Konten dari Pengguna

Kepribadian Percaya Diri: Ciri-Ciri dan Aspek-Aspeknya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kepribadian Percaya Diri. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kepribadian Percaya Diri. Gambar: Pexels.

Memiliki kepribadian percaya diri menjadi modal penting dalam menjalani berbagai tantangan kehidupan. Sikap ini tak hanya memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, tapi juga berdampak pada penerimaan diri dan hubungan sosial. Dengan memahami ciri-ciri dan aspek-aspeknya, kepercayaan diri dapat dikenali serta dikembangkan secara lebih optimal.

Pengertian Kepribadian Percaya Diri

Menurut M. Zeky Riftoni dalam skripsinya Hubungan Kepercayaan Diri Terhadap Perilaku Cheating dalam Melaksanakan Ulangan Harian Siswa Kelas VIII SMPN 2 Gurah Kabupaten Kediri , terdapat berbagai pendapat ahli mengenai kepercayaan diri. Riftoni mengutip Lauster yang menjelaskan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan dari diri sendiri.

Definisi Kepercayaan Diri Menurut Para Ahli

Riftoni merangkum sejumlah definisi: Sigmund Freud menyebut kepercayaan diri sebagai suatu tingkatan rasa sugesti tertentu yang berkembang dalam diri seseorang sehingga merasa yakin dalam berbuat sesuatu. Thantaway (dalam Kamus Istilah Bimbingan dan Konseling) menjelaskan kepercayaan diri sebagai kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Lie menambahkan bahwa seseorang yang percaya diri dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan sesuai tahapan perkembangan dengan baik, merasa berharga, mempunyai keberanian dan kemampuan untuk meningkatkan prestasinya, mempertimbangkan berbagai pilihan, serta membuat keputusan sendiri. Sementara Bandura mendefinisikan kepercayaan diri sebagai suatu keyakinan seseorang untuk mampu berperilaku sesuai dengan harapan dan keinginannya (dikutip dari B. B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi 5, Erlangga, 1999).

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, Riftoni menyimpulkan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap individu yang yakin akan kemampuannya sendiri untuk bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkannya, sebagai suatu perasaan yang yakin pada tindakannya, bertanggung jawab terhadap tindakannya, dan tidak terpengaruh oleh orang lain.

Pentingnya Kepribadian Percaya Diri dalam Kehidupan Sehari-hari

Riftoni menjelaskan bahwa kepercayaan diri sangat memengaruhi perilaku seseorang. Menurut Bandura, kepercayaan diri menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, memotivasi diri sendiri, dan berperilaku. Sebaliknya, seseorang dengan kepercayaan diri rendah akan selalu merasa tidak yakin dapat melakukan suatu pekerjaan karena menganggap dirinya kurang mampu — kondisi ini, dalam konteks akademik, dapat mendorong perilaku menyimpang seperti menyontek (cheating).

Ciri-Ciri Sikap Percaya Diri

Riftoni (dikutip dari Soetjiningsih, Buku Ajar Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya, Sagung Seto, 2004) menjelaskan bahwa orang yang memiliki kepercayaan diri mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: toleransi; tidak memerlukan dukungan orang lain dalam setiap mengambil keputusan atau mengerjakan tugas; selalu bersikap optimis dan dinamis; serta memiliki dorongan prestasi yang kuat.

Sikap-Sikap Individu yang Tidak Memiliki Kepercayaan Diri

Sebagai pembanding, Riftoni juga merinci sepuluh sikap orang yang kurang atau kehilangan kepercayaan diri: tidak memiliki keinginan atau tujuan yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh; tidak memiliki keputusan yang tegas (ngambang); mudah frustrasi atau menyerah ketika menghadapi masalah; kurang termotivasi untuk maju; sering gagal menyelesaikan tugas secara optimal; canggung dalam menghadapi orang lain; tidak mampu berbicara dan mendengarkan secara meyakinkan; sering memiliki harapan yang tidak realistis; terlalu perfeksionis; serta terlalu sensitif.

Dampak Positif dari Sikap Percaya Diri

Dalam konteks penelitian Riftoni, kepercayaan diri yang baik membantu siswa percaya pada kemampuannya sendiri ketika menyelesaikan tugas atau ujian, sehingga perilaku menyontek (cheating) dapat dikurangi. Sebaliknya, kepercayaan diri yang rendah membuat siswa mengerjakan tugas tidak dengan usaha sendiri dan cenderung melakukan perilaku menyimpang seperti meniru jawaban teman.

Aspek-Aspek Kepercayaan Diri

Riftoni menjelaskan bahwa menurut Bandura, kepercayaan diri (self-efficacy) dapat ditumbuhkan dan dipelajari melalui empat sumber informasi utama:

  1. Pengalaman Keberhasilan (Mastery Experience) — sumber informasi ini memberikan pengaruh besar pada efikasi diri individu karena didasarkan pada pengalaman pribadi secara nyata berupa keberhasilan dan kegagalan. Pengalaman keberhasilan akan menaikkan efikasi diri individu, sedangkan pengalaman kegagalan akan menurunkannya.

  2. Pengalaman Orang Lain (Vicarious Experience) — pengamatan terhadap keberhasilan orang lain dengan kemampuan yang sebanding dalam mengerjakan suatu tugas akan meningkatkan efikasi diri individu dalam mengerjakan tugas yang sama. Sebaliknya, pengamatan terhadap kegagalan orang lain akan menurunkan penilaian individu mengenai kemampuannya.

  3. Persuasi Verbal (Verbal Persuasion) — individu diarahkan dengan saran, nasihat, dan bimbingan sehingga dapat meningkatkan keyakinannya tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki. Menurut Bandura, pengaruh persuasi verbal tidaklah terlalu besar karena tidak memberikan pengalaman yang dapat langsung dialami atau diamati individu.

  4. Kondisi Fisiologis (Physiological State) — individu mendasarkan informasi mengenai kondisi fisiologis mereka untuk menilai kemampuannya. Ketegangan fisik dalam situasi yang menekan dipandang sebagai suatu tanda ketidakmampuan karena dapat melemahkan performa kerja individu.

(Riftoni mengutip M. Nur Ghufron & Risnawita Rini S., Teori-Teori Psikologi, Ar-Ruzz Media, 2010)

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kepercayaan Diri

Riftoni menjelaskan bahwa kepercayaan diri dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: konsep diri (dikutip dari Centi — gagasan seseorang tentang dirinya sendiri, di mana rasa rendah diri umumnya berasal dari konsep diri negatif), harga diri (dikutip dari Meadow — penilaian terhadap diri sendiri, di mana harga diri tinggi berkaitan dengan kemampuan menjalin hubungan sosial yang baik), kondisi fisik (penampilan fisik dapat menjadi penyebab utama rendahnya harga diri, menurut Anthony dan Lauster), serta pengalaman hidup (pengalaman yang mengecewakan, terutama rasa tidak aman dan kurang kasih sayang, sering menjadi sumber rendahnya kepercayaan diri menurut Lauster).

Faktor eksternal meliputi: pendidikan (tingkat pendidikan rendah cenderung membuat individu merasa berada di bawah kekuasaan orang yang lebih pandai, menurut Anthony), pekerjaan (Rogers menjelaskan bahwa bekerja dapat mengembangkan kreativitas, kemandirian, dan rasa percaya diri), serta lingkungan dan pengalaman hidup (dukungan dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri yang tinggi).

Cara Mengembangkan Kepercayaan Diri

Berdasarkan empat sumber efikasi diri Bandura di atas, pengembangan kepercayaan diri dapat dilakukan melalui pengalaman keberhasilan yang konsisten, belajar dari pengamatan keberhasilan orang lain dengan kemampuan setara, menerima persuasi atau dukungan verbal yang membangun, serta mengelola kondisi fisik dan ketegangan dalam situasi yang menekan.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Kepribadian percaya diri berperan besar dalam membentuk karakter dan pola pikir seseorang. Berdasarkan Riftoni, ciri utamanya meliputi toleransi, kemandirian dalam mengambil keputusan, sikap optimis-dinamis, dan dorongan prestasi yang kuat — sementara kepercayaan diri dapat ditumbuhkan melalui empat sumber efikasi diri Bandura: pengalaman keberhasilan, pengalaman orang lain, persuasi verbal, dan kondisi fisiologis. Dengan memahami ciri dan aspek kepercayaan diri ini, seseorang dapat lebih siap menghadapi tantangan dan membangun relasi yang sehat.

Untuk remaja, penting mulai berlatih percaya pada kemampuan sendiri sejak dini — sebagaimana ditunjukkan penelitian Riftoni bahwa kepercayaan diri yang rendah berkaitan dengan kecenderungan perilaku menyimpang seperti menyontek. Dukung proses pengembangan ini dengan lingkungan yang suportif agar kepercayaan diri semakin tumbuh dan matang.