Konten dari Pengguna

Gerakan Potensi Manusia: Konsep dan Peranannya dalam Psikologi Humanistik

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gerakan Potensi Manusia. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gerakan Potensi Manusia. Gambar: Pexels.

Gerakan potensi manusia merujuk pada upaya mengenali, mengembangkan, dan memaksimalkan segala kemampuan yang ada dalam diri seseorang. Gerakan ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki kekuatan batin yang jika diasah secara tepat dapat membawa perubahan positif dalam hidupnya.

Definisi Gerakan Potensi Manusia Menurut Psikologi Humanistik

Menurut Ratnawati dan Mirzon Daheri (2021), dalam dokumen Potensi Manusia dalam Pandangan Pendidikan Islam dan Psikologi Humanistik, gerakan ini menuntut bentuk pendidikan baru yang memberikan tekanan lebih besar pada pengembangan potensi seseorang untuk menjadi lebih manusiawi

Definisi ini menekankan pada tercapainya pemuasan atas kebutuhan dasar manusia dan pertumbuhan ke arah aktualisasi diri Dalam sumber tersebut dinyatakan : "Pendidikan ini akan memberi tekanan lebih besar pada pengembangan potensi seseorang, terutama potensinya untuk menjadi manusiawi, memahami diri dan orang lain yang berhubungan dengan mereka, mencapai pemuasan atas kebutuhan dasar manusia dan tumbuh kearah aktualisasi diri"

Latar Belakang Kemunculan Gerakan Potensi Manusia

Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pandangan-pandangan Psikoanalisis dan Behaviorisme yang dianggap telah mereduksi hakikat dan sifat-sifat manusia pada taraf non-manusiawi. Mazhab Psikologi Humanistik memandang bahwa manusia memiliki kualitas yang tipikal insani sebagai karakteristik eksistensinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ratnawati dan Daheri (2021):"Psikologi Humanistik sangat menghargai keunikan pribadi, penghayatan subyektif, kebebasan, tanggungjawab dan terutama kemampuan mengaktualisasikan diri bagi tiap individu"

Tokoh dan Kontribusi Utama dalam Gerakan Potensi Manusia

Abraham Maslow dan Carl Rogers dikenal sebagai tokoh penting yang menggerakkan paradigma ini. Maslow memberikan kontribusi besar melalui teori aktualisasi diri dan kebutuhan bertingkatnya. Dalam dokumen Potensi Manusia dalam Pandangan Pendidikan Islam dan Psikologi Humanistik, disebutkan bahwa Maslow meneliti sifat-sifat atau nilai-nilai yang dimiliki oleh orang-orang yang sehat, yakni pribadi yang teraktualisasikan. Sementara itu, kontribusi Rogers terlihat pada penekanan hubungan manusiawi yang disertai penerimaan tanpa syarat dan pengertian yang empatik. Hal ini memberikan peluang bagi seseorang untuk melakukan organisasi diri dan tumbuh secara optimal

Komponen Potensi Dasar Manusia

Psikologi Humanistik mengidentifikasi beberapa potensi dasar yang harus dikembangkan, antara lain:

Cinta: Keluar dari diri sendiri untuk menerima dan memperlakukan orang lain dengan baik

Kebebasan dan Tanggung Jawab: Kemungkinan untuk menentukan sendiri sikap batin terhadap situasi faktual

Transendensi: Sebuah "gerak untuk menjadi lebih kualitatif" sehingga manusia mencapai kemanusiaan yang lebih penuh dan bernilai

Kesadaran: Unsur penting yang memungkinkan manusia bertindak secara bertanggung jawab

Implikasi Gerakan Potensi Manusia dalam Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, konsep ini menginspirasi metode pembelajaran yang menekankan pada kebebasan, kreativitas, dan penghargaan terhadap keunikan siswa

Pendidikan dipandang sebagai upaya memanusiakan manusia agar mencapai titik optimal sesuai dengan ajaran dan kemampuan individu tersebut

Menurut Ratnawati (2021): "Pendidikan ini akan membantu orang menjadi pribadi yang sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya"

Kesimpulan

Gerakan potensi manusia menyimpulkan bahwa semua manusia memiliki kebutuhan serta kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri

Melalui pendekatan humanistik, setiap individu didorong untuk menemukan makna dan kebahagiaan dalam hidupnya dengan memanfaatkan potensi khas seperti kebebasan, kesadaran, dan dimensi transenden

Keberhasilan aktualisasi diri ini seringkali bergantung pada pemahaman individu terhadap batas kemungkinan yang dapat mereka capai