Konten dari Pengguna

Kepribadian Terbuka: Pengertian dan Perannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kepribadian Terbuka. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kepribadian Terbuka. Gambar: Pexels.

Perkembangan kepribadian manusia selalu menarik untuk dipelajari, terutama dalam kaitannya dengan kesejahteraan psikologis. Salah satu tipe kepribadian yang sering dibahas adalah kepribadian terbuka (openness personality). Karakter ini disebut-sebut mampu membantu seseorang merespons lingkungan sosial dengan lebih baik dan berperan sebagai jembatan antara dukungan sosial serta kepuasan hidup.

Apa Itu Kepribadian Terbuka?

Kepribadian terbuka (openness to experience) merupakan salah satu dari lima dimensi utama dalam Big Five Personality Theory yang dikemukakan oleh McCrae dan Costa. Menurut Hannah Fithrotien Salsabila Nadiani dan Farida Agus Setiawati dalam artikel Openness Personality as a Mediator of the Influence Social Support Toward Subjective Well-Being (2022), kepribadian terbuka digambarkan sebagai sifat imajinatif, kreatif, orisinal, tertarik pada banyak hal, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (Cummings & Sanders, 2019).

Nadiani dan Setiawati (2022), mengutip Farmer dan Tierney (2017), menjelaskan bahwa individu dengan kepribadian terbuka dicirikan oleh rasa ingin tahu yang tinggi, mampu memberikan pendapat dan nilai yang jarang dipikirkan orang lain. Mereka juga memiliki karakteristik rasa ingin tahu yang kuat terhadap pengetahuan, berpikir kreatif, dan berpikir secara fleksibel (LePine, 2003). Oleh karena itu, orang dengan tipe kepribadian terbuka akan semangat mempelajari hal-hal baru dan memiliki minat tinggi untuk berpartisipasi dalam berbagai pengalaman yang memberikan dampak positif bagi mereka (Ashton, 2018).

Ciri-Ciri Individu dengan Kepribadian Terbuka

Berdasarkan deskripsi Nadiani dan Setiawati (2022): rasa ingin tahu tinggi terhadap pengetahuan dan pengalaman baru, berpikir kreatif dan fleksibel, terbuka terhadap sudut pandang yang beragam, mudah berbagi wawasan kepada orang lain (karena mereka telah mengalami berbagai peristiwa dan mendapatkan pengetahuan dari sekitar mereka), serta mampu menghargai seni dan keindahan (Barańczuk, 2019). Individu yang terbuka juga dapat meningkatkan kemampuan untuk fokus pada pekerjaan dan kualitas tidur sehingga berdampak pada kesejahteraan yang tinggi (Mullola et al., 2019).

Manfaat Memiliki Kepribadian Terbuka dalam Kehidupan Sehari-hari

Nadiani dan Setiawati (2022) menyebutkan bahwa individu dengan kepribadian terbuka yang tinggi dapat menunjukkan tingkat kesenangan dalam hubungan sosial, hal-hal baru, dan kebutuhan dukungan dalam menjalankan aktivitas (Soto, 2015). Individu yang terbuka juga cenderung lebih panjang umur dibandingkan rekan-rekannya, meskipun hal ini bergantung pada sudut pandang yang diteliti (Turiano et al., 2012).

Kepribadian Terbuka sebagai Mediator

Dukungan sosial sering kali dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan subjektif. Seseorang yang merasa didukung oleh lingkungan sosial akan lebih mudah mencapai kebahagiaan dan keseimbangan emosional.

Hubungan Dukungan Sosial dengan Kesejahteraan Subjektif

Nadiani dan Setiawati (2022) menjelaskan bahwa dukungan sosial terbukti berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan subjektif. Penelitian Gülaçti (2010) menemukan bahwa 43% dukungan sosial memprediksi kesejahteraan subjektif. Dukungan sosial juga berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan subjektif remaja sebesar 23,9% (Laurita & Rusli, 2021). Kesejahteraan subjektif sendiri merupakan evaluasi kognitif dan afektif individu terhadap kehidupannya yang mencakup kepuasan hidup, kebahagiaan, dan emosi positif (Deci & Ryan, 2008).

Peran Kepribadian Terbuka dalam Memediasi Pengaruh Dukungan Sosial

Temuan utama penelitian Nadiani dan Setiawati (2022) adalah terdapat pengaruh signifikan positif dari kepribadian terbuka sebagai mediator antara dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif. Model mediasi dalam penelitian ini dikenal sebagai full mediation (mediasi penuh) — karena nilai pada jalur c' (setelah memasukkan variabel kepribadian terbuka) menunjukkan hasil yang tidak signifikan, sesuai konsep Baron & Kenny (1986).

Temuan Penelitian Terkait Mediasi Kepribadian Terbuka

Penelitian Nadiani dan Setiawati dilakukan pada 237 siswa SMAN 1 Pacitan dengan teknik simple random sampling. Hasil menunjukkan: kontribusi dukungan sosial terhadap kesejahteraan subjektif yang awalnya hanya 22,7% meningkat menjadi 49,2% setelah kepribadian terbuka dimasukkan sebagai mediator. Ini membuktikan bahwa kepribadian terbuka secara efektif memperkuat hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif pada remaja.

Nadiani dan Setiawati (2022) menegaskan bahwa kesejahteraan subjektif yang tinggi dapat dicapai ketika remaja memiliki kepribadian terbuka dan mendapat dukungan sosial yang tepat. Hal ini penting mengingat bahwa remaja dengan kesejahteraan subjektif rendah rentan terhadap depresi, kecemasan, penyalahgunaan narkoba, dan bahkan perilaku menyimpang.

Implikasi dari Peran Kepribadian Terbuka

Mengembangkan kepribadian terbuka menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis. Sifat ini bukan hanya bermanfaat secara pribadi, tetapi juga memengaruhi hubungan dan dinamika sosial.

Pentingnya Mengembangkan Kepribadian Terbuka

Nadiani dan Setiawati (2022) menyimpulkan bahwa memahami hubungan antara kepribadian dan kesejahteraan subjektif penting karena kepribadian dapat menjelaskan stabilitas kesejahteraan subjektif. Selain itu, pemahaman ini juga dapat membantu merancang intervensi untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif. Kepribadian terbuka dengan rasa ingin tahu yang tinggi cenderung memperluas struktur pengetahuan mereka mengenai konsep dan stimulus tertentu, sehingga potensi untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif pun cukup tinggi.

Strategi dan Tips Meningkatkan Kepribadian Terbuka

Berdasarkan karakteristik yang diidentifikasi Nadiani dan Setiawati (2022), pengembangan kepribadian terbuka dapat dilakukan melalui: aktif mencari pengetahuan dan pengalaman baru; mengembangkan apresiasi terhadap seni dan keindahan; berlatih berpikir fleksibel dan kreatif; membangun kebiasaan berbagi wawasan dengan orang lain; serta membuka diri terhadap perbedaan sudut pandang dan nilai-nilai orang lain.

Kesimpulan

Kepribadian terbuka berperan penting sebagai mediator dalam hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif. Berdasarkan penelitian Nadiani dan Setiawati (2022) pada 237 remaja SMA di Pacitan, kontribusi dukungan sosial terhadap kesejahteraan subjektif meningkat dari 22,7% menjadi 49,2% setelah kepribadian terbuka dimasukkan sebagai mediator. Ini membuktikan bahwa mengembangkan kepribadian terbuka merupakan salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan kebahagiaan secara keseluruhan, terutama pada masa remaja.