Gratitude Adalah: Pengertian dan Aspek-Aspek Gratitude dalam Psikologi
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengertian Gratitude dalam Psikologi
Menurut Ikhlas Wardina Salsabila dalam skripsinya Hubungan Gratitude dengan Psychological Well-Being Guru (2022), gratitude berasal dari kata gratia (menyukai) atau gratus (menyenangkan) menurut Emmons (2004). Gratitude merupakan sebuah bentuk emosi atau perasaan yang kemudian berkembang menjadi suatu sikap, sifat moral yang baik, kebiasaan, dan sifat kepribadian, yang akhirnya memengaruhi individu menanggapi atau bereaksi terhadap sesuatu atau situasi (Emmons & McCullough, 2004). Salsabila mengutip Mahardika dan Halimah (2017) yang mendefinisikan gratitude sebagai emosi yang dirasakan individu saat menganggap sesuatu yang baik telah terjadi kepadanya dan menyadari bahwa pihak lain bertanggung jawab atas kebaikan tersebut.
Terdapat dua jenis gratitude: personal (rasa terima kasih ditujukan kepada orang lain) dan transpersonal (ungkapan terima kasih ditujukan kepada Tuhan, kekuatan yang lebih besar, atau alam semesta) — Peterson & Seligman (2004).
Aspek-Aspek Gratitude Menurut McCullough dkk. (2002)
Salsabila merinci empat aspek gratitude sesuai McCullough dkk. (2002):
Intensity — individu yang bersyukur saat mengalami peristiwa baik diharapkan merasa lebih intens bersyukur.
Frequency — individu dengan kecenderungan bersyukur merasakan lebih banyak perasaan bersyukur setiap harinya, yang dapat menimbulkan dan mendukung tindakan serta kebaikan tingkah laku.
Span — jumlah peristiwa kehidupan yang membuat individu merasa bersyukur, misalnya atas keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan.
Density — berkaitan dengan jumlah individu yang menjadi objek rasa syukur; individu yang bersyukur diharapkan dapat menyebutkan lebih banyak nama orang yang membuatnya bersyukur, termasuk orang tua, teman, dan keluarga.
Tiga Fungsi Moral Gratitude
Salsabila, mengutip McCullough (2001), menambahkan tiga fungsi moral gratitude: sebagai barometer moral (afeksi sensitif terhadap perubahan dalam hubungan sosial), sebagai motif moral (mendorong individu membalas kebaikan tanpa niat negatif), dan sebagai penguat moral (mengekspresikan rasa syukur menguatkan perilaku prososial di masa depan).
Pentingnya Gratitude untuk Kesejahteraan Psikologis
Salsabila menegaskan bahwa gratitude merupakan bentuk religiusitas yang berkaitan erat dengan psychological well-being — terutama pada dimensi penerimaan diri, pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, penguasaan lingkungan, dan hubungan positif dengan orang lain (Ryff, 1989).
Kesimpulan
Gratitude adalah emosi yang berkembang menjadi sikap dan sifat kepribadian, dibentuk oleh empat aspek — intensity, frequency, span, dan density (McCullough dkk., 2002) — bukan "pengakuan kebaikan, perasaan syukur, dan respons aktif" seperti disebut sebelumnya.