Kepribadian Sanguinis: Ciri-ciri dan Kekurangannya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kepribadian sanguinis dikenal sebagai tipe yang penuh energi dan mudah bergaul. Banyak orang tertarik dengan kepribadian ini karena kesan positif yang sering ditampilkan. Namun, di balik keunikan tersebut, sanguinis juga memiliki kekurangan yang perlu dipahami agar interaksi sehari-hari berjalan lebih harmonis.
Memahami Kepribadian Sanguinis
Kepribadian sanguinis memiliki karakteristik khas yang membedakannya dari tipe lain. Menurut skripsi Studi Komparatif Siswa dengan Kepribadian Sanguinis dan Koleris terhadap Perilaku Belajar oleh Yeni Marwiyatul Khoiriani, sanguinis merupakan salah satu tipe kepribadian yang sering ditemukan di lingkungan pendidikan dan berpengaruh pada perilaku belajar siswa. Perlu diklarifikasi bahwa penelitian ini secara spesifik meneliti siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak di MTs Darul Ulum Purwogondo Kalinyamatan Jepara, bukan konteks pendidikan secara umum.
Definisi Sanguinis
Sanguinis adalah tipe kepribadian yang cenderung ekstrovert, ceria, dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Menurut Littauer (dikutip dalam Khoiriani), orang berkepribadian sanguinis populer suka bersenang-senang dan supel, suka mencari perhatian, kasih sayang, dukungan, dan penerimaan dari orang di sekelilingnya. Mereka hampir selalu membawa kegembiraan maupun drama ke dalam situasi apa pun, suka menjadi sorotan, dan suka memotivasi orang lain. Mereka senang berbicara dan spontan saat merespons situasi baru.
Sekilas Sejarah Teori Kepribadian Sanguinis
Teori kepribadian sanguinis sudah berkembang sejak zaman Yunani Kuno. Menurut Khoiriani, Hippocrates (460–370 SM), Bapak Ilmu Kedokteran, membahas kepribadian manusia berdasarkan empat cairan tubuh yang dipengaruhi kosmologi Empedokles. Sifat panas dikaitkan dengan cairan berwarna merah yang disebut sanguis, kemudian diidentifikasi sebagai darah — sehingga sanguinis identik dengan sifat optimis dan penuh semangat. Galenus (129–200 M) kemudian menyempurnakan teori Hippocrates ini dan memperkenalkan istilah temperament, menggolongkan manusia menjadi empat tipe: Chole, Melanchole, Phlegma, dan Sanguinis.
Kepribadian Sanguinis dalam Studi Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, siswa dengan kepribadian sanguinis sering aktif di kelas dan mudah berpartisipasi dalam diskusi. Menurut Khoiriani, dalam aktivitas sehari-hari, seorang pelajar sanguinis akan terlihat hebat dalam menghadapi pelajaran yang memerlukan hubungan aktif dengan orang lain, mampu menyatakan pendapatnya di depan kelas dengan penuh gairah dan meyakinkan, serta memiliki perhatian yang lebih di antara teman-teman sepermainan. Hal ini membuat mereka mudah diterima teman dan guru, namun kadang kurang fokus saat mengikuti pelajaran.
Ciri-ciri Kepribadian Sanguinis
Mengenali ciri kepribadian sanguinis memudahkan kita memahami perilaku mereka sehari-hari. Setiap individu bisa menunjukkan beberapa ciri utama meski tidak selalu secara keseluruhan.
Karakteristik Utama Sanguinis
Khoiriani (mengutip Littauer) merinci enam ciri khas sanguinis. Keenam ciri tersebut adalah: kepribadian yang menarik (mudah mencari teman dan menarik orang lain untuk mendengarkan ceritanya), lugu dan polos (terlihat seperti anak kecil dan apa adanya), antusias dan ekspresif (memukau pendengar saat bercerita dengan penuh semangat), penuh rasa ingin tahu dan ingatan yang kuat akan warna, sukarelawan untuk tugas (suka melakukan tugas tanpa memperhitungkan imbalan), serta kreatif dan inovatif dalam memecahkan masalah. Mereka juga dikenal spontan dan penuh inisiatif.
Contoh Perilaku Sanguinis dalam Kehidupan Sehari-hari
Orang dengan kepribadian ini biasanya senang mengobrol, tertawa lepas di tengah keramaian, dan cepat akrab dengan orang baru. Mereka juga sering menjadi penggerak suasana dalam kelompok — cara paling nyata untuk menemukan seorang sanguinis populer adalah dengan mendengarkan di setiap kelompok dan menemukan satu orang yang paling keras bicara dan mengobrol hampir terus-menerus (Littauer, dikutip dalam Khoiriani).
Pendapat Ahli tentang Sanguinis
Menurut Littauer (dikutip dalam Khoiriani), sanguinis cenderung bersikap terbuka dan suka bercerita, berbicara, serta memukau pendengarnya. Sikap percaya diri dan karisma alami menjadi salah satu keunggulan mereka dalam berinteraksi sosial, disertai keinginan bawaan untuk menjadi pusat perhatian.
Kekurangan Kepribadian Sanguinis
Selain kelebihan, kepribadian sanguinis juga memiliki tantangan tertentu, terutama dalam situasi yang membutuhkan konsentrasi dan ketekunan.
Tantangan yang Sering Dihadapi Sanguinis
Sanguinis kerap kesulitan menjaga fokus dan mudah teralihkan oleh hal-hal baru. Menurut Khoiriani (mengutip Littauer), orang sanguinis bisa tidak teratur, emosional, dan hipersensitif tentang apa kata orang terhadap mereka, serta cenderung impulsive — yaitu bertindak sesuai emosi atau keinginannya. Mereka juga kurang bisa mengingat janji pertemuan tepat pada waktunya, dan pengontrolan terhadap diri mereka sendiri tergolong rendah, terutama dalam hal berbicara tanpa berpikir lebih dulu.
Dampak Kekurangan Sanguinis dalam Lingkungan Belajar
Di lingkungan belajar, siswa sanguinis sering mengalami hambatan saat diminta untuk duduk tenang atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan waktu lama. Berdasarkan Khoiriani, dalam perilaku belajarnya, orang sanguinis cenderung tidak tampak berkonsentrasi, tidak disiplin, dan sulit bertahan dalam rentang waktu yang lama; mereka tidak menyukai proses belajar yang rutin dan monoton, namun menyukai aktivitas belajar yang bersifat spontan, sehingga perilaku belajarnya cenderung menyukai kesenangan pribadi dan tidak menyukai hal-hal yang rumit. Hal ini bisa memengaruhi hasil belajar mereka jika tidak mendapat arahan yang tepat.
Kesimpulan
Kepribadian sanguinis menawarkan keunikan lewat sikap ceria, mudah bergaul, dan spontan, sebagaimana dijelaskan berdasarkan teori empat temperamen Hippocrates dan Galenus serta tipologi Littauer yang dikutip dalam skripsi Khoiriani. Namun, tantangan seperti kurang fokus dan cenderung impulsif juga menjadi bagian yang perlu diwaspadai, terutama dalam aktivitas belajar seperti yang ditemukan pada siswa MTs Darul Ulum Purwogondo Kalinyamatan Jepara.
Memahami kepribadian sanguinis dapat membantu guru, orang tua, dan teman untuk menyesuaikan pendekatan yang tepat. Dengan demikian, proses belajar dan interaksi sosial dapat berjalan lebih efektif dan harmonis.