Konten dari Pengguna

Emotional Flashback: Pengertian dan Ciri-Ciri yang Perlu Diwaspadai

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Emotional Flashback. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Emotional Flashback. Foto Unsplash.

Emotional flashback sering muncul sebagai ledakan emosi yang terasa “berlebihan” dibanding situasi yang sedang terjadi. Banyak orang mengalaminya tanpa sadar, lalu mengira dirinya terlalu sensitif atau dramatis. Memahami apa itu emotional flashback dan ciri-cirinya bisa membantu Anda mengenali pola emosi yang berasal dari luka masa lalu, bukan sekadar reaksi saat ini.

Apa Itu Emotional Flashback?

Emotional flashback dalam psikologi menggambarkan pengalaman ketika emosi dari masa lalu muncul kembali dengan sangat kuat di masa kini. Sensasinya seperti terseret ke situasi lama yang menyakitkan, meski tidak ada gambar atau adegan jelas di kepala.

Menurut James F. Zender dalam artikel populer Psychology Today “Understanding and Managing Flashbacks,” flashback merupakan gejala menyakitkan yang umum dialami setelah seseorang selamat dari peristiwa traumatis. Artikel ini menggambarkannya sebagai ingatan yang muncul secara involunter, sering disertai emotional flooding dan disosiasi, serta sebagai “brief but intense reliving of a memory” yang dapat membuat penyintas perlu kembali diorientasikan ke masa kini.

Berbeda dengan flashback traumatis klasik yang sering digambarkan dalam gangguan stres pascatrauma (PTSD), emotional flashback lebih banyak muncul sebagai gelombang perasaan intens tanpa kilas balik visual. Orang bisa tiba-tiba diliputi rasa takut, malu, atau putus asa, padahal kejadian yang memicu tampak sepele. Di sisi lain, tubuh dan pikiran bereaksi seakan ancaman lama itu hadir kembali.

Bagaimana Emotional Flashback Terjadi

Emotional flashback biasanya berkaitan dengan ingatan emosional yang tersimpan kuat di dalam diri. Pemicu sehari-hari seperti nada bicara keras, ekspresi kecewa, atau penolakan halus bisa mengaktifkan memori tersebut. Akibatnya, reaksi emosi yang muncul jauh lebih besar dibanding situasi yang sebenarnya.

Banyak pengalaman masa kecil yang penuh kritik, penelantaran, atau relasi yang tidak aman meninggalkan jejak semacam ini. Sementara itu, otak belajar mengaitkan sinyal tertentu dengan bahaya, lalu mengulang respons lama saat sinyal serupa muncul lagi. Orang dewasa yang mengalaminya mungkin merasa dirinya “kembali menjadi anak kecil” yang tak berdaya.

Ciri-Ciri Emotional Flashback dan Cara Mengenalinya

Salah satu ciri emotional flashback yang sering muncul adalah perubahan emosi yang tiba-tiba dan intens tanpa alasan yang tampak jelas. Seseorang bisa mendadak sangat marah, panik, atau sedih mendalam setelah komentar ringan atau konflik kecil.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, artikel yang sama dari Psychology Today menjelaskan bahwa flashback dapat melibatkan ingatan yang muncul secara involunter, emotional flooding, disosiasi, rasa kehilangan kontrol atas pikiran, serta pengalaman “reliving of a memory” yang membuat penyintas perlu kembali diorientasikan ke masa kini.

Tanda-Tanda Umum Emotional Flashback

Beberapa tanda yang sering dirasakan antara lain:

- Emosi ekstrem (takut, malu, marah, putus asa) yang datang mendadak.

- Sensasi seperti kembali menjadi versi diri yang lebih muda dan tak berdaya.

- Sulit menenangkan diri, meski situasi sebenarnya tidak terlalu berat.

Selain itu, orang yang sedang mengalami emotional flashback kadang merasa bingung dengan reaksinya sendiri. Mereka tahu secara logis bahwa kondisi saat ini aman, namun tubuh dan emosi tetap bereaksi seolah sedang menghadapi ancaman besar.

Membedakan Emotional Flashback dan Emosi Biasa

Reaksi emosi biasa umumnya sejalan dengan situasi yang terjadi dan mereda setelah beberapa saat. Lain halnya dengan emotional flashback yang terasa lebih panjang, intens, dan berulang pada pola pemicu yang sama, misalnya setiap kali dikritik atau merasa diabaikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, konflik kecil dengan pasangan bisa memicu rasa takut ditinggalkan yang sangat kuat, seakan hubungan akan berakhir saat itu juga. Pola seperti ini memberi petunjuk bahwa yang muncul bukan sekadar emosi sesaat, melainkan gema dari pengalaman lama yang belum selesai diolah.

Kesimpulan

Memahami emotional flashback membantu kita melihat bahwa reaksi emosi yang sangat kuat tidak selalu mencerminkan situasi saat ini. Ada jejak pengalaman masa lalu yang ikut berbicara, terutama ketika muncul pola berulang dengan pemicu yang mirip. Dengan mengenali ciri-cirinya, seseorang bisa mulai memberi jarak antara kejadian sekarang dan memori lama yang aktif.

Emotional flashback bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada bagian diri yang masih membutuhkan rasa aman. Menyadari hal ini bisa menjadi langkah awal untuk mencari dukungan yang tepat, belajar mengelola pemicu, dan membangun cara merespons emosi yang lebih sehat di masa depan.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Healing: Proses Pulih dan Berdamai dengan Diri