Impostor Syndrome adalah: Pengertian dan Dampaknya terhadap Kesejahteraan Mental
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Impostor syndrome adalah istilah yang menggambarkan perasaan ragu pada diri sendiri, meski sebenarnya seseorang sudah memiliki prestasi atau kompetensi yang diakui. Banyak orang mengalami gejala ini di berbagai tahap kehidupan, terutama di lingkungan kerja. Fenomena ini ternyata berkaitan erat dengan kondisi mental dan kesejahteraan psikologis individu.
Apa Itu Impostor Syndrome?
Fenomena impostor syndrome telah banyak dibahas dalam dunia psikologi.
Menurut Thasya Prettycia, Nichole Aurelia, dan Reza Fahlevi dalam artikel jurnal penelitian kuantitatif berjudul "Peran Impostor Syndrome Terhadap Kesejahteraan Karyawan Generasi Z", impostor syndrome merupakan kondisi psikologis ketika individu merasa tidak layak atas pencapaian yang dimiliki, meskipun terdapat bukti keberhasilan yang jelas. Kondisi ini juga ditandai dengan keraguan terhadap kemampuan diri serta perasaan bahwa keberhasilan yang diraih bukan benar-benar berasal dari kemampuan pribadi.
Pengertian Impostor Syndrome
Impostor syndrome adalah pola pikir yang membuat seseorang meragukan pencapaiannya sendiri dan khawatir akan dianggap tidak kompeten. Meski sudah membuktikan kemampuannya, individu tetap merasa dirinya kurang layak.
Ciri-ciri Seseorang Mengalami Impostor Syndrome
Beberapa ciri yang umum ditemukan meliputi perasaan cemas berlebihan, takut gagal, dan sulit menerima pujian. Seseorang juga cenderung menyalahkan diri sendiri atas hal kecil yang sebetulnya wajar terjadi.
Faktor Penyebab Munculnya Impostor Syndrome
Penyebab impostor syndrome bisa bermacam-macam. Lingkungan kerja yang kompetitif, tekanan sosial, hingga ekspektasi diri yang terlalu tinggi sering menjadi pemicunya.
Peran Impostor Syndrome terhadap Kesejahteraan Mental
Impostor syndrome berhubungan erat dengan kesehatan mental seseorang.
Menurut Thasya Prettycia, Nichole Aurelia, dan Reza Fahlevi dalam artikel jurnal penelitian kuantitatif berjudul "Peran Impostor Syndrome Terhadap Kesejahteraan Karyawan Generasi Z", impostor syndrome tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan kerja karyawan Generasi Z dalam penelitian ini. Namun, kondisi tersebut tetap dapat berdampak negatif secara psikologis, seperti menurunkan rasa percaya diri, meningkatkan stres, dan mengganggu kepuasan kerja.
Dampak Impostor Syndrome pada Kesejahteraan Psikologis
Perasaan tidak percaya diri yang terus-menerus bisa membuat individu merasa stres, cemas, bahkan depresi. Kondisi ini juga berpengaruh pada cara seseorang memandang diri sendiri dan kehidupan sehari-hari.
Hubungan antara Impostor Syndrome dan Stres pada Generasi Z
Lintar Untar menyebutkan generasi Z tergolong rentan mengalami stres kerja akibat impostor syndrome. Lingkungan kerja yang dinamis dan ekspektasi tinggi kerap memperburuk kondisi tersebut.
Implikasi bagi Lingkungan Kerja dan Kehidupan Sehari-hari
Impostor syndrome berdampak pada performa kerja, relasi sosial, hingga pengambilan keputusan. Individu yang mengalaminya cenderung menahan diri untuk berkembang dan sulit membangun kepercayaan diri.
Cara Mengatasi Impostor Syndrome untuk Meningkatkan Kesejahteraan Mental
Mengelola impostor syndrome memerlukan strategi yang konsisten dan dukungan lingkungan sekitar.
Langkah-langkah Praktis Mengelola Impostor Syndrome
Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain menerima pencapaian, berbicara dengan mentor, serta menjaga keseimbangan hidup. Cara ini membantu membangun rasa percaya diri secara perlahan.
Pentingnya Dukungan Sosial dan Profesional
Dukungan dari rekan kerja maupun tenaga profesional sangat penting dalam proses pemulihan.
Menurut sumber sebelumnya, lingkungan kerja yang mendukung, dukungan sosial, resiliensi, dan konteks organisasi dapat berperan penting dalam membentuk kesejahteraan kerja karyawan. Individu dengan dukungan sosial yang tinggi dinilai lebih mampu mengelola stres dan dampak negatif dari impostor syndrome, sehingga perusahaan perlu menciptakan suasana kerja yang sehat dan suportif.
Kesimpulan
Impostor syndrome adalah fenomena psikologis yang bisa memengaruhi kesejahteraan mental, terutama di lingkungan kerja. Kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan diri, memicu stres, dan menghambat perkembangan individu. Dengan memahami penyebab, dampak, serta cara mengatasinya, seseorang bisa membangun mental yang lebih sehat dan siap menghadapi tantangan ke depan.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Self Improvement: Proses Menjadi Versi Terbaik Diri