Gerakan Potensi Manusia: Konsep dan Peranannya dalam Psikologi Humanistik
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gerakan potensi manusia merujuk pada upaya mengenali, mengembangkan, dan memaksimalkan segala kemampuan yang ada dalam diri seseorang. Gerakan ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki kekuatan batin yang jika diasah secara tepat dapat membawa perubahan positif dalam hidupnya.
Definisi Gerakan Potensi Manusia Menurut Psikologi Humanistik
Menurut Ratnawati dan Mirzon Daheri (2021), dalam dokumen Potensi Manusia dalam Pandangan Pendidikan Islam dan Psikologi Humanistik, gerakan ini menuntut bentuk pendidikan baru yang memberikan tekanan lebih besar pada pengembangan potensi seseorang untuk menjadi lebih manusiawi
Definisi ini menekankan pada tercapainya pemuasan atas kebutuhan dasar manusia dan pertumbuhan ke arah aktualisasi diri Dalam sumber tersebut dinyatakan : "Pendidikan ini akan memberi tekanan lebih besar pada pengembangan potensi seseorang, terutama potensinya untuk menjadi manusiawi, memahami diri dan orang lain yang berhubungan dengan mereka, mencapai pemuasan atas kebutuhan dasar manusia dan tumbuh kearah aktualisasi diri"
Latar Belakang Kemunculan Gerakan Potensi Manusia
Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pandangan-pandangan Psikoanalisis dan Behaviorisme yang dianggap telah mereduksi hakikat dan sifat-sifat manusia pada taraf non-manusiawi. Mazhab Psikologi Humanistik memandang bahwa manusia memiliki kualitas yang tipikal insani sebagai karakteristik eksistensinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ratnawati dan Daheri (2021):"Psikologi Humanistik sangat menghargai keunikan pribadi, penghayatan subyektif, kebebasan, tanggungjawab dan terutama kemampuan mengaktualisasikan diri bagi tiap individu"
Tokoh dan Kontribusi Utama dalam Gerakan Potensi Manusia
Abraham Maslow dan Carl Rogers dikenal sebagai tokoh penting yang menggerakkan paradigma ini. Maslow memberikan kontribusi besar melalui teori aktualisasi diri dan kebutuhan bertingkatnya. Dalam dokumen Potensi Manusia dalam Pandangan Pendidikan Islam dan Psikologi Humanistik, disebutkan bahwa Maslow meneliti sifat-sifat atau nilai-nilai yang dimiliki oleh orang-orang yang sehat, yakni pribadi yang teraktualisasikan. Sementara itu, kontribusi Rogers terlihat pada penekanan hubungan manusiawi yang disertai penerimaan tanpa syarat dan pengertian yang empatik. Hal ini memberikan peluang bagi seseorang untuk melakukan organisasi diri dan tumbuh secara optimal
Komponen Potensi Dasar Manusia
Psikologi Humanistik mengidentifikasi beberapa potensi dasar yang harus dikembangkan, antara lain:
Cinta: Keluar dari diri sendiri untuk menerima dan memperlakukan orang lain dengan baik
Kebebasan dan Tanggung Jawab: Kemungkinan untuk menentukan sendiri sikap batin terhadap situasi faktual
Transendensi: Sebuah "gerak untuk menjadi lebih kualitatif" sehingga manusia mencapai kemanusiaan yang lebih penuh dan bernilai
Kesadaran: Unsur penting yang memungkinkan manusia bertindak secara bertanggung jawab
Implikasi Gerakan Potensi Manusia dalam Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, konsep ini menginspirasi metode pembelajaran yang menekankan pada kebebasan, kreativitas, dan penghargaan terhadap keunikan siswa
Pendidikan dipandang sebagai upaya memanusiakan manusia agar mencapai titik optimal sesuai dengan ajaran dan kemampuan individu tersebut
Menurut Ratnawati (2021): "Pendidikan ini akan membantu orang menjadi pribadi yang sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya"
Kesimpulan
Gerakan potensi manusia menyimpulkan bahwa semua manusia memiliki kebutuhan serta kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri
Melalui pendekatan humanistik, setiap individu didorong untuk menemukan makna dan kebahagiaan dalam hidupnya dengan memanfaatkan potensi khas seperti kebebasan, kesadaran, dan dimensi transenden
Keberhasilan aktualisasi diri ini seringkali bergantung pada pemahaman individu terhadap batas kemungkinan yang dapat mereka capai