Konten dari Pengguna

Humanisme dalam Psikologi: Pengertian dan Teori Humanistik

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Humanisme. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Humanisme. Gambar: Pexels.

Psikologi modern tidak lepas dari pendekatan humanisme yang memberikan warna baru dalam memahami manusia. Humanisme menekankan potensi, kebebasan, dan makna hidup setiap individu. Pemahaman mengenai teori dan penerapan humanisme dalam psikologi membantu banyak orang untuk lebih mengenali diri serta menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Apa Itu Humanisme dalam Psikologi?

Humanisme dalam psikologi merupakan salah satu pendekatan utama yang berkembang sejak pertengahan abad ke-20.

Definisi Humanisme Menurut Psikolog

Menurut Mavatih Fauzul 'Adziima dalam artikel Psikologi Humanistik Abraham Maslow (2021), psikologi humanistik biasa disebut dengan psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang menerapkan dengan pengalaman tingkah laku manusia, yang memusatkan pada aktualisasi diri dari seorang manusia (Adziima, 2021.)

Humanistik dapat diartikan sebagai orientasi teoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan freewill (kemauan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya (Syamsu Yusuf LN dan A Juntika Nurihsan, 2011, dikutip dalam Adziima, 2021). Hakikat manusia dalam psikologi humanistik dipandang sebagai mahluk kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri secara genetik dan kodrati (Adziima, 2021).

Ciri-ciri Utama Pendekatan Humanistik

Para ahli psikologi humanistik mempunyai perhatian terhadap isu-isu penting tentang eksistensi manusia, seperti: cinta, kreativitas, kesendirian, dan perkembangan diri (Adziima, 2021). Para ahli teori humanistik memiliki pandangan yang optimistik terhadap hakikat manusia (Adziima, 2021). Makna dan landasan perilaku manusia bagi psikologi humanistik adalah prinsip hidup bermakna atau mewujudkan makna (the will to meaning). Manusia yang mampu menemukan dan mewujudkan makna hidup dalam kehidupan sehari-hari adalah manusia yang hidup dengan makna (Adziima, 2021).

Peran Humanisme dalam Perkembangan Psikologi Modern

Psikologi humanistik adalah sebuah gerakan yang muncul dengan menampilkan gambaran manusia yang berbeda dengan gambaran manusia yang dinyatakan oleh psikoanalisis maupun behaviorisme (Adziima, 2021). Pandangan humanistik membedakan dari dua tradisi klasik dalam psikologi — behavioris dan psikoanalisis — yang cenderung mereduksikan manusia dengan menghilangkan otonominya, sehingga mengarah pada dehumanisasi (Adziima, 2021, Kesimpulan).

Teori Humanisme: Konsep Dasar dan Tokoh Utama

Tokoh-tokoh humanisme telah memperkenalkan teori-teori yang mempengaruhi dunia psikologi hingga kini. Beberapa tokoh kunci di antaranya Abraham Maslow dan Carl Rogers.

Abraham Maslow dan Hierarki Kebutuhan

Abraham Maslow lahir di New York pada 1908 dan wafat pada 1970 di California, Amerika (Adziima, 2021, mengutip Howard S. Friedman dan Miriam W. Schustack, 2008). Ia dikenal sebagai bapak psikologi humanistik populer yang mendorong adanya perubahan sosial yang positif. Maslow ialah psikolog yang oleh banyak pihak digelari sebagai bapak psikologi humanistik, yang berkat teori hierarki kebutuhan yang dicetuskannya, namanya menjadi populer (Adziima, 2021).

Di tahun 1954 Abraham Maslow mempublikasikan karyanya berupa buku dengan judul Motivation and Personality, karya ini menawarkan pengertian baru mengenai konsep kepribadian manusia (Adziima, 2021). Dalam teori motivasinya, Abraham Maslow mengkonstruk teori motivasinya berdasarkan hierarki atau yang lebih dikenal dengan Maslow's Needs Hierarchy Theory / A Theory of Human Motivation (Adziima, 2021). Lima hierarki kebutuhan Maslow mencakup: (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan rasa aman, (3) kebutuhan cinta dan kepemilikan, (4) kebutuhan penghargaan (self-esteem), dan (5) kebutuhan aktualisasi diri.

Sebagai seorang humanis, Maslow menyadari bahwa akan sangat diperlukan suatu teori yang memperhatikan tentang seluruh kemampuan manusia, tidak hanya melihat dari satu aspek yang dimiliki manusia saja (Adziima, 2021). Humanistik yang dibangun oleh Maslow sangat berbeda dengan sikap humanistik yang dibangun oleh pakar psikologi modern; sikap humanistiknya selalu menekankan pada harapan besar terhadap manusia, karena potensi inner yang ada dalam diri manusia memungkinkan untuk dioptimalkan (Adziima, 2021).

Carl Rogers dan Pendekatan Client-Centered

Rogers menekankan pentingnya hubungan terapeutik yang empatik dan menerima tanpa syarat (unconditional positive regard). Pendekatan ini memberi ruang bagi klien untuk menemukan solusi sendiri dan tumbuh secara optimal. Rogers (1961) dalam On Becoming a Person (Houghton Mifflin) merumuskan tiga kondisi inti terapis yang humanistik: empati, keaslian (congruence), dan penerimaan tanpa syarat — yang menjadi landasan pendekatan client-centered dalam dunia konseling dan psikoterapi.

Perbedaan Humanisme dengan Teori Psikologi Lain

Bagi penganut teori humanistik, rangkaian pembelajaran berangkat dan kembali kepada individu. Dari teori-teori belajar behavioristik, kognitif, dan konstruktivistik, teori inilah yang paling abstrak, yang mendekati dunia filsafat (Adziima, 2021, mengutip Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2011). Humanisme berbeda dari psikoanalisis yang fokus pada konflik bawah sadar dan dari behaviorisme yang hanya mengamati perilaku; humanisme lebih menyoroti pengalaman sadar dan potensi positif manusia.

Implikasi Humanisme dalam Kehidupan Sehari-hari

Prinsip humanisme banyak diterapkan dalam bidang konseling, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membantu individu mengenali keunikan dan kekuatan dalam dirinya.

Penerapan Teori Humanistik dalam Konseling dan Pendidikan

Psikologi humanistik memberikan sumbangsihnya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik mengupayakan agar keseluruhan individu berusaha mengembangkan potensi yang ada pada dirinya melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik (Adziima, 2021). Dalam teori humanistik, guru adalah sebagai fasilitator dalam dunia pendidikan (Adziima, 2021).

Teori humanistik dapat diterapkan dalam pendidikan agama Islam karena humanistik bersifat pembentukan karakter (Adziima, 2021). Dalam konseling, prinsip humanistik membantu konselor membangun hubungan yang suportif dan non-judgemental, sementara siswa didorong untuk aktif, kreatif, dan bertanggung jawab atas proses belajarnya.

Kelebihan dan Keterbatasan Pendekatan Humanistik

Kelebihan teori humanistik antara lain: sangat cocok diterapkan untuk materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian; memberikan kepercayaan diri kepada peserta didik karena sangat menghargai pendapat dari orang lain (Adziima, 2021). Keterbatasannya: lingkungan dan arahan yang mendukung menjadikan penentu keberhasilan peserta didik — jika lingkungannya tidak mendukung maka akan mencetak kepribadian yang tidak sesuai dengan moral (Adziima, 2021,). Selain itu, siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar (Adziima, 2021).

Kesimpulan

Humanisme dalam psikologi membawa perspektif baru yang menyoroti potensi, kebebasan, dan makna hidup manusia. Berdasarkan kajian Adziima (2021) dalam Jurnal Tana Mana, hakikat manusia dalam psikologi humanistik dipandang sebagai makhluk kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri — berbeda dari psikoanalisis dan behaviorisme yang cenderung mereduksikan manusia. Teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow dan pendekatan client-centered Carl Rogers tetap relevan dalam praktik konseling dan pendidikan saat ini. Dengan memahami nilai-nilai humanistik, individu dapat mengembangkan diri secara lebih positif dan menemukan makna hidup yang sejati.