Emotion Focused Coping: Pengertian dan Manfaatnya untuk Kesehatan Emosional
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengelola emosi secara efektif bisa menjadi kunci agar keseharian terasa lebih ringan, terutama saat menghadapi tekanan atau perubahan.
Apa Itu Emotion Focused Coping?
Menurut Tolamise Olasehinde dalam Emotion-Focused Coping and Self-Soothing, emotion-focused coping pertama kali dikonseptualisasikan oleh Lazarus dan Folkman (1984) sebagai cara individu mengelola reaksi emosional terhadap stressor yang tidak dapat mereka kendalikan. Dalam kerangka ini, coping dikategorikan menjadi dua jenis utama: problem-focused coping (bertujuan menyelesaikan atau mengubah stressor) dan emotion-focused coping (bertujuan mengelola dampak emosional dari stressor). Pendekatan ini biasanya digunakan ketika stressor berada di luar kendali individu, seperti pada kasus kehilangan, trauma, atau konflik interpersonal.
Definisi Emotion Focused Coping
Olasehinde menjelaskan bahwa emotion-focused coping mencakup berbagai strategi, termasuk ekspresi emosional, penghindaran, penyangkalan, dan — yang menjadi fokus utama artikel ini — self-soothing. Self-soothing adalah bentuk regulasi emosi yang melibatkan strategi yang dilakukan sendiri untuk meredakan emosi negatif seperti kecemasan, kesedihan, atau kemarahan.
Cara Kerja Emotion Focused Coping dalam Mengelola Stres
Olasehinde menegaskan bahwa mekanisme kunci di balik self-soothing adalah aktivasi sistem saraf parasimpatis, yang melawan respons stres tubuh (fight or flight) dengan menurunkan detak jantung, tekanan darah, dan kadar kortisol. Dengan terlibat dalam perilaku self-soothing, individu dapat kembali ke kondisi tenang secara fisiologis, yang memfasilitasi pemikiran lebih jernih, pemrosesan emosi, dan kesejahteraan secara keseluruhan. Dalam hal ini, self-soothing berfungsi sebagai bentuk "pertolongan pertama emosional" (emotional first aid).
Contoh Strategi Emotion Focused Coping
Olasehinde merinci teknik self-soothing fisik (relaksasi, pijat, pernapasan dalam) dan kognitif (reframing, self-compassion). Riset menunjukkan mindfulness dan meditasi — teknik self-soothing yang umum — mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, mendorong relaksasi dan keseimbangan emosional (Kabat-Zinn, 1990).
Manfaat Emotion Focused Coping bagi Kesehatan Mental
Penerapan emotion focused coping memberikan dampak positif pada kesehatan mental dan keseimbangan emosi. Manfaatnya pun terasa dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Mendukung Proses Self-Soothing
Olasehinde mengutip Gross (2002) yang menunjukkan bahwa self-soothing berfungsi sebagai mekanisme coping kritis dengan memungkinkan individu meregulasi respons emosionalnya sendiri. Studi juga menyoroti manfaat fisiologis teknik self-soothing, seperti penurunan kadar kortisol yang terkait dengan mitigasi stres.
Meningkatkan Resiliensi Emosional
Olasehinde menjelaskan bahwa self-soothing memainkan peran penting dalam resiliensi emosional karena memungkinkan individu memperoleh kembali rasa kendali atas kondisi emosionalnya di tengah kesulitan. Ketika individu mampu menenangkan diri secara efektif, mereka lebih siap mengelola stressor di masa depan, menunjukkan fleksibilitas emosional dan coping adaptif yang lebih besar. Self-soothing juga dapat menumbuhkan rasa self-efficacy, karena individu menyadari bahwa mereka mampu meredakan tekanannya sendiri tanpa selalu bergantung pada sumber kenyamanan eksternal.
Studi dan Temuan Penting
Temuan riset aktual yang dikutip Olasehinde: studi Garland et al. (2015) menemukan bahwa individu yang mempraktikkan mindfulness dan teknik self-soothing (latihan pernapasan, meditasi body scan) menunjukkan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah. Uji klinis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan komponen self-soothing menunjukkan penurunan signifikan pada stres dan perbaikan regulasi emosi pada individu dengan gangguan kecemasan umum (Hofmann et al., 2012). Studi neuroimaging juga menunjukkan bahwa teknik self-soothing seperti meditasi mindfulness mengaktifkan area otak yang terlibat dalam regulasi emosi, termasuk korteks prefrontal dan anterior cingulate cortex, sehingga meningkatkan kontrol emosi dan mengurangi stres (Kirk et al., 2011).
Batasan dan Risiko Emotion Focused Coping
Olasehinde menegaskan bahwa meskipun self-soothing umumnya bermanfaat, strategi ini memiliki keterbatasan bila digunakan secara berlebihan atau dengan cara maladaptif. Perilaku self-soothing yang melibatkan penghindaran — seperti supresi emosi, konsumsi zat berlebihan, atau melepaskan diri dari emosi yang menyakitkan — dapat memberi kelegaan sementara namun gagal mengatasi akar penyebab tekanan. Seiring waktu, bentuk-bentuk self-soothing maladaptif ini dapat menyebabkan penumpulan emosi (emotional numbing), penarikan diri sosial, atau berkembangnya kebiasaan coping yang tidak sehat.
Emotion-focused coping yang efektif karenanya memerlukan keseimbangan antara self-soothing dan strategi coping lain, seperti problem-focused coping atau mencari dukungan sosial. Penting bagi individu untuk mempraktikkan teknik self-soothing sambil tetap membiarkan diri memproses emosi, mencari bantuan bila diperlukan, dan menghadapi stressor secara langsung ketika memungkinkan.
Tips Praktis Menerapkan Emotion Focused Coping
Beberapa langkah praktis meliputi: mengenali perasaan, menerima emosi tanpa menghakimi, dan mencari cara sehat untuk mengekspresikannya — dengan tetap menyeimbangkan strategi ini dengan upaya mengatasi sumber masalah secara langsung bila memungkinkan.
Kesimpulan
Self-soothing, sebagai strategi emotion-focused coping, esensial untuk mengelola tekanan emosional dan meningkatkan resiliensi psikologis. Melalui berbagai teknik seperti pernapasan dalam, mindfulness, dan self-talk positif, individu dapat menenangkan kondisi emosionalnya. Namun, self-soothing harus diimbangi dengan strategi coping lain untuk memastikan pemrosesan emosi dan kesehatan mental jangka panjang — bila digunakan secara tepat, self-soothing mendukung regulasi emosi, kesejahteraan, dan resiliensi menghadapi tantangan hidup.