusti Ayu dkk.). Psikologi eksistensial melihat manusia sebagai sosok yang aktif dalam membentuk kehidupannya, bukan sekadar korban keadaan. May melihat manusia tinggal dalam dunia yang penuh dengan pengalaman masa kini, dan akhirnya bertanggung jawab terhadap diri mereka selanjutnya (Gusti Ayu dkk.).
Sejarah Singkat Psikologi Eksistensial
Psikologi eksistensial didasarkan dari tulisan-tulisan karya seorang filsuf dan teolog dari Jerman bernama Soren Kierkegaard. Kierkegaard memandang manusia bukanlah sebuah objek dan menentang persepsi subjektif sebagai satu-satunya realita yang dimiliki seseorang. Kierkegaard juga menekankan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab (Gusti Ayu dkk.).
Dalam perkembangan selanjutnya, Rollo May adalah tokoh yang paling bertanggung jawab memadukan filsafat eksistensialisme Eropa itu ke dalam psikologi Amerika (Gusti Ayu dkk., mengutip Olson, 2013). Rollo May pernah bekerja di William Alanson White Institute of Psychiatry, Psychoanalysis and Psychology. Selama bertahun-tahun menjadi terapis, May sangat dipengaruhi oleh aliran eksistensialisme dan menemukan sudut pandang yang baru mengenai manusia, menjadikannya tokoh psikologi eksistensial yang berpengaruh di Amerika (Gusti Ayu dkk.).
May (1958) dalam The Origins and Significance of the Existential Movement in Psychology (dalam May, Angel, & Ellenberger, Existence: A New Dimension in Psychiatry and Psychology) meletakkan fondasi psikologi eksistensial sebagai disiplin klinis yang sistematis.
Konsep Utama Teori Eksistensialisme Psikologi
Eksistensialisme psikologi menyoroti beberapa konsep kunci yang sering jadi acuan dalam praktik klinis. Konsep ini membantu individu memahami diri mereka secara lebih mendalam.
Kebebasan dan Tanggung Jawab Pribadi
Untuk mendapatkan kebebasan dan tanggung jawab, manusia harus melepas kecemasannya dan bertanggung jawab atas takdirnya serta merasakan beban dari kebebasan dan rasa sakit dari tanggung jawabnya (Gusti Ayu dkk., mengutip Kierkegaard melalui Olson, 2013). Artinya, kebebasan memilih tidak datang tanpa konsekuensi — ia selalu diiringi tanggung jawab penuh atas setiap tindakan.
Makna Hidup dan Kecemasan Eksistensial
Pencarian makna hidup menjadi inti dalam psikologi eksistensial Rollo May. Pendekatan eksistensial May dalam proses konseling klinis yaitu membantu klien menemukan makna. Individu didorong untuk mendekati potensinya agar bisa hidup secara autentik. Oleh karena itu akan tumbuh perasaan mengakui dan menerima diri secara positif, yang membuat individu dapat memaknai hidupnya secara baik (Gusti Ayu dkk., mengutip Olson & Hergenhahn, 2011). Konseling eksistensial humanistik membantu klien dalam menemukan makna mengenai diri sendiri dan permasalahan mengenai eksistensi dirinya dengan orang lain dan nilai-nilai spiritualitas atau ketuhanan yang ada dalam dirinya sehingga ketika individu tidak mampu memaknainya akan memunculkan permasalahan dan bahkan sampai gangguan atau patologis (Gusti Ayu dkk.).
Otentisitas dan Hubungan Interpersonal
Terapi eksistensial dapat diterapkan dalam mengatasi masalah psikologis karena intervensi ini dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan tanggung jawab diri, menuntun individu dalam pencarian makna hidup serta mengembangkan kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain (Gusti Ayu dkk., mengutip Rey, 2018).
Penerapan Psikologi Eksistensial di Dunia Klinis
Pendekatan eksistensial banyak digunakan dalam praktik psikologi modern, terutama dalam terapi yang berfokus pada makna dan pengalaman pribadi.
Peran Terapi Eksistensial dalam Praktik Psikologis
Dalam dunia klinis terutama terapi, psikologi eksistensial sering digunakan untuk menangani beberapa permasalahan atau gangguan. Pendekatan eksistensial digunakan pada beberapa subjek dengan keluhan di antaranya gejala depresi, orang dengan penyakit kronis, skizofrenia, dan kecemasan akan masa depan (Gusti Ayu dkk.). Metode intervensi eksistensial mampu membuat subjek mengalami perubahan yang positif dan meningkatkan kualitas hidupnya (Gusti Ayu dkk.).
Implikasi Klinis dari Empat Studi Penelitian
Terdapat empat penelitian klinis yang membuktikan efektivitas pendekatan eksistensial:
Studi 1 — Penyakit Kronis (Kanker): Utama (2018) mengungkapkan bahwa keputusasaan yang berkepanjangan pada penderita penyakit kronis (kanker) dapat diatasi dengan memberikan terapeutik kepada penderita dan dukungan dari keluarga serta orang di sekitarnya. Mereka menemukan eksistensi dirinya bahkan menjadi orang yang lebih bersyukur dan bersemangat dalam menjalani kehidupannya (Gusti Ayu dkk.).
Studi 2 — Depresi: Mintarsih (2021) menunjukkan bahwa subjek dengan gangguan depresi mengalami peningkatan harga diri dan penurunan gejala depresi setelah dilakukan terapi eksistensial dengan melibatkan teknik biblioterapi (Gusti Ayu dkk.).
Studi 3 — Skizofrenia: Sabrina (2017) dalam penelitiannya mengatakan bahwa konseling eksistensial efektif digunakan pada pasien skizofrenia di RSJ Menur. Hasil penelitian menunjukkan subjek mampu melakukan kegiatan yang dapat mengembangkan dirinya ke arah yang positif dan merasa dirinya lebih bermakna (Gusti Ayu dkk.).
Studi 4 — Kecemasan terhadap Masa Depan: Sa'adah (2020) menemukan bahwa konseling eksistensial humanistik dapat membantu subjek dalam pemaknaan mengenai diri sendiri dan permasalahan mengenai eksistensinya dengan orang lain serta kecemasan terhadap masa depannya. Subjek mampu memberikan pemaknaan terhadap masalahnya sehingga dapat lebih tenang (Gusti Ayu dkk.).
Validitas Epistemologis Teori Eksistensial
Berdasarkan kajian dari beberapa jurnal penelitian sebelumnya, teori eksistensial Rollo May telah memenuhi syarat dari teori kebenaran secara koherensi dan juga pragmatis (Gusti Ayu dkk., mengutip Suriasumantri, 2007). Kebenaran koherensi terlihat dari konsistensi hasil di mana semua subjek menunjukkan perubahan yang positif setelah diberikan intervensi dengan menggunakan pendekatan teori eksistensial. Kebenaran pragmatis terlihat dari kegunaan teori eksistensial yang dijadikan sebuah dasar metode intervensi yang diberikan kepada subjek yang mengalami gangguan psikologis dengan hasil yang baik dan positif (Gusti Ayu dkk.).
Kesimpulan dan Relevansi Eksistensialisme dalam Psikologi Modern
Dalam dunia klinis, teori eksistensial Rollo May memiliki andil yang cukup besar dalam psikopatologi dan juga psikoterapi. Konsep tentang menemukan makna dan keberadaan diri pada individu membuat teori ini efektif digunakan pada mereka yang mengalami gangguan atau hambatan secara psikologis. Teori ini mampu membuat seseorang menemukan kembali hakikat dirinya dan kemudian mengubah emosi atau pikiran negatif tersebut menjadi lebih positif (Gusti Ayu dkk.). Teori Eksistensial Rollo May juga telah menunjukkan hasil kebenaran secara koherensi dan pragmatis berdasarkan epistemologi ilmu (Gusti Ayu dkk.).
Relevansi psikologi eksistensial semakin kuat di era modern yang ditandai oleh krisis makna, isolasi sosial, dan kecemasan eksistensial. Yalom (1980) dalam Existential Psychotherapy — salah satu rujukan utama terapi eksistensial modern — mengidentifikasi empat ultimate concerns utama dalam eksistensialisme klinis: kematian, kebebasan, isolasi, dan ketidakbermaknaan; keempatnya memerlukan pendekatan yang berakar pada nilai dan makna, bukan sekadar teknik terstruktur.