Konten dari Pengguna

Konsensus dalam Psikologi. Pengertian & Contoh Konsensus Menurut Studi Ilmiah

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Konsensus. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Konsensus. Gambar: Pexels.

Konsensus menjadi topik penting saat kita membahas perilaku kelompok dalam psikologi. Istilah ini sering muncul saat membicarakan bagaimana sekelompok orang bisa mencapai kesepakatan bersama, khususnya pada kelompok sebaya remaja.

Pengertian Konsensus dalam Psikologi

Berdasarkan jurnal Exit, Cohesion, and Consensus: Social Psychological Moderators of Consensus among Adolescent Peer Groups, konsensus dalam psikologi sosial didefinisikan sebagai konvergensi atau pengelompokan sikap anggota kelompok dalam suatu ruang keyakinan multidimensional — dengan kata lain, sejauh mana anggota kelompok berbagi pandangan yang sama terhadap suatu isu (Jacob C. Fisher, 2017). Penelitian Fisher (2017) menggunakan definisi konsensus yang berfokus pada struktur keyakinan, bukan isi keyakinan: misalnya, bukan seberapa baik atau buruk anggota menilai merokok, melainkan seberapa seragam penilaian mereka.

Definisi Konsensus

Mengikuti Martin (1999, 2002) sebagaimana dikutip Fisher (2017), konsensus diukur sebagai konsentrasi sikap anggota kelompok dalam ruang keyakinan multidimensional. Model difusi interpersonal yang menjadi dasar sebagian besar penelitian psikologi sosial memprediksi bahwa konsensus akan muncul secara alami ketika orang-orang terhubung dalam jaringan sosial — setiap individu menyesuaikan sikapnya berdasarkan rata-rata tertimbang dari sikap orang-orang di sekitarnya (Fisher, 2017).

Konsensus dalam Konteks Kelompok Sosial Remaja

Kelompok sebaya (peer groups) merupakan fitur dominan dari organisasi sosial di sekolah. Ketika remaja tumbuh, mereka semakin menitikberatkan perhatian pada teman sebaya dan berkurang pada orang tua dan guru (Fisher, 2017, mengutip Erikson, 1968). Kelompok sebaya yang lebih kohesif — di mana lebih banyak ikatan menghubungkan anggota satu sama lain — menunjukkan tingkat konsensus yang lebih tinggi (Fisher, 2017).

Temuan Penting: Kohesi Mendorong Konsensus, Bukan Sebaliknya

Penelitian Fisher (2017) menemukan dua temuan kunci. Pertama, kelompok yang lebih kohesif menunjukkan tingkat konsensus yang lebih tinggi — ini mendukung model difusi sosial yang umum digunakan. Kedua, dan ini berlawanan dengan intuisi: sentralisasi kelompok — yaitu adanya pemimpin yang jelas — berhubungan negatif dengan konsensus. Artinya, pemimpin sentral yang kuat justru tidak menghasilkan konsensus yang lebih tinggi; bahkan, kelompok yang lebih terpusat pada satu pemimpin menunjukkan konsensus yang lebih rendah (Fisher, 2017).

Penjelasan yang diajukan peneliti: anggota kelompok sebaya remaja dapat dengan mudah meninggalkan kelompok (exit). Karena anggota bisa pergi begitu saja, pemimpin sentral kehilangan kemampuannya untuk memaksakan sanksi — sehingga tidak mampu menciptakan konsensus melalui tekanan (Fisher, 2017).

Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Konsensus

Faktor-faktor demografi juga berperan: heterogenitas ras, gender, status ekonomi, dan komposisi rumah tangga semuanya berhubungan negatif dengan konsensus kelompok (Fisher, 2017). Artinya, kelompok yang lebih homogen secara sosiodemografis cenderung mencapai konsensus yang lebih tinggi. Selain itu, stabilitas kelompok — diukur dari berapa banyak anggota yang tetap bersama dari satu waktu ke waktu berikutnya — berhubungan positif dengan konsensus (Fisher, 2017).

Kesimpulan

Konsensus dalam psikologi sosial adalah konvergensi sikap anggota kelompok yang terjadi melalui proses difusi interpersonal. Penelitian Fisher (2017) terhadap jaringan sosial remaja di 161 sekolah menunjukkan bahwa kohesi kelompok — bukan kepemimpinan terpusat — adalah prediktor utama terbentuknya konsensus. Memahami proses ini penting untuk mengenali bagaimana sikap dan keyakinan menyebar dalam kelompok sosial, serta mengapa beberapa kelompok mencapai kesamaan pandangan sementara yang lain tidak.