Konten dari Pengguna

Emotional Numbing: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Emotional Numbing. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Emotional Numbing. Foto Unsplash.

Emotional numbing sering muncul saat seseorang terlalu lama berada dalam tekanan, tetapi sulit dikenali karena gejalanya tidak sekeras ledakan emosi. Kondisi ini membuat respons perasaan seolah mengecil atau menghilang, baik untuk hal menyenangkan maupun menyedihkan. Oleh karena itu, memahami apa itu emotional numbing dan ciri-cirinya bisa membantu Anda lebih peka pada kondisi mental sendiri.

Apa Itu Emotional Numbing Menurut Riset Terkini

Konsep emotional numbing banyak dibahas dalam kajian kesehatan mental modern, terutama sejak pandemi COVID-19.

Menurut Gen Li, Amir Hampel, Chunbo Li, dan Brian J. Hall dalam artikel “Emotional numbing: A key construct in the assessment of mental health during COVID-19 pandemic”, emotional numbing merujuk pada ketiadaan atau penurunan nyata dalam pengalaman emosional internal dan merupakan salah satu dampak umum setelah traumatic stress. Artikel ini juga menunjukkan bahwa emotional numbing berkaitan dengan intimate partner violence, bereavement, stressful life events, serta outcome kesehatan mental seperti gejala depresi, kecemasan, kesejahteraan psikologis, dan masalah tidur.

Definisi Emotional Numbing dalam Psikologi Klinis

Secara sederhana, emotional numbing adalah kondisi ketika seseorang merasa mati rasa secara emosional. Perasaan senang, sedih, marah, atau haru terasa tumpul, seolah tidak menyentuh batin. Kondisi ini berbeda dengan penekanan emosi ketika seseorang sengaja menahan ekspresi. Lain halnya dengan keletihan emosional yang lebih terasa seperti lelah dan kewalahan, emotional numbing justru membuat orang merasa datar, seperti sudah kehabisan rasa.

Emotional Numbing sebagai Indikator Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Selama pandemi, banyak orang menghadapi ketidakpastian, isolasi sosial, dan ancaman kesehatan dalam waktu lama. Kombinasi faktor ini bisa memicu emotional numbing sebagai bentuk perlindungan jangka pendek agar seseorang tetap bisa menjalani hari. Di sisi lain, bila berlangsung terlalu lama, kondisi ini dapat menjadi tanda terganggunya kesehatan mental, sejajar dengan gejala kecemasan dan depresi.

Ciri-Ciri Emotional Numbing dan Dampaknya pada Kehidupan Sehari-Hari

Emotional numbing sering tidak disadari karena orang merasa masih bisa beraktivitas seperti biasa. Namun, jika dicermati, ada perubahan halus pada cara merasakan dan merespons situasi sehari-hari. Dalam jangka panjang, perubahan ini dapat memengaruhi hubungan, motivasi, dan rasa makna hidup.

Tanda dan Gejala Emotional Numbing yang Perlu Diwaspadai

Beberapa ciri emotional numbing yang sering muncul antara lain:

- Sulit merasakan emosi positif, misalnya tidak terlalu senang saat mendapat kabar baik.

- Reaksi datar ketika mendengar berita buruk atau menghadapi kejadian mengancam.

- Menjauh secara emosional dari keluarga atau teman, merasa seperti terputus dari orang lain.

- Kesulitan menangkap emosi orang lain dan merespons dengan empati.

- Perasaan hampa, kosong, atau seperti “robot” yang hanya menjalani rutinitas.

Dalam riset Gen Li dkk. yang disebutkan sebelumnya, skor emotional numbing yang lebih tinggi berkaitan dengan outcome kesehatan mental yang lebih buruk, termasuk gejala depresi dan kecemasan yang lebih tinggi, gangguan tidur, serta well-being mental yang lebih rendah. Artinya, semakin tinggi tingkat emotional numbing, semakin besar pula indikasi beban psikologis yang dialami seseorang selama konteks pandemi.

Dampak Emotional Numbing terhadap Hubungan, Motivasi, dan Kualitas Hidup

Emotional numbing dapat membuat orang terlihat hadir secara fisik, tetapi tidak terhubung secara batin. Pasangan atau keluarga bisa merasa diabaikan karena tidak mendapat respons emosional yang hangat. Sementara itu, di tempat kerja atau kampus, motivasi dan rasa keterlibatan dapat menurun karena aktivitas terasa hambar dan tidak bermakna. Pada diri sendiri, kondisi ini menyulitkan proses memaknai pengalaman, termasuk duka atau trauma, sehingga pemulihan emosional menjadi terhambat.

Kesimpulan

Emotional numbing menggambarkan keadaan ketika emosi terasa tumpul, baik untuk peristiwa menyenangkan maupun menyakitkan. Kondisi ini dapat muncul sebagai respons terhadap stres berat, seperti yang banyak terjadi selama pandemi COVID-19.

Jika dibiarkan, emotional numbing berisiko mengganggu hubungan, menurunkan motivasi, dan menekan kualitas hidup. Mengenali ciri-cirinya sejak dini memberi kesempatan untuk mencari bantuan profesional, memulihkan kepekaan emosi, dan merawat kesehatan mental dengan lebih sadar.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Psikologi Sosial: Memahami Perilaku dalam Interaksi