Konten dari Pengguna

Ekspresi Emosi Marah: Pengertian dan Contohnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ekspresi Emosi Marah. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ekspresi Emosi Marah. Gambar: Pexels.

Ekspresi emosi marah adalah bagian dari dinamika perasaan yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah merasakan marah, baik dalam intensitas ringan maupun berat. Namun, cara seseorang mengekspresikan marah bisa berbeda-beda, mulai dari yang sangat kentara hingga yang lebih tersamar.

Apa Itu Ekspresi Emosi Marah?

Berdasarkan laporan penelitian Ekspresi Emosi Marah Remaja Ditinjau dari Kepribadian Narsisistik dan Usia oleh Lucia Hernawati dan Haryo Goeritno dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang (2014). Ekspresi emosi marah menggambarkan bagaimana seseorang menunjukkan kemarahan melalui perilaku, ucapan, atau bahkan bahasa tubuh. Menurut Hernawati dan Goeritno, ekspresi emosi marah merupakan upaya mengomunikasikan status perasaan ketika dalam kondisi marah dan bagaimana merespons emosi marah yang dirasakannya, baik dengan cara menekannya, mengungkapkannya ke luar, ataupun mampu mengontrol perasaan marah yang dirasakannya.

Definisi Ekspresi Emosi Marah

Ekspresi marah adalah respons emosional yang biasanya muncul saat seseorang merasa terancam, dirugikan, atau diperlakukan tidak adil. Menurut Chaplin (2002, dikutip dalam Hernawati & Goeritno, 2014), marah adalah reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan, atau frustrasi. Respons ini bisa berupa reaksi spontan maupun bentuk perilaku yang lebih terkendali.

Ciri-Ciri Ekspresi Marah

Berdasarkan Safaria dan Saputra (2009, dikutip dalam Hernawati & Goeritno, 2014), ciri-ciri orang marah dapat dikenali melalui beberapa aspek. Pada wajah, muncul perubahan warna kulit, getaran pada ujung-ujung jari, buih pada sudut mulut, bola mata memerah, serta hidung kembang-kempis. Pada lidah, muncul makian, celaan, kata-kata yang menyakitkan, dan ucapan-ucapan keji. Pada anggota tubuh, muncul keinginan untuk memukul, melukai, atau merobek. Sementara pada hati, muncul rasa benci, dendam, dan dengki.

Bentuk-Bentuk Ekspresi Emosi Marah

Ekspresi emosi marah tidak selalu terlihat jelas. Ada yang menampilkannya secara terbuka, namun ada juga yang cenderung menahan dan menutupinya dari orang lain. Menurut Spielberger (1998, dikutip dalam Hernawati & Goeritno, 2014), cara mengekspresikan kemarahan tiap orang berbeda-beda, yang dapat dibedakan menjadi tiga macam: anger in (kemarahan yang ditekan ke dalam diri tanpa diekspresikan keluar), anger out (reaksi keluar yang dimunculkan seseorang ketika marah, bisa berupa perbuatan merusak seperti memukul atau menendang), dan anger control (kemampuan seseorang untuk mengontrol atau melihat sisi positif dari permasalahan yang dihadapi).

Ekspresi Marah secara Verbal dan Nonverbal

Ekspresi verbal ditandai dengan ucapan keras, membantah, atau menyalahkan orang lain — sejalan dengan ciri pada lidah yang dijelaskan Safaria dan Saputra (2009) berupa makian dan celaan. Sementara itu, ekspresi nonverbal bisa berupa tatapan tajam, membanting barang, atau gestur tubuh tertentu, yang sejalan dengan bentuk anger out berupa perbuatan merusak seperti memukul atau menendang sesuatu yang ada di dekatnya (Hernawati & Goeritno, 2014).

Contoh Ekspresi Emosi Marah dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam keseharian, ekspresi marah bisa muncul saat menghadapi kemacetan lalu lintas, menerima kritik, atau saat merasa diperlakukan tidak adil. Seseorang mungkin mengeluhkan situasi dengan suara tinggi, menutup pintu dengan keras, atau bahkan memilih diam dan menjauh — sebagaimana ditemukan Hernawati dan Goeritno (2014) pada remaja di SMA YSKI Semarang, di mana sekitar 70% siswa mengekspresikan kemarahannya dengan perilaku destruktif seperti membanting pintu kelas atau membentak teman, sementara 20% mengekspresikannya dengan diam (jothakan).

Faktor yang Mempengaruhi Ekspresi Emosi Marah

Banyak faktor yang memengaruhi bagaimana seseorang mengekspresikan marah, mulai dari kepribadian hingga lingkungan sekitar.

Peran Kepribadian Narsistik dalam Ekspresi Marah

Orang dengan kecenderungan narsistik cenderung lebih mudah marah ketika harga dirinya terganggu. Golmaryami dan Barry (2010, dikutip dalam Hernawati & Goeritno, 2014), dalam penelitiannya pada 45 remaja narsistik di Amerika, menemukan bahwa remaja dengan kepribadian narsistik cenderung agresif, memiliki relasi sosial negatif dengan teman sebaya, dan lebih mudah marah. Mereka bisa menunjukkan kemarahan secara terang-terangan (anger out) maupun dengan sikap dingin dan menghindar (anger in) (Hernawati & Goeritno, 2014).

Lingkungan dan Situasi sebagai Pemicu Marah

Lingkungan yang penuh tekanan, suasana kompetitif, atau masalah hubungan sosial sering menjadi pemicu marah. Menurut Hernawati dan Goeritno (2014), emosi marah dapat diakibatkan oleh keadaan sosial yang menekan atau membuat frustrasi (state anger), di mana faktor kognitif berperan penting dalam menginterpretasikan stimulasi tertentu hingga memunculkan kemarahan.

Pentingnya Memahami Ekspresi Emosi Marah

Memahami ekspresi emosi marah membantu seseorang menilai situasi dan merespons dengan tepat. Hal ini juga bermanfaat untuk menjaga hubungan dengan orang lain.

Dampak Positif dan Negatif Ekspresi Marah

Ekspresi marah bisa berdampak positif jika disalurkan secara sehat dan tepat, karena dapat menyampaikan pesan tentang apa yang tidak disukai dan tidak boleh diulang lagi oleh pihak lain (Hernawati & Goeritno, 2014). Namun jika tidak dikelola, marah dapat merusak relasi dan memicu konflik — Safaria dan Saputra (2009, dikutip dalam Hernawati & Goeritno, 2014) menyebutkan bahwa kemarahan yang tidak terekspresikan dengan tepat dapat memberi dampak psikis yang buruk, seperti munculnya penyesalan berkepanjangan dan disharmoni dalam interaksi sosial.

Cara Mengelola Ekspresi Emosi Marah

Mengelola marah bisa dilakukan dengan menarik napas dalam-dalam, mengambil jeda waktu (timeout), atau berbicara dengan tenang menggunakan komunikasi asertif. Teknik pernapasan dalam terbukti membantu menurunkan detak jantung dan mengurangi ketegangan fisiologis yang menyertai kemarahan, sementara mengambil waktu sejenak untuk menjauh dari situasi pemicu dapat membantu meredakan respons emosional sebelum bereaksi (American Psychological Association, "Strategies for Controlling Your Anger: Keeping Anger in Check", 2011). Kemampuan mengatur emosi sangat penting agar kemarahan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain — sebagaimana ditunjukkan konsep anger control dalam penelitian Hernawati dan Goeritno (2014), yaitu kemampuan seseorang untuk mengontrol atau melihat sisi positif dari permasalahan yang dihadapi dan berusaha konsisten menjaga sikap positif walau menghadapi situasi yang buruk.

Kesimpulan

Ekspresi emosi marah merupakan bagian alami dari perasaan manusia yang perlu dipahami dengan baik. Dengan mengenali bentuk dan faktor pemicunya — termasuk peran kepribadian narsistik dan tekanan lingkungan sosial sebagaimana ditemukan Hernawati dan Goeritno (2014) — seseorang dapat mengelola ekspresi emosi marah secara lebih sehat, misalnya melalui teknik pernapasan dan komunikasi asertif yang direkomendasikan secara ilmiah (APA, 2011). Pemahaman ini penting untuk menjaga hubungan sosial dan menghindari dampak negatif yang mungkin timbul dari kemarahan yang tidak terkendali.