Eksperimen Brehm: Teori Disonansi Pasca-Keputusan. Kaitannya dengan Citra Tubuh
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Eksperimen Brehm merupakan salah satu pilar dalam psikologi sosial yang menjelaskan bagaimana manusia memproses pilihan yang telah mereka buat. Meskipun sering dikaitkan dengan pemilihan objek, prinsip-prinsip dalam eksperimen ini juga memiliki relevansi mendalam terhadap cara individu memandang diri mereka sendiri dalam interaksi sosial.
Dua Sisi Eksperimen Brehm: Disonansi dan Citra Tubuh
Penting untuk membedakan dua kontribusi utama Jack Brehm. Pertama, eksperimen klasiknya tahun 1956 mengenai disonansi pasca-keputusan. Kedua, penelitiannya yang lebih baru (1999) mengenai faktor-faktor ketidakpuasan tubuh. Tulisan Aku dan Dia, Cantik Mana? Perbandingan Sosial, Body Dissatisfaction dan Objektivikasi diri karya Maria Helena Suprapto dan Anindito Aditomo berfokus pada sisi kedua, yakni peran teori Brehm dalam memahami ketidakpuasan terhadap tubuh.
Teori Disonansi Pasca-Keputusan (Brehm, 1956)
Dalam psikologi sosial, eksperimen Brehm (1956) menjelaskan bahwa setelah membuat keputusan, individu cenderung meningkatkan penilaian terhadap pilihan yang telah diambil dan merendahkan pilihan yang ditolak. Fenomena ini dikenal sebagai post-decision dissonance.
Faktor Penyebab Ketidakpuasan Tubuh (Brehm, 1999)
Dalam dokumen Aku dan Dia, Cantik Mana? karya Maria Helena Suprapto dan Anindito Aditomo, Brehm dikutip terkait lima faktor utama yang memicu ketidakpuasan terhadap fisik (body dissatisfaction). "Brehm (1999) telah menemukan lima faktor yang menyebabkan body dissatisfaction, yaitu: first impressions culture; kepercayaan bahwa kontrol diri dapat memberikan jalan untuk mencapai tubuh i-deal; standar kecantikan yang tidak mungkin dicapai; rasa tidak puas yang mendalam terhadap kehidupan dan diri sendiri; dan kebutuhan akan kontrol".
Hubungan dengan Objektivikasi Diri dan Perbandingan Sosial
Eksperimen dan teori Brehm juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai diri melalui kacamata orang lain atau standar eksternal. Menurut Suprapto dan Aditomo (2007), objektivikasi diri membuat seseorang lebih kritis terhadap penampilan fisiknya: "self-objectification, yaitu pikiran dan penilaian individual tentang tubuh yang lebih berasal dari perspektif orang ketiga, berfokus pada atribut tubuh yang tampak (seperti: bagaimana penampilan saya), daripada dari perspektif orang pertama yang berfokus pada hak istimewa yang dimilikinya atau atribut tubuh yang tidak tampak"
Selain itu, proses ini sering kali melibatkan perbandingan sosial untuk memvalidasi pilihan atau posisi diri: "perbandingan sosial, yakni proses saat individu membandingkan dirinya dengan orang lain dan dengan ideal self yang biasanya diturunkan dari kultur ideal"
Dampak terhadap Kepuasan Diri
Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat objektivikasi diri seseorang (melihat diri sebagai objek pajangan), semakin tinggi pula tingkat ketidakpuasan mereka terhadap tubuhnya. Berdasarkan temuan Maria Helena Suprapto dan Anindito Aditomo: "ditemukan adanya korelasi positif antara objektivikasi diri dengan body dissatisfaction, dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0.509.
Kesimpulan
Eksperimen Brehm memberikan wawasan tentang kecenderungan manusia untuk merasionalisasi keputusan mereka, baik itu pilihan terhadap benda maupun pilihan terhadap cara memandang diri sendiri. Memahami mekanisme ini membantu individu menyadari bahwa penilaian terhadap "kecantikan" atau "pilihan terbaik" sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis untuk menghindari rasa ragu dan memenuhi standar sosial yang dipersepsikan.