Julian Rotter: Teori, Kontribusi, dan Karier
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Julian Rotter dikenal sebagai salah satu tokoh besar dalam dunia psikologi. Gagasannya tentang locus of control memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana seseorang memandang pengaruh dirinya terhadap peristiwa yang terjadi dalam hidup. Kontribusi Rotter tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga mewarnai praktik psikologi hingga saat ini.
Pengenalan Julian Rotter
Julian Rotter merupakan psikolog yang berfokus pada bidang psikologi kepribadian.
Siapakah Julian Rotter?
Julian B. Rotter (22 Oktober 1916 – 6 Januari 2014) adalah psikolog asal New York, Amerika Serikat, yang berfokus pada bidang psikologi kepribadian dan psikologi sosial klinis. Sebagaimana dicatat dalam artikel Glass Child dalam Kerangka Teori Locus of Control karya Moza A. Fadilah, Nauroh N.A.T. Elsifa, Ragil W. Hernawati, dan Ulfa Masfufah (2023), Rotter menyatakan bahwa perilaku manusia bersifat plastis — akan ada kemungkinan berubah karena terdapat pengalaman dan proses pembelajaran yang dipengaruhi oleh lingkungan.
Rotter dikenal luas berkat gagasannya mengenai locus of control, yang kemudian menjadi salah satu teori paling berpengaruh dalam psikologi modern. Ia merupakan pelopor yang menggabungkan teori kepribadian dengan pendekatan kognitif-sosial, melampaui pandangan behaviorisme yang hanya menekankan lingkungan sebagai penentu perilaku.
Peran Rotter dalam Psikologi
Rotter berargumen bahwa perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan seperti pandangan kaum behavioris, tetapi terdapat pula proses kognitif di mana individu dapat memaknai suatu peristiwa. Perilaku yang dimunculkan secara konstan dan konsisten pada akhirnya akan membentuk kepribadian (Fadilah dkk., 2023). Konsep-konsep yang diusung Rotter membantu para ahli memahami hubungan antara keyakinan individu dengan perilaku sehari-hari, membuka jalan bagi pendekatan baru dalam psikologi sosial dan klinis.
Teori Locus of Control oleh Julian Rotter
Konsep Dasar Locus of Control
Locus of control adalah keyakinan individu akan potensi yang dimilikinya untuk membuat keputusan yang efisien dalam mengendalikan hal-hal yang terjadi di hidupnya (Fadilah dkk., 2023). Hal ini juga dimaknai sebagai kemampuan individu untuk menganalisa masalah yang dialami, menentukan cara bertindak, dan mengatasi masalah tersebut, serta keyakinan seseorang terhadap kontrol dalam hidupnya yang juga dapat memengaruhi keputusan yang akan diambil (Fadilah dkk., 2023).
Locus of control dibentuk sejak masa anak-anak, di mana kondisi lingkungan dapat memengaruhi persepsi anak dan menentukan bagaimana ia akan berperilaku (Schultz, 2017, dikutip dalam Fadilah dkk., 2023). Anak-anak belum memiliki lingkungan yang luas sehingga di sinilah keluarga, terutama orang tua, dapat memberikan pengaruh yang cukup signifikan.
Reiss dan Mitra (dalam Karim, 2013, dikutip dalam Fadilah dkk., 2023, hal. 488) menyatakan bahwa locus of control dibagi menjadi dua:
Locus of control internal — individu percaya bahwa ia memiliki kendali atas perilakunya. Individu yang memiliki locus of control internal cenderung aktif, memiliki minat dan motivasi yang tinggi, serta memiliki self-esteem yang tinggi (Fadilah dkk., 2023).
Locus of control eksternal — individu percaya bahwa ia tidak memiliki kendali atas perilakunya, melainkan dikendalikan oleh hal-hal di luar dirinya seperti orang lain, nasib, ataupun keberuntungan. Selain itu, individu dengan locus of control eksternal yang ekstrim cenderung lebih mudah stres dan mengalami depresi (Fadilah dkk., 2023).
Aplikasi Teori Locus of Control
Teori Julian Rotter tentang locus of control banyak digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dalam memahami dinamika kepribadian individu yang tumbuh dalam kondisi keluarga yang menantang. Dalam penelitian Fadilah dkk. (2023), kerangka locus of control Rotter digunakan untuk menganalisis fenomena glass child — anak yang tumbuh bersama saudara kandung dengan disabilitas atau penyakit kronis. Hasil analisis menunjukkan bahwa glass child cenderung mengembangkan locus of control eksternal, yaitu meyakini bahwa ia tidak memiliki kendali atas perilakunya, melainkan dikendalikan oleh orang tua, keluarga, dan nasib (Fadilah dkk., 2023).
Menurut Feist & Feist (2021, dikutip dalam Fadilah dkk., 2023), tidak ada lokus yang secara mutlak lebih baik dari yang lain, namun individu yang sehat menurut Rotter adalah individu yang seimbang antara keduanya, namun sedikit condong ke locus of control internal. Implikasinya, dalam bidang pendidikan, kesehatan mental, dan manajemen, pengembangan locus of control internal yang sehat menjadi target intervensi yang penting.
Locus of Control dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman tentang locus of control dapat membantu seseorang mengenali cara berpikirnya dan cara menghadapi masalah. Contohnya, individu dengan locus of control internal yang kuat akan aktif mencari solusi atas permasalahannya, sedangkan individu dengan locus of control eksternal yang dominan cenderung menyerahkan hasil kepada keberuntungan atau keputusan pihak lain. Keyakinan terhadap kontrol dalam hidup ini juga dapat memengaruhi keputusan yang akan diambil (Marjohan, 2013, dalam Fadilah dkk., 2023).
Rotter (1954) dalam Social Learning and Clinical Psychology — karya primernya — menegaskan bahwa ekspektasi (expectancy) dan nilai dari penguatan (reinforcement value) merupakan dua variabel utama yang menentukan potensi perilaku seseorang dalam situasi tertentu. Locus of control adalah generalisasi dari ekspektasi ini terhadap berbagai situasi kehidupan.
Karier dan Kontribusi Julian Rotter
Perjalanan karier Julian Rotter sangat berpengaruh dalam mengembangkan psikologi modern. Ia dikenal sebagai pionir yang menghubungkan teori kepribadian dengan praktik di lapangan.
Riwayat Pendidikan dan Awal Karier
Julian Rotter lahir dan besar di New York (Fadilah dkk., 2023). Ia menempuh pendidikan psikologi secara formal — meraih gelar doktor dari Indiana University pada 1941 — dan memulai karier sebagai pengajar serta peneliti. Ia mengajar di Ohio State University selama bertahun-tahun sebelum berpindah ke University of Connecticut, di mana ia menjabat sebagai Distinguished Professor hingga masa pensiunnya. Pengalaman akademik panjang inilah yang membentuk dasar dari teori-teori yang ia kembangkan, terutama dalam kerangka social learning theory yang menghubungkan kognisi, kepribadian, dan perilaku.
Pengaruh Rotter pada Psikologi Modern
Warisan keilmuan Rotter terlihat dari banyaknya aplikasi teori locus of control dalam penelitian dan praktik psikologi saat ini. Teori ini digunakan untuk memahami motivasi, perilaku, pengambilan keputusan, stres, dan kesehatan mental individu dalam berbagai konteks. Dalam kajian Fadilah dkk. (2023), kerangka locus of control Rotter terbukti relevan untuk menganalisis dinamika kepribadian pada kelompok populasi yang rentan, seperti glass child.
Lebih luas lagi, Rotter (1966) dalam artikel seminalnya Generalized Expectancies for Internal Versus External Control of Reinforcement memperkenalkan skala Internal-External (I-E) Control yang menjadi salah satu instrumen psikologis paling banyak dikutip dalam sejarah psikologi. Teori ini tetap menjadi rujukan penting dalam pengembangan intervensi kepribadian, konseling, psikologi pendidikan, dan psikologi kesehatan.
Kesimpulan
Julian Rotter memberikan pengaruh besar melalui teori locus of control yang ia kembangkan — sebuah konsep yang menegaskan bahwa perilaku manusia tidak semata ditentukan oleh lingkungan, tetapi juga oleh proses kognitif berupa keyakinan individu terhadap kendali atas hidupnya. Locus of control terbagi menjadi dimensi internal dan eksternal; individu yang sehat menurut Rotter adalah mereka yang seimbang namun sedikit condong ke internal. Penelitian kontemporer seperti Fadilah dkk. (2023) membuktikan relevansi kerangka Rotter dalam menganalisis fenomena psikologis yang kompleks. Hingga kini, teori Julian Rotter tetap menjadi rujukan penting dalam berbagai bidang psikologi.