Isolasi Sosial: Pengertian dan Ciri-Cirinya yang Perlu Diketahui
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isolasi sosial menjadi salah satu tantangan yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dapat memengaruhi interaksi seseorang hingga berdampak pada emosinya, bahkan jika terjadi dalam waktu lama, bisa mengganggu kesehatan mental. Oleh karena itu, memahami ciri dan penyebab isolasi sosial sangat penting agar masyarakat dapat mengenali dan memberikan dukungan yang tepat.
Apa Itu Isolasi Sosial?
Isolasi sosial adalah kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga merasa terasing atau dijauhkan dari pergaulan. Menurut Piana, Hasanah, dan Inayati (2022) dalam Penerapan Cara Berkenalan pada Pasien Isolasi Sosial, isolasi sosial merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dan hubungan dengan orang lain.
Penyebab dan Dampak Isolasi Sosial
Piana, Hasanah, dan Inayati (2022) menjelaskan bahwa isolasi sosial merupakan diagnosa penyerta dan selalu muncul sebagai dampak dari diagnosa gangguan jiwa lainnya — artinya, isolasi sosial umumnya bukan diagnosis utama, melainkan kondisi yang menyertai gangguan jiwa lain. Berdasarkan data Riskesdas 2018 (dikutip dalam Piana, Hasanah, & Inayati, 2022), prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia mengalami kenaikan menjadi 1,8 per mil, dengan provinsi terbanyak meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Banten. Data di Ruang Melati Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung (Juni–Agustus 2020) mencatat 7 dari total pasien (16,3%) mengalami isolasi sosial, di samping pasien dengan halusinasi (39,5%), risiko perilaku kekerasan (37,2%), defisit perawatan diri (4,7%), dan harga diri rendah (2,3%).
Piana, Hasanah, dan Inayati (2022) menyatakan bahwa isolasi sosial mampu menyebabkan halusinasi apabila tidak segera ditangani. Dampak negatif tersebut tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga bisa memengaruhi hubungan sosial di sekitarnya.
Ciri-Ciri Isolasi Sosial
Mengenali gejala isolasi sosial sangat membantu dalam proses pemulihan. Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2016, dikutip dalam Piana, Hasanah, & Inayati, 2022) merinci sebelas tanda gejala isolasi sosial yang spesifik, yang tidak sepenuhnya tercakup dalam pembagian umum sebelumnya, yaitu: afek datar, afek sedih, ingin kesendirian, ketidakmampuan memenuhi harapan orang lain, menarik diri, menunjukkan permusuhan, merasa tidak aman di tempat umum, perasaan beda dari orang lain, riwayat ditolak, tidak ada kontak mata, dan tidak mempunyai tujuan.
Perubahan Pola Interaksi
Orang yang mengalami isolasi sosial biasanya sulit membangun hubungan baru dan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar. Mereka sering menghindari percakapan atau memilih untuk sendiri dalam berbagai situasi — sejalan dengan tanda "ingin kesendirian" dan "menarik diri" pada daftar SDKI di atas.
Tanda Emosional dan Perilaku
Secara emosional, isolasi sosial tampak dari ekspresi wajah yang datar atau tidak merespons situasi sekitar. Menurut Piana, Hasanah, dan Inayati (2022), afek datar adalah tidak ada perubahan pada raut muka pada saat ada stimulus yang menyenangkan atau menyedihkan — afek sendiri adalah respons emosional saat sekarang yang dapat dinilai melalui raut wajah, pembicaraan, sikap, dan gerak-gerik tubuh. Bicara mereka menjadi terbatas dan lebih memilih diam, bahkan terhadap keluarga dekat.
Respon Pasien Terhadap Lingkungan
Kurangnya minat mengikuti aktivitas sosial atau enggan terlibat dalam kegiatan kelompok juga menjadi ciri lain dari isolasi sosial. Berdasarkan hasil studi kasus Piana, Hasanah, dan Inayati (2022), pasien dengan isolasi sosial menunjukkan tanda seperti tidak ada kontak mata dan menolak berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya.
Pentingnya Pendekatan Berkenalan pada Pasien Isolasi Sosial
Melakukan pendekatan secara bertahap, seperti memperkenalkan diri dengan hangat, dapat membantu pasien isolasi sosial merasa lebih nyaman. Menurut Piana, Hasanah, dan Inayati (2022), tahapan melatih cara berkenalan untuk meningkatkan sosialisasi terdapat dalam strategi pelaksanaan (SP) yang meliputi tiga fase: fase orientasi, fase kerja, dan fase terminasi. Tujuan penerapan cara berkenalan pada pasien dengan isolasi sosial adalah untuk meningkatkan kemampuan sosialisasi pasien secara bertahap, khususnya memperkenalkan diri kepada orang lain, menanyakan nama orang lain, dan menanyakan alamat orang lain.
Kesimpulan
Isolasi sosial dapat dikenali melalui perubahan interaksi, emosi, dan respon terhadap lingkungan, sebagaimana dirinci dalam sebelas tanda gejala menurut SDKI (2016). Memahami ciri-ciri isolasi sosial sangat penting agar siapa pun bisa memberikan dukungan yang dibutuhkan, mengingat kondisi ini berpotensi menyebabkan halusinasi jika dibiarkan tanpa penanganan. Berdasarkan studi kasus Piana, Hasanah, dan Inayati (2022), pendekatan bertahap seperti memperkenalkan diri secara terstruktur melalui tiga fase (orientasi, kerja, terminasi) terbukti efektif menurunkan gejala isolasi sosial dan meningkatkan kemampuan berkenalan pasien.