Kongruensi: Pengertian dan Pentingnya Kongruensi dalam Psikologi
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kongruensi merupakan konsep penting dalam psikologi yang berkaitan dengan keselarasan antara individu dan lingkungannya, termasuk hubungan antara remaja dan orangtua dalam aspek karir. Konsep ini banyak digunakan dalam penelitian psikologi perkembangan, psikologi karir, dan psikologi keluarga karena berkaitan dengan dukungan, kesamaan nilai, serta hubungan interpersonal yang sehat.
Pengertian Kongruensi dalam Psikologi
Dalam buku Kongruensi Karir Remaja-Orangtua: Konsep, Instrumen Psikologi, dan Nomological Network, menyebutkan bahwa kongruensi berkaitan dengan kesesuaian antara nilai, tujuan, dan perilaku seseorang dalam berbagai aspek kehidupan (Dian Ratna Sawitri). Dian Ratna Sawitri mendefinisikan kongruensi karir remaja-orangtua sebagai: “Kkeselarasan antara remaja dengan orangtuanya dalam hal karir, yang ditandai dengan dukungan orangtua yang dirasakan remaja terhadap eksplorasi dan perencanaan karir, perasaan mampu pada diri remaja bahwa ia dapat membuat kemajuan/progress karir yang menjadikan orangtuanya puas dan bangga, serta remaja merasa bahwa ia memiliki minat, preferensi, dan ide-ide mengenai karir yang sama atau mirip dengan orangtuanya”.
Dengan demikian, konsep kongruensi dalam psikologi tidak hanya berkaitan dengan harmoni internal individu, tetapi juga keselarasan hubungan antara individu dan lingkungan sosialnya.
Definisi Kongruensi Menurut Para Ahli
Buku Kongruensi Karir Remaja-Orangtua: Konsep, Instrumen Psikologi, dan Nomological Network menjelaskan bahwa kongruensi adalah keseimbangan antara apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan seseorang. Sawitri kemudian menjelaskan konsep kongruensi berdasarkan teori person-environment congruence dari Swanson dan Fouad (1999). Dijelaskan bahwa: “Teori person-environment congruence memiliki tiga asumsi: Asumsi pertama, individu cenderung untuk memilih lingkungan yang memiliki kesesuaian karakter dengan diri mereka” (2020).
Selain itu dijelaskan pula bahwa:“Semakin tinggi tingkat kesesuaian, semakin positif konsekuensi yang diperoleh, seperti kepuasan yang lebih tinggi, ketekunan yang lebih tinggi, dan performa yang lebih baik” (Sawitri, 2020).
Pernyataan tersebut mendukung gagasan bahwa kongruensi berhubungan dengan keseimbangan, kenyamanan psikologis, dan penyesuaian diri yang positif.
Konsep Dasar Kongruensi
Kongruensi membantu seseorang menjadi pribadi yang otentik dan lebih mudah membangun hubungan yang sehat.
Konsep ini dijelaskan melalui dua bentuk kongruensi, yaitu complementary congruence dan supplementary congruence. Sawitri menjelaskan: “Complementary congruence adalah tingkat dukungan orangtua yang dirasakan oleh individu terhadap eksplorasi dan perencanaan karir yang dilakukan oleh individu tersebut”. Sedangkan “Supplementary congruence adalah tingkat kesamaan dan/atau kemiripan minat, aspirasi, dan nilai-nilai karir yang dimiliki individu dengan preferensi dan harapan karir orangtua terhadap individu tersebut” (Sawitri, 2020). Konsep dasar ini menunjukkan bahwa kongruensi melibatkan kesesuaian nilai, dukungan, dan kemiripan tujuan antara individu dengan lingkungannya.
Pentingnya Kongruensi dalam Psikologi
Kongruensi penting bagi kesehatan mental dan hubungan sosial karena membantu individu bertindak secara jujur dan terbuka sehingga mengurangi konflik internal.
Tingkat kesesuaian yang tinggi memberikan konsekuensi positif, sedangkan ketidaksesuaian menghasilkan konsekuensi negatif. Sawitri menuliskan bahwa “Semakin rendah tingkat kesesuaian, semakin negatif konsekuensi yang dihasilkan, seperti semakin tingginya ketidakpuasan, dan semakin rendahnya capaian atau produktivitas individu” (2020).
Dengan demikian, kongruensi memiliki peran penting dalam kesejahteraan psikologis dan penyesuaian diri individu.
Peran Kongruensi dalam Kesehatan Mental
Individu dengan tingkat kongruensi tinggi cenderung lebih mampu mengelola stres dan emosi.
Bagian yang paling relevan adalah penjelasan mengenai hubungan kongruensi dengan tekanan psikologis. Sawitri menjelaskan hasil penelitian Wang dan Heppner (2002): “Wang dan Heppner (2002) dalam penelitiannya kemudian menemukan bahwa sejauh mana individu merasa mampu untuk memenuhi harapan orangtuanya merupakan prediktor yang lebih kuat bagi menurunnya tekanan psikologis”.
Kongruensi dalam Hubungan Remaja dan Orangtua
Kongruensi antara remaja dan orangtua berpengaruh pada keharmonisan hubungan keluarga. Sawitri menjelaskan bahwa “Orangtua pada umumnya secara sengaja memberikan pengaruh dan mengarahkan perkembangan karir anaknya” .
Selain itu dijelaskan pula bahwa: “Seorang anak, khusunya dimasa remajanya mengandalkan orangtuanya sebagai sosok pembimbing utama yang ditunggu nasehatnya dalam mengambil keputusan-keputusan dan menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan perkembangan akademik dan karir anak remajanya tersebut” (Sawitri, 2020).
Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan kongruen antara remaja dan orangtua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan karir dan hubungan interpersonal remaja.
Dampak Ketidaksesuaian Kongruensi
Ketidaksesuaian antara nilai dan perilaku dapat menyebabkan kebingungan, kecemasan, dan konflik hubungan. Inkongruensi dijelaskan sebagai faktor yang mempengaruhi kesulitan pengambilan keputusan karir. Sawitri menuliskan bahwa “Inkongruensi antara individu dengan orangtua atau significant others lainnya dalam area akademik dan karir telah diidentifikasi menjadi salah satu sumber dari munculnya kebimbangan karir pada diri individu yang bersangkutan, kesulitan dalam mengambil keputusan karir, hambatan karir, serta menurunnya keyakinan dalam mengambil keputusan karir”
Instrumen dan Pengukuran Kongruensi dalam Psikologi
Pengukuran kongruensi dilakukan melalui kuesioner dan wawancara psikologis. Sawitri menjelaskan: “Interview kepada remaja dan orangtuanya merupakan usaha awal yang dilakukan peneliti dalam mencoba memahami adanya kongruensi dan inkongruensi antara individu dan orangtuanya dalam hal karir”.
Selain wawancara, berbagai instrumen psikologi juga digunakan untuk mengukur kongruensi dan inkongruensi karir.
Cara Mengukur Kongruensi
Pengukuran kongruensi dilakukan dengan menilai kesesuaian antara pemikiran, perasaan, dan tindakan individu. Salah satu metode pengukuran dilakukan dengan membandingkan persepsi individu dan orangtua mengenai harapan karir. Sawitri menuliskan bahwa “Diskrepansi skor kemudian dihitung dengan mengurangi skor performansi diri dengan harapan orangtua”.
Selain itu, pengukuran juga dilakukan dengan melihat tingkat kesamaan aspirasi, minat, dan nilai karir antara remaja dan orangtua.
Instrumen Psikologi yang Digunakan
Beberapa instrumen psikologi digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kongruensi pada berbagai aspek kehidupan, seperti hubungan sosial, karir, dan keluarga.
Sawitri menjelaskan bahwa: “The Adolescent-Parent Career Congruence Scale” digunakan untuk mengukur kedua aspek kongruensi karir remaja-orangtua.
Kesimpulan
Kongruensi dalam psikologi berkaitan dengan keselarasan antara individu dan lingkungannya, termasuk hubungan antara remaja dan orangtua dalam aspek karir. Pemahaman dan penerapan kongruensi membantu individu menjaga kesehatan mental serta membangun hubungan yang harmonis, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial. Dengan demikian, upaya meningkatkan kongruensi patut dipertimbangkan sebagai bagian dari pengembangan diri.