Konten dari Pengguna

Konsep Diri Negatif: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Penanganannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Konsep Diri Negatif. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Konsep Diri Negatif. Gambar: Pexels.

Konsep diri memainkan peran penting dalam perkembangan seseorang sejak masa remaja. Konsep diri negatif dapat menghambat tumbuh kembang individu, memengaruhi cara mereka berinteraksi, dan membentuk pola pikir yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Memahami konsep diri negatif menjadi langkah awal yang krusial untuk melakukan penanganan yang efektif.

Apa Itu Konsep Diri Negatif?

Menurut Surya Zulfadianti, Abdullah Sinring, dan Abdul Saman dalam artikel Konsep Diri Negatif dan Penanganannya (Studi Kasus Dua Orang Siswa di SMA Negeri 2 Bone), konsep diri negatif adalah pandangan negatif individu mengenai siapa dirinya, apa dan bagaimana dirinya. Pandangan negatif tersebut mencakup identitas diri, citra diri, harga diri, ideal diri, gambaran diri, serta peran diri, yang diperoleh melalui interaksi diri sendiri maupun dengan orang lain dan lingkungan.

Zulfadianti dkk. mengutip Desmita (2009) yang menjelaskan bahwa konsep diri terdiri atas bagaimana individu memandang dirinya sendiri sebagai suatu pribadi, bagaimana individu merasa tentang dirinya, serta bagaimana individu menginginkan dirinya seperti yang diharapkannya. Sedangkan menurut Sobur (2013), individu yang memiliki konsep diri negatif akan berpikir bahwa mereka tidak memiliki kemampuan apapun — perilaku yang muncul yaitu menghindar dari teman, bila dikritik akan marah, selalu merasa cemas dan rendah diri dalam pergaulan sosial karena tiadanya perasaan yang menghargai pribadi dan penerimaan terhadap dirinya.

Ciri-Ciri Konsep Diri Negatif

Zulfadianti dkk. mengutip Brooks dan Emmert (dalam Rakhmat, 2003) yang menyebutkan lima tanda seseorang memiliki konsep diri negatif:

  1. Peka terhadap kritik: Tidak tahan terhadap kritikan yang diajukan dan cenderung mudah marah. Kritikan sering dipersepsikan sebagai usaha untuk menjatuhkan harga diri.

  2. Responsif terhadap pujian: Sangat antusias terhadap pujian; segala pujian yang menunjang harga diri menjadi pusat perhatian.

  3. Sikap hiperkritis: Selalu bersikap kritis terhadap orang lain, selalu mengeluh serta meremehkan apapun dan siapapun, serta tidak bisa mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain.

  4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain: Selalu merasa tidak diperhatikan orang lain, menganggap orang lain sebagai musuh, dan selalu menganggap dirinya sebagai korban sistem sosial.

  5. Bersifat pesimis terhadap kompetisi: Enggan bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi dan menganggap dirinya tidak berdaya melawan persaingan.

Berdasarkan penelitian kasus Zulfadianti dkk., individu yang memiliki konsep diri negatif juga menunjukkan gambaran perilaku seperti tidak percaya diri, membatasi interaksi dengan teman sebaya, menarik diri dari pergaulan, sukar menyesuaikan diri, dan merasa rendah diri.

Faktor Penyebab Konsep Diri Negatif

Zulfadianti dkk. mengidentifikasi dua faktor penyebab konsep diri negatif:

  1. Faktor Internal meliputi keyakinan irasional (irrational belief) — yaitu keyakinan-keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang seharusnya dimiliki individu. Ini mencakup tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, ketidakmampuan mengontrol emosi dengan baik, dan pengenalan diri yang buruk di mana seseorang hanya mengenal kelemahannya saja.

  2. Faktor Eksternal meliputi: lingkungan keluarga (pola asuh orang tua — termasuk pola asuh yang terlalu ketat atau kurang memberikan perhatian); teman sebaya (komentar, pelabelan, atau body shaming dari teman); serta lingkungan sekolah (perlakuan yang tidak setara, pelabelan dari guru, atau suasana kelas yang tidak kondusif).

Zulfadianti dkk. memperkuat ini dengan kutipan Rakhmat (2005) bahwa konsep diri yang negatif timbul dari kurangnya kepercayaan kepada kemampuan sendiri — orang yang tidak menyenangi dirinya merasa bahwa dirinya tidak akan mampu mengatasi persoalan dan akan cenderung menarik diri dari pergaulan.

Komponen Konsep Diri

Zulfadianti dkk. mengutip Pudjogyanti (dalam Sobur, 2013) yang menjelaskan bahwa konsep diri terbentuk atas dua komponen: komponen kognitif yaitu pengetahuan individu tentang keadaan dirinya sendiri berupa citra diri (self image), dan komponen afektif berupa harga diri (self esteem). Citra diri mencakup pandangan aktual dan ideal mengenai diri sendiri, bagaimana seseorang memandang dirinya, dan harapan mengenai bagaimana seharusnya dirinya.

Penanganan Konsep Diri Negatif

Berdasarkan penelitian kasus di SMA Negeri 2 Bone, Zulfadianti dkk. merekomendasikan teknik reframing dari pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) sebagai penanganan yang efektif. Reframing adalah suatu pendekatan yang mengubah atau menyusun kembali persepsi individu atau cara pandang terhadap masalah atau tingkah laku — dengan menempatkannya di bingkai baru yang lebih positif tanpa mengubah situasi itu sendiri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah intervensi reframing diberikan, kedua subjek (AA dan MF) menunjukkan perubahan nyata: mulai percaya diri dan aktif di kelas, tidak lagi minder berhadapan dengan teman-teman, tidak terlalu menanggapi ejekan, dan mampu mengungkapkan apa yang dirasakannya. Zulfadianti dkk. menyimpulkan bahwa teknik reframing dapat menangani atau mengurangi konsep diri negatif.

Kesimpulan

Konsep diri negatif adalah pandangan negatif individu terhadap dirinya yang mencakup identitas, citra diri, dan harga diri. Ditandai oleh lima ciri utama (peka terhadap kritik, responsif terhadap pujian, hiperkritis, merasa tidak disenangi, dan pesimis), kondisi ini dipengaruhi oleh faktor internal (keyakinan irasional) dan eksternal (keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah). Penanganannya dapat dilakukan secara efektif melalui teknik reframing dalam kerangka CBT — dengan mengubah cara pandang individu dari negatif menjadi lebih positif dan konstruktif.