Identity Crisis: Pengertian dan Contoh dalam Kehidupan Remaja
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Identity crisis adalah fenomena yang sering muncul, terutama di kalangan remaja yang sedang mencari jati diri. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri, menentukan nilai, dan mengambil keputusan. Untuk memahami lebih dalam, penting mengenal penyebab, contoh, dan cara mengatasi identity crisis agar setiap individu mampu menghadapi masa transisi dengan lebih tenang.
Apa Itu Identity Crisis?
Identity crisis atau krisis identitas diri merujuk pada kondisi ketika seseorang tidak mampu menentukan peran atau identitas dirinya sendiri. Menurut Dr. Bapi Mishra dan Moslema Khatun dalam artikel A Study on Self Identity Crisis of Secondary Students (2014), ketika seorang individu tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti "Siapa saya?", "Apa yang bisa saya lakukan?", "Apa posisi saya dalam masyarakat?", "Apa tujuan hidup saya?" — maka orang tersebut diidentifikasi sebagai pemilik krisis identitas diri (self-identity crisis). Masalah praktis dari "saya," "milik saya," dan "diri saya" inilah yang merepresentasikan krisis identitas diri.
Istilah 'identity crisis' pertama kali digunakan oleh Erik Erikson dan pada dasarnya ditemukan di antara tahap perkembangan masa kanak-kanak dan remaja — yaitu fase di mana krisis ini pertama kali muncul dalam perkembangan manusia. Mishra dan Khatun (2014) menegaskan bahwa berbagai pengaruh sosial (social influences) merupakan faktor-faktor yang bertanggung jawab dalam memunculkan jenis krisis ini pada manusia.
Definisi Self Identity
Mishra dan Khatun (2014) mendefinisikan 'self' individu sebagai esensi dari keberadaan manusia atau perasaan 'Aku'; perasaan tersebut diarahkan oleh spirit atau jiwa manusia. Ketika seseorang dapat menentukan identitas, posisi, atau status dirinya sendiri, maka perasaan tersebut dianggap sebagai self-identity (identitas diri). Sebaliknya, ketika seseorang tidak mampu menentukan peran atau identitasnya, maka kondisi manusia tersebut dianggap sebagai identity crisis.
Dalam konteks lebih luas, Mishra dan Khatun mengutip Maslow yang mengidentifikasi kebutuhan identitas sebagai Social Needs atau Needs for Belongingness. Identitas positif harus ditingkatkan untuk meningkatkan level kepercayaan diri di kalangan remaja, dan partisipasi aktif dalam kegiatan sosial serta menjadi pemilik identitas atau self-image yang positif merupakan kebutuhan dasar.
Faktor Penyebab Identity Crisis
Mishra dan Khatun (2014) menjelaskan bahwa self-identity crisis memiliki beberapa determinan — di antaranya hubungan sosial yang tidak tepat (inappropriate social relationship) atau tidak adanya pengaruh sosial pada seseorang (absence of social influence on man) — dan ini merupakan faktor fundamental yang bertanggung jawab sebagaimana yang diyakini oleh Erik Erikson. Penelitian Mishra dan Khatun menggunakan tujuh dimensi untuk mengukur krisis identitas, yaitu: (a) ketidakpastian peran diri sendiri, (b) pertanyaan pada diri sendiri tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan, (c) krisis identitas gender, (d) kebingungan ekspektasi, (e) krisis dalam mengikuti aspek aksiologis kehidupan, (f) eksperimentasi peran individual, dan (g) ketidakpunktualitas dalam menjalankan kewajiban.
Mishra dan Khatun (2014) juga menyebutkan bahwa sosialisasi di sekolah adalah proses fundamental yang berpengaruh penting dalam membentuk kepribadian manusia yang sehat, dan juga dapat memberikan kesempatan untuk melatih diri. Berbagai atribut sosial seperti hubungan sosial, interaksi, komunikasi dengan orang lain, kerja sama, simpati, kebersamaan, dan perasaan kelompok adalah beberapa target dari proses sosialisasi ini.
Temuan Penelitian: Identity Crisis pada Siswa Sekolah Menengah
Penelitian Mishra dan Khatun (2014) dilakukan pada 200 siswa sekolah menengah (SMP-SMA) di Dakshin Dinajpur District, West Bengal, India — 50 laki-laki, 50 perempuan, 50 siswa perkotaan, dan 50 siswa pedesaan. Hasil penelitian menemukan bahwa tingkat krisis identitas diri yang moderat (moderate self-identity crisis) ditemukan pada siswa sekolah menengah di semua strata yang telah ditentukan. Pada siswa perempuan perkotaan, ditemukan krisis identitas yang sedikit lebih rendah, sementara pada siswa laki-laki pedesaan ditemukan krisis identitas yang sedikit lebih tinggi.
Temuan penting: tidak ada perbedaan signifikan berdasarkan gender maupun lokasi (perkotaan vs. pedesaan). Mishra dan Khatun menyimpulkan bahwa gender, lokasi, dan kombinasi keduanya bukanlah penentu fundamental dalam menghasilkan krisis identitas diri di kalangan siswa — kemungkinan ada faktor-faktor berpengaruh lain yang bertanggung jawab secara fundamental dalam menciptakan identity crisis, seperti pengaruh orang tua terhadap sosialisasi dan komunikasi sosial.
Dampak Identity Crisis terhadap Perilaku Remaja
Mishra dan Khatun (2014) menegaskan bahwa hambatan fundamental untuk mencapai pendidikan menengah yang berkualitas adalah kurangnya sifat-sifat positif dan berlebihnya sifat-sifat negatif — dan identity crisis pada dasarnya menumbuhkan berbagai sifat negatif pada diri manusia. Penelitian ini juga membuktikan relevansi teori perkembangan psikososial Erik Erikson pada siswa: untuk pengembangan kepribadian yang seimbang dan perkembangan sifat kepribadian yang positif di kalangan siswa, pengendalian identity crisis yang tepat sangat diperlukan.
Menurut teori psikososial Erikson, perkembangan psikologi manusia berhubungan positif dengan masyarakat dan pengaruhnya. Pengaruh sosial yang positif dan terarah dapat menghasilkan identitas manusia atau self-image yang positif.
Cara Mengatasi Identity Crisis
Menghadapi identity crisis membutuhkan strategi khusus agar remaja mampu mengenal diri dengan lebih baik. Dukungan lingkungan juga memegang peranan penting dalam proses ini.
Strategi Penguatan Diri bagi Remaja
Mishra dan Khatun (2014) menekankan bahwa identitas positif harus ditingkatkan untuk meningkatkan level kepercayaan diri di kalangan remaja. Partisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan menjadi pemilik identitas atau self-image yang positif merupakan kebutuhan dasar. Remaja dapat mulai dengan mengenali minat, keterampilan, dan nilai-nilai pribadi secara jujur — serta melibatkan diri dalam aktivitas yang memungkinkan eksplorasi peran (individual role experimentation).
Selain itu, literatur Erikson (dikutip dalam Mishra & Khatun, 2014) menekankan bahwa membangun self-image yang positif melalui interaksi sosial yang sehat adalah kunci dalam mengatasi krisis identitas di masa remaja.
Peran Lingkungan Sosial dan Pendidikan
Mishra dan Khatun (2014) menegaskan bahwa sosialisasi di sekolah adalah proses fundamental yang bertanggung jawab secara kritis dalam membentuk kepribadian manusia yang sehat. Pengaruh masyarakat dapat mengembangkan kelayakan yang dimaksudkan (intended eligibility) di kalangan siswa pada tahap remaja. Penelitian Mishra dan Khatun juga menyarankan bahwa pengaruh orang tua terhadap sosialisasi dan komunikasi sosial kemungkinan merupakan faktor berpengaruh penting — yang mengindikasikan perlunya keterlibatan aktif keluarga dalam mendampingi remaja yang mengalami identity crisis.
Kesimpulan
Identity crisis adalah krisis ketika seseorang tidak mampu menentukan identitas, peran, dan posisi dirinya dalam masyarakat. Kondisi ini pada dasarnya muncul pada masa transisi remaja menuju dewasa, sebagaimana dikonseptualisasikan dalam teori Psychosocial Development Erik Erikson. Penelitian Mishra dan Khatun (2014) menemukan tingkat identity crisis moderat pada siswa sekolah menengah, tanpa perbedaan signifikan berdasarkan gender maupun lokasi, yang menunjukkan bahwa identity crisis adalah fenomena universal di kalangan remaja. Pengaruh sosial yang positif — dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar — serta partisipasi aktif dalam kegiatan sosial merupakan kunci dalam membantu remaja melewati masa pencarian jati diri ini dan berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat.