Konten dari Pengguna

Kompleksitas Perilaku: Makna dan Proses Pembentukannya

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kompleksitas Perilaku. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kompleksitas Perilaku. Gambar: Pexels.

Perilaku manusia seringkali tampil beragam dan dinamis, dipengaruhi oleh banyak unsur yang saling berkaitan. Dengan mempelajari proses pembentukan kompleksitas perilaku, kita dapat mengenali peran penting pendidikan, lingkungan, dan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Makna Kompleksitas Perilaku

Menurut jurnal Pembentukan Perilaku Manusia dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islam, manusia adalah makhluk sosial yang kompleks, dan perilaku mereka dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan sosial mereka (Annisa Rahma & Wantini, 2024). Perilaku manusia merupakan segala kegiatan yang dapat diamati dan diperhatikan dari luar; perilaku juga dianggap sebagai kegiatan psikis yang terpengaruh oleh keadaan yang terjadi di sekitarnya (Rahma & Wantini, 2024).

Faktor Penyusun Kompleksitas Perilaku

Berikut adalah beberapa faktor penyebab berubahnya perilaku manusia: (1) genetika, (2) sikap, (3) norma, dan (4) kontrol perilaku (Rahma & Wantini, 2024). Faktor internal yang mempengaruhi perubahan perilaku meliputi persepsi, pemahaman, nilai dan keyakinan, emosi, serta komponen kognitif. Faktor eksternal mencakup budaya, lingkungan sosial, pendidikan, dan media massa (Rahma & Wantini, 2024).

Perspektif Psikologi Pendidikan Islam tentang Kompleksitas Perilaku

Manusia pada dasarnya terdiri dari unsur jasmani dan rohani, serta dilengkapi dengan akal, kalbu, dan nafsu sebagai bekal hidup. Dengan akal, manusia mampu berpikir dan mengembangkan pengetahuan serta kebudayaannya; kalbu memberikan rasa kemanusiaan; sementara nafsu mendorong manusia untuk bergerak secara bebas dan dinamis (Rahma & Wantini, 2024). Psikologi Islam adalah bentuk psikologi yang mengintegrasikan nilai-nilai ajaran Islam (Rahma & Wantini, 2024).

Proses Pembentukan Kompleksitas Perilaku: Tiga Aliran Psikologi

Rahma & Wantini (2024) menguraikan tiga aliran psikologi dalam memahami pembentukan perilaku manusia:

Aliran Nativisme memandang bahwa perkembangan manusia sepenuhnya ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir, sedangkan pengalaman serta pendidikan dianggap tidak memiliki pengaruh sama sekali — dalam ilmu pendidikan ini dikenal sebagai "pesimisme pedagogis" (Rahma & Wantini, 2024).

Aliran Empirisme berpendapat sebaliknya: pertumbuhan manusia sepenuhnya bergantung pada faktor lingkungan. Gagasan terkenal dari aliran ini adalah "tabula rasa" — "lembar kosong" — yang menekankan peran pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam pertumbuhan manusia (Rahma & Wantini, 2024).

Aliran Konvergensi menggabungkan empirisme dengan nativisme, menekankan relevansi genetika dan lingkungan sebagai variabel yang memengaruhi perkembangan manusia. Faktor keturunan tidak ada nilainya jika tidak disertai faktor pengalaman; sebaliknya, unsur pengalaman yang tidak memiliki keterampilan alami tidak akan mampu memaksimalkan potensi manusia (Rahma & Wantini, 2024).

Peran Lingkungan dan Pendidikan

Lingkungan memainkan peran penting dalam menentukan arah yang diinginkan oleh seorang anak; lingkup hidup bisa menghasilkan pengaruh yang signifikan bagi pertumbuhan manusia. Oleh karena itu, tanggung jawab lingkungan pendidikan sangat besar dalam membentuk generasi penerus yang berkualitas (Rahma & Wantini, 2024). Pendidikan adalah faktor eksternal yang dapat membentuk perilaku seseorang — pendidikan formal dan informal memainkan peran penting dalam membentuk nilai-nilai, sikap, dan pengetahuan individu (Rahma & Wantini, 2024).

Pengaruh Nilai-nilai Islam dalam Pembentukan Perilaku

Dalam kajian pendidikan Islam, menurut Imam Al-Ghazali terdapat dua teknik utama: teknik pembentukan perilaku dan teknik tazkiyatun nafs. Teknik pembentukan perilaku berfokus pada penerapan dalam pembentukan karakter dan perkembangan mental anak melalui panduan, praktik, dan upaya gigih. Pembiasaan adalah pendekatan pendidikan Islam yang krusial karena dengan cara ini, satu aktivitas akhirnya bisa menjadi bagian dari kebiasaan anak di masa depan (Rahma & Wantini, 2024).

Pada lingkungan sosial, manusia cenderung membentuk kelompok berdasarkan agama, suku, profesi, atau hobi. Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang menekankan pentingnya kasih sayang, menjaga hubungan baik dengan tetangga, serta memperbaiki hubungan sosial dan membela kaum yang lemah (Rahma & Wantini, 2024).

Kesimpulan

Perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor genetika, sikap, norma, dan kontrol perilaku. Perubahan perilaku dapat dipahami melalui tiga aliran psikologis: nativisme (faktor bawaan), empirisme (pengaruh lingkungan), dan konvergensi (kombinasi keduanya). Setiap individu memiliki kapasitas untuk mengarahkan dan mendisiplinkan diri, memungkinkan individu memilih apakah akan ikut serta dalam lingkungan yang ingin mengembangkan diri (Rahma & Wantini, 2024).