Konten dari Pengguna

Kesepian Adalah: Ciri-ciri, Penyebab, dan Kaitannya dengan Self-Esteem

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kesepian. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kesepian. Gambar: Pexels.

Kesepian adalah perasaan yang sering dialami banyak orang dalam berbagai fase kehidupan. Kondisi ini tidak selalu berkaitan dengan jumlah teman atau keramaian di sekitar, melainkan lebih kepada pengalaman subjektif seseorang yang merasa tidak memiliki hubungan sosial yang bermakna. Agar bisa mengenali dan mengatasi kesepian, penting untuk memahami ciri-ciri serta penyebabnya.

Pengertian Kesepian

Kesepian adalah kondisi emosional yang muncul ketika seseorang merasa kebutuhan sosialnya tidak terpenuhi. Menurut skripsi Anindya Ayu Laksmitasari Utami, Hubungan antara Self Esteem dengan Loneliness (Kesepian) pada Mahasiswa Rantau di Yogyakarta (2021), kesepian menurut Peplau dan Perlman (1998) adalah pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan, di mana kualitas dan kuantitas hubungan sosial seseorang mengalami penurunan secara signifikan.

Definisi Kesepian Menurut Psikologi

Dalam psikologi, kesepian merupakan pengalaman emosional yang muncul akibat adanya kesenjangan antara hubungan sosial yang diinginkan dengan kenyataan yang ada. Menurut Santrock (2003, dikutip dalam Utami, 2021), individu yang mengalami kesepian merasa bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memahami dirinya dengan baik, sehingga muncul perasaan terisolasi serta merasa tidak memiliki seorang pun untuk pelarian saat dibutuhkan. Perasaan ini bisa dialami siapa saja, tanpa memandang usia atau status sosial.

Kesepian vs Sendiri: Apa Bedanya?

Kesepian berbeda dengan sekadar sendiri. Seseorang bisa merasa bahagia walau sendiri, tetapi bisa juga merasa sangat kesepian walaupun dikelilingi banyak orang. Intinya, kesepian lebih berkaitan dengan kualitas hubungan, bukan kuantitas — sejalan dengan Peplau (1994, dikutip dalam Utami, 2021), yang menekankan bahwa kesepian adalah kegelisahan subjektif yang dirasakan saat hubungan sosial kehilangan ciri-ciri pentingnya, baik secara kuantitatif (tidak punya teman) maupun kualitatif (memiliki teman namun tidak sesuai yang diinginkan).

Empat Manifestasi Kesepian

Perlman dan Peplau (1981, dikutip dalam Utami, 2021) mengemukakan empat kategori manifestasi kesepian, yaitu:

  1. Manifestasi Afektif: perasaan kurang menyenangkan, seperti kebosanan, ketidakpuasan, kecemasan, permusuhan, mudah marah, menutup diri, merasa hampa, merasa aneh, dan pesimis.

  2. Manifestasi Motivasi dan Kognitif: kesepian dapat meningkatkan motivasi menjalin hubungan sosial, namun juga dapat menurunkan motivasi bersosialisasi akibat perasaan putus asa, hilangnya makna hidup, apatis, dan kecemasan. Secara kognitif, kesepian juga tampak melalui meningkatnya sensitivitas dan kurangnya konsentrasi.

  3. Manifestasi Perilaku: perilaku negatif seperti kurang tegas dan asertif, serta lebih menutup diri atau enggan menceritakan permasalahan kepada orang lain.

  4. Masalah Sosial dan Medis: kesepian dapat memicu masalah sosial seperti bunuh diri, penggunaan alkohol, berbagai penyakit serius, serta gejala psikosomatis seperti pusing, menurunnya nafsu makan, dan merasa lelah.

Ciri-ciri Orang yang Mengalami Kesepian

Setiap orang bisa menunjukkan tanda kesepian dengan cara berbeda. Namun, ada beberapa ciri umum yang sering muncul, khususnya pada mahasiswa perantau.

Tanda-tanda Umum Kesepian pada Mahasiswa Perantau

Beberapa tanda yang sering terlihat antara lain perasaan terisolasi, kurang semangat beraktivitas, serta munculnya pikiran negatif tentang diri sendiri. Penelitian Shafira (2015, dikutip dalam Utami, 2021) menemukan bahwa hal-hal yang dirasakan mahasiswa perantau saat tinggal di perantauan antara lain merasa sedih dan rindu dengan keluarga di kampung halaman, merasa takut karena baru pertama kali tinggal di perantauan, merasa kesepian, tidak betah, dan belum siap untuk hidup mandiri. Seseorang juga bisa menjadi lebih sensitif atau mudah merasa tersinggung.

Dampak Kesepian pada Kesehatan Mental

Kesepian yang berkepanjangan dapat memicu stres, kecemasan, hingga depresi. Menurut Baron (2005, dikutip dalam Utami, 2021), kesepian berpengaruh negatif terhadap afek atau perasaan individu, termasuk depresi, kecemasan, ketidakbahagiaan, dan ketidakpuasan, yang ditampakkan dengan kondisi ketidakberdayaan dan rasa malu. Remaja yang gagal membentuk persahabatan akrab akan mengalami penurunan harga diri (Santrock, 2005, dikutip dalam Utami, 2021), dan kesepian pada remaja bahkan dapat meningkatkan kemungkinan menjadi korban bullying (Acquah dkk., 2016, dikutip dalam Utami, 2021). Kondisi ini juga berdampak pada kualitas tidur dan menurunkan rasa percaya diri.

Penyebab Utama Kesepian

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami kesepian. Perlman dan Peplau (1981, dikutip dalam Utami, 2021) mengemukakan tiga faktor utama penyebab kesepian: faktor kepribadian, faktor situasional, dan faktor budaya.

Faktor Kepribadian

Kesepian memiliki keterkaitan dengan aspek-aspek kepribadian, di antaranya: shyness (rasa malu, kecenderungan menghindari interaksi sosial), self-esteem rendah, dan social skills (keterampilan sosial yang buruk membuat seseorang kurang mampu menjalin hubungan sosial).

Faktor Internal: Self-Esteem Rendah

Salah satu penyebab utama adalah self-esteem atau harga diri yang rendah. Menurut Rosenberg (dikutip dalam Mruk, 2006, dikutip dalam Utami, 2021), semakin rendah tingkat self esteem seseorang, semakin rentan mengalami kesepian. Seseorang yang kurang percaya diri lebih rentan merasa tidak diterima dalam pergaulan — orang dengan self esteem rendah cenderung merasa tidak nyaman pada situasi yang berisiko secara sosial, sehingga menghindari kontak sosial dan menghambat hubungan sosialnya.

Faktor Situasional dan Budaya

Situasi yang bervariasi dalam menjalin kontak sosial serta hubungan dengan orang baru tidak lepas dari kendala yang bisa menimbulkan kesepian. Kotler dan Armstrong (2012, dikutip dalam Utami, 2021) menjelaskan bahwa budaya juga bisa menjadi pemicu timbulnya rasa kesepian — sejumlah teoretisi sosiologis melihat kesepian sebagai akibat dari faktor budaya dan penstrukturan institusi sosial, seperti sekularisasi, mobilitas, dan urbanisasi.

Faktor Eksternal: Adaptasi Lingkungan Baru

Selain itu, perubahan lingkungan seperti pindah kota atau memasuki lingkungan baru juga dapat memicu perasaan kesepian. Menurut Santrock (2002, dikutip dalam Utami, 2021), transisi sosial ke perguruan tinggi adalah waktu ketika kesepian mungkin terbentuk — ketika individu meninggalkan dunia tempat tinggal dan keluarga yang dikenal, terutama jika mahasiswa pergi ke universitas yang jauh dari tempat asalnya, sehingga menghadapi tugas membangun hubungan sosial yang sama sekali baru. Proses adaptasi yang tidak mudah sering membuat seseorang merasa terasing.

Faktor Tambahan Lainnya

Brehm, Miller, Perlman, dan Campbell (2002, dikutip dalam Utami, 2021) mengidentifikasi beberapa faktor tambahan yang memengaruhi kesepian, yang tidak disebutkan sebelumnya: usia (semakin tua seseorang, sering dianggap semakin rentan kesepian), status perkawinan (orang yang tidak menikah cenderung lebih merasa kesepian dibanding yang menikah), status sosial ekonomi (individu dengan penghasilan rendah cenderung lebih kesepian), serta karakteristik latar belakang, seperti perceraian orang tua di masa kecil yang meningkatkan kerentanan kesepian di masa dewasa.

Kesimpulan dan Relevansi Kesepian di Kehidupan Sehari-hari

Kesepian adalah kondisi emosional yang perlu dikenali sejak dini agar dampaknya tidak semakin berat. Dengan memahami ciri-cirinya, seseorang dapat segera mengambil langkah yang tepat sebelum kesepian berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang serius. Hipotesis utama dalam penelitian Utami (2021) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara harga diri dan kesepian — semakin tinggi harga diri seseorang, semakin rendah kesepian yang dirasakan, dan sebaliknya.

Upaya Mengurangi Kesepian Berdasarkan Temuan Studi

Meningkatkan self-esteem dan aktif menjalin komunikasi dengan orang lain menjadi strategi penting untuk mengurangi kesepian. Coopersmith (dikutip dalam Ami Dwi Margono, dikutip dalam Utami, 2021) menjelaskan bahwa seseorang dengan harga diri tinggi cenderung lebih aktif, ekspresif, serta lebih sering mencapai kesuksesan baik dalam bidang akademik maupun sosial. Dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat membantu dalam mencegah dan mengatasi perasaan ini — khususnya bagi mahasiswa perantau yang perlu melakukan penyesuaian dengan kehidupan kampus dan membangun kontak sosial baru.