Impulsive Decision adalah: Pengertian, Contoh, dan Penjelasan Lengkap
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keputusan yang diambil secara spontan tanpa banyak pertimbangan sering kali disebut impulsive decision. Fenomena ini banyak terjadi dalam kehidupan modern, terutama ketika seseorang menghadapi berbagai pilihan secara cepat. Memahami impulsive decision adalah langkah awal untuk mengenali kebiasaan dan pola pikir saat mengambil keputusan.
Pengertian Impulsive Decision
Impulsive decision adalah keputusan yang dibuat secara tiba-tiba tanpa proses berpikir yang matang. Jurnal Pengambilan Keputusan dan Pembelian Impulsif pada Mahasiswa oleh Arini Sholawati, secara spesifik meneliti pembelian impulsif (impulse buying) di kalangan mahasiswa. Menurut Coley (2002, dikutip dalam Sholawati), pembelian impulsif adalah pembelian yang terjadi karena adanya dorongan yang kuat dan terjadi secara tiba-tiba tanpa pertimbangan sebelumnya.
Definisi Impulsive Decision
Secara umum, impulsive decision berarti mengambil langkah tertentu secara mendadak, sering kali didorong oleh emosi atau situasi yang berlangsung cepat. Mowen dan Minor (2001, dikutip dalam Sholawati) menjelaskan bahwa pembelian impulsif adalah tindakan membeli yang dilakukan tanpa pertimbangan sebelumnya, atau niat membeli muncul saat berada di dalam toko — dilakukan atas desakan hati yang kuat, muncul secara tiba-tiba dan tidak direncanakan, serta tanpa banyak memperhatikan akibat yang ditimbulkan.
Karakteristik Keputusan Impulsif
Ciri utama impulsive decision adalah ketidaksadaran penuh atas konsekuensi yang mungkin muncul. Setiadi (2008, dikutip dalam Sholawati) menjelaskan bahwa individu yang mengambil keputusan secara emosional cenderung mengandalkan intuisi dan bertindak secara spontan, sehingga membuatnya menjadi impulsif — berbeda dengan individu yang mengambil keputusan secara kognisi, yang lebih mempertimbangkan untuk mencari informasi terlebih dahulu. Keputusan impulsif cenderung dilakukan secara refleks, berbeda dengan keputusan rasional yang melalui proses analisis dan evaluasi.
Faktor Penyebab Impulsive Decision
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengambil keputusan secara impulsif. Faktor-faktor ini dapat berasal dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar.
Faktor Internal
Temuan utama penelitian Sholawati justru menunjukkan emosi positif — bukan stres atau kemarahan — sebagai pendorong dominan pembelian impulsif. Sebanyak 219 dari 271 mahasiswa yang menjadi subjek penelitian melaporkan memiliki emosi positif saat melakukan pembelian impulsif, menunjukkan bahwa aspek afektif, khususnya positive buying emotion, paling berpengaruh terhadap pembelian impulsif. Suhaily dan Soelasih (2014, dikutip dalam Sholawati) menyebutkan bahwa pembelian impulsif didasarkan pada faktor afektif seperti pleasure — perasaan gembira, bahagia, bahkan kepuasan yang dirasakan individu saat membeli. Selain itu, kepribadian yang cenderung spontan juga meningkatkan risiko seseorang bertindak tanpa rencana.
Faktor Eksternal
Menurut Engel dkk. (1994, dikutip dalam Sholawati), faktor-faktor yang berpengaruh pada pembelian impulsif terbagi menjadi faktor personal (kepribadian, motivasi, kepercayaan, dan gaya hidup) serta faktor lingkungan (situasi, kelompok, dan budaya). Lingkungan sosial dan tekanan kelompok sejalan dengan faktor lingkungan ini. Situasi mendesak atau adanya penawaran menarik juga dapat memengaruhi seseorang untuk bertindak cepat tanpa berpikir panjang.
Contoh Impulsive Decision dalam Kehidupan Sehari-hari
Impulsive decision, dalam konteks penelitian Sholawati, secara spesifik diteliti pada perilaku pembelian di kalangan mahasiswa.
Contoh pada Mahasiswa
Mahasiswa kerap melakukan pembelian barang secara tiba-tiba. Berdasarkan penelitian sebelumnya (Purnama, 2015, dikutip dalam Sholawati) pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, bentuk pembelian impulsif yang paling banyak ditemukan adalah reminder impulse buying — yaitu pembelian produk karena adanya informasi yang diingat dari iklan atau media sosial — sejalan dengan temuan Sholawati bahwa 67,52% mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar berada dalam kategori pembelian impulsif sedang, dan 17,7% berada dalam kategori tinggi.
Contoh di Lingkungan Sosial Lain
Jurnal Sholawati berfokus pada perilaku pembelian (impulse buying), bukan keputusan impulsif dalam konteks kerja atau pertemanan secara umum.
Dampak dan Cara Mengendalikan Impulsive Decision
Setiap keputusan impulsif memiliki dampak yang perlu diwaspadai, namun bukan berarti tidak bisa dikendalikan.
Dampak Negatif Keputusan Impulsif
Kerugian finansial menjadi salah satu risiko utama dari keputusan impulsif, terutama jika dilakukan berulang. Berdasarkan hasil analisis korelasi Spearman Rank dalam penelitian Sholawati, ditemukan hubungan positif signifikan antara pengambilan keputusan secara emosional dengan pembelian impulsif (r = 0,337; p < 0,01), sementara pengambilan keputusan secara kognitif tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan pembelian impulsif (r = 0,090; p = 0,140). Temuan ini konsisten dengan teori Pfister dan Bohm (2008, dikutip dalam Sholawati) bahwa pengambilan keputusan idealnya adalah proses mental yang rasional tanpa emosi, dan emosi yang muncul dapat mengganggu proses rasionalitas tersebut.
Cara Mengendalikan Impulsive Decision
Penelitian Sholawati merupakan studi korelasional yang mengukur hubungan antarvariabel, bukan panduan intervensi praktis untuk mengendalikan perilaku impulsif. Berdasarkan riset internasional tentang manajemen impulsivitas, beberapa teknik berbasis bukti yang dapat diterapkan antara lain: teknik "STOP" (Stop, Take a step back, Observe, Proceed mindfully) — berhenti sejenak, mundur selangkah, amati situasi, lalu lanjutkan dengan penuh kesadaran (Laman Psychology Fanatic, Managing Impulsivity: Strategies for Self-Control); aturan "hitung sampai sepuluh" untuk memberi waktu bagi otak rasional memproses implikasi tindakan sebelum bertindak (Said Hasyim, How to Overcome Impulse Decisions with Self-Control); serta menetapkan tujuan yang jelas dan terukur untuk memudahkan penolakan terhadap godaan sesaat. Restrukturisasi kognitif — menantang dan membingkai ulang pikiran impulsif, misalnya mengganti "saya butuh ini sekarang" dengan "saya bisa menunggu dan membuat keputusan yang lebih baik" — juga terbukti efektif (Laman Our Mental Health, Effective Strategies for Managing Impulsivity). Langkah sederhana seperti memberi jeda sebelum mengambil keputusan dapat membantu mengurangi perilaku impulsif. Penting juga untuk selalu mempertimbangkan manfaat dan risiko sebelum bertindak, serta berkomitmen berdiskusi dengan orang terpercaya sebelum mengambil keputusan besar (Laman Talkiatry, How to Get Impulsive Behavior Under Control). Kontrol diri sangat diperlukan agar tidak mudah tergoda bertindak spontan.
Kesimpulan
Impulsive decision adalah tindakan memilih secara tiba-tiba tanpa pertimbangan matang yang dipengaruhi berbagai faktor internal maupun eksternal. Penelitian Sholawati pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar membuktikan bahwa pengambilan keputusan secara emosional — khususnya yang didorong emosi positif — berhubungan signifikan dengan pembelian impulsif, sementara pengambilan keputusan secara kognitif tidak. Keputusan semacam ini dapat berdampak kurang baik jika dilakukan terus-menerus, terutama dalam hal keuangan. Dengan melatih kontrol diri melalui teknik berbasis bukti seperti jeda sebelum bertindak dan restrukturisasi kognitif, seseorang dapat mengurangi peluang mengambil keputusan impulsif di masa mendatang.