Kepribadian Anak: Pengertian dan Tahapan Perkembangan
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap anak memiliki keunikan dalam cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi. Pola ini disebut kepribadian anak, yang terbentuk dari banyak faktor sejak usia dini. Memahami pengertian serta tahapan perkembangan kepribadian anak dapat membantu orang tua dan pendidik mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Pengertian Kepribadian Anak
Kepribadian anak adalah cerminan pola perilaku, emosi, dan cara berpikir yang konsisten dari waktu ke waktu. Menurut buku Psikologi Kepribadian Anak karya Reza Fahlevi, Nurhidayatullah D, Ana Fitriani, Syatria Adymas Pranajaya, Erwan, Erlina Nasution, Ipung Hananto, Farida Aini, dan Andriyani E. Lay (2024), kepribadian anak dapat didefinisikan sebagai pola sikap dan tingkah laku yang terstruktur yang dapat menjadikan seorang anak unik.
Definisi Kepribadian Anak Menurut Ahli
Nurhidayatullah D menyebutkan bahwa kepribadian setiap anak bahkan sudah berkembang sejak lahir — pada dasarnya, setiap anak memiliki kepribadian unik yang dibawa dari lahir dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Karakter ini mulai terbentuk sejak usia dini dan akan terus berkembang mengikuti pengalaman hidup. Sejumlah ahli turut mendefinisikan kepribadian secara beragam (dibahas Ana Fitriani, BAB 3): Gordon W. Allport memandangnya sebagai organisasi dinamis dalam diri individu yang menentukan penyesuaian unik terhadap lingkungannya; Sigmund Freud memandang kepribadian terdiri dari tiga unsur — id, ego, dan superego — yang saling berkaitan membentuk suatu totalitas; sementara Carl Gustav Jung, yang mendirikan aliran Psikologi Analitis setelah berpisah dari Freud, membahas psyche yang terdiri dari alam sadar (menyesuaikan diri dengan dunia luar) dan alam tak sadar (menyesuaikan diri dengan dunia batin).
Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Anak
Kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh keluarga, pola asuh, lingkungan sosial, dan pendidikan. Menurut Sjarkawi (dikutip dalam BAB 6 oleh Erlina Nasution), terdapat dua faktor besar yang memengaruhi kepribadian anak: faktor internal (genetis/bawaan, misalnya sifat mudah marah yang diturunkan dari salah satu orang tua) dan faktor eksternal (pengaruh lingkungan, mulai dari keluarga, teman, tetangga, hingga media audiovisual). Erwan (BAB 5), mengutip Singgih D. Gunarsa, menambahkan tiga komponen lain yang memengaruhi kepribadian: faktor biologis (kesehatan fisik seperti sirkulasi darah dan pencernaan), faktor sosial/masyarakat (orang-orang di sekitar, kebiasaan, hukum, bahasa), dan faktor budaya. Erlina Nasution menekankan bahwa pola asuh orang tua sangat dominan dalam membentuk kepribadian anak sejak kecil hingga dewasa, karena sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua akan ditiru oleh anaknya secara terus-menerus.
Tahapan Perkembangan Kepribadian Anak
Perkembangan kepribadian anak berjalan melalui beberapa tahapan yang saling berkaitan. Setiap tahapan memiliki ciri khas tersendiri yang dapat diamati dari perilaku sehari-hari. Memahami proses ini dapat membantu orang dewasa memberikan dukungan yang tepat sesuai kebutuhan anak.
Tahapan-Tahapan Kepribadian Anak
Buku Psikologi Kepribadian Anak (BAB 2, mengutip teori psikolog Jerman-Amerika Erik Erikson) merinci lima tahapan perkembangan kepribadian berdasarkan usia. Kelima tahapan tersebut adalah: (1) Masa Bayi (dua tahun pertama kehidupan), (2) Usia Balita (18 bulan hingga 3–4 tahun), (3) Usia Prasekolah ("usia bermain", tiga tahun hingga masuk sekolah formal), (4) Usia Sekolah (hingga sekolah menengah pertama), dan (5) Masa Remaja (mulai usia 13–14 tahun). Setiap fase memiliki tantangan dan kebutuhan psikologis yang berbeda, mulai dari belajar mengenal diri sendiri hingga membangun hubungan sosial yang sehat.
Contoh Perkembangan Kepribadian Anak di Setiap Tahapan
Pada masa bayi, bayi yang disayangi dan diasuh dengan baik akan mengembangkan rasa aman, optimisme, dan kepercayaan dasar, sementara bayi yang tidak menerima perawatan yang tepat belajar "ketidakpercayaan dasar" dan menjadi tidak aman. Ketika memasuki usia balita, perkembangan kepribadian yang baik akan membuat anak memiliki rasa percaya diri, meski hal-hal seperti tantrum dan keras kepala mungkin terjadi tergantung temperamen anak. Pada usia prasekolah, anak-anak sudah mampu bekerja sama, belajar mengikuti, dan memimpin, namun juga dapat mengalami ketakutan atau rasa bersalah jika gagal menguasai kemampuan tersebut. Pada usia sekolah, anak dapat membangun sifat kepercayaan diri, kemandirian, dan keinginan untuk menjadi orang yang rajin — namun anak yang tidak percaya diri akan meragukan masa depannya dan merasa minder. Seiring bertambahnya usia menuju remaja, anak mulai mengembangkan identitas yang lebih jelas, mencari panutan, dan menetapkan tujuan hidup.
Pentingnya Pemahaman Tahapan Kepribadian Anak
Orang tua dan pendidik perlu memahami setiap tahapan perkembangan kepribadian anak agar dapat memberikan stimulasi dan bimbingan yang sesuai. Beberapa tips membentuk kepribadian anak yang direkomendasikan Nurhidayatullah D (BAB 2) meliputi: menjauhi labeling negatif (seperti "cengeng" atau "nakal"), menjadi pendengar yang baik, memberi waktu bermain bebas, memaklumi kegagalan anak, berhenti membandingkan anak dengan orang lain, menjadi panutan yang baik, serta memberikan aturan yang tegas namun tidak kaku. Dengan begitu, anak memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental dan sosial.
Kesimpulan
Kepribadian anak merupakan kombinasi ciri khas, pola pikir, dan perilaku yang terbentuk melalui interaksi antara faktor bawaan (genetik) dan lingkungan sejak dini — mencakup temperamen dan sifat bawaan, kecerdasan kognitif dan emosional, kemampuan sosial, nilai dan moral, identitas diri, adaptabilitas dan resiliensi, motivasi intrinsik, kemandirian, serta stabilitas dan perubahan (Syatria Adymas Pranajaya, BAB 4). Setiap fase perkembangan, sebagaimana dijelaskan melalui teori psikososial Erikson, membawa perubahan yang penting dan membutuhkan perhatian khusus dari orang dewasa.
Dengan memahami pengertian dan tahapan kepribadian anak, serta faktor-faktor yang memengaruhinya seperti pola asuh, lingkungan sosial, dan budaya, orang tua serta pendidik dapat memberikan dukungan yang efektif. Pendekatan yang tepat — seperti gaya pengasuhan otoritatif yang direkomendasikan American Academy of Pediatrics (dikutip dalam BAB 9 oleh Andriyani E. Lay) — memungkinkan anak berkembang secara optimal, baik secara emosional maupun sosial.