Konten dari Pengguna

Konsep Diri: Pengertian dan Peranannya dalam Psikologi

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Konsep Diri. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Konsep Diri. Gambar: Pexels.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti memiliki gambaran tentang siapa dirinya. Pemahaman ini dikenal sebagai konsep diri — sebuah aspek penting yang memengaruhi cara seseorang bersikap, berinteraksi, dan mengambil keputusan.

Apa Itu Konsep Diri?

Konsep diri merupakan bagian dari individu yang sangat berperan penting. Konsep diri diartikan sebagai perasaan individu mengenai dirinya yang berperan sebagai pribadi utuh dan berkarakteristik unik, sehingga seorang individu tersebut akan dikenali sebagai individu yang memiliki ciri khas unik (Dr. Jahju Hartanti, M.Psi., 2018 dalam buku Konsep Diri). Konsep diri juga berperan penting sebagai bagian diri yang dapat memahami kebutuhan dalam diri individu serta introspeksi terhadap kekurangan dan kelebihan atas dirinya secara objektif (Hartanti, 2018).

Definisi Konsep Diri Menurut Para Ahli

Konsep diri adalah keseluruhan penilaian, pemikiran, serta perasaan yang mengacu pada self sebagai objek (Hartanti, 2018, mengutip Song, 1982). Menurut Stuart dan Sundeen (1998) sebagaimana dikutip Hartanti (2018), konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri biasanya dapat dikembangkan melalui pengalaman interaksi dengan lingkungan sekitarnya; seorang individu yang tidak memiliki pengalaman interaksi sosial dengan lingkungan sekitarnya akan memiliki konsep diri yang kurang (Hartanti, 2018).

Lima Aspek Konsep Diri

Konsep diri memiliki aspek yang menjadi komponennya, sebagaimana dijabarkan oleh William H. Fitts (1971) menjadi lima kategori (Hartanti, 2018):

Diri Fisik — pandangan individu terhadap kondisi fisik yang dimilikinya, termasuk kondisi kesehatan, penampilan diri, dan kondisi motorik.

Diri Keluarga — pandangan atau penilaian individu terhadap kedudukannya dalam keluarga, membahas mengenai adekuatnya seorang individu dalam suatu keluarga sebagai salah satu anggota keluarganya.

Diri Pribadi — kemampuan individu untuk menggambarkan identitas dirinya sendiri baik berupa perasaan maupun persepsi terhadap kepribadiannya, terkait sejauh mana individu merasa puas terhadap dirinya sendiri sebagai pribadi yang tepat.

Diri Moral-Etik — persepsi individu terhadap dirinya yang dinilai dari pertimbangan pencerminan nilai moral dan etika, terkait hubungannya dengan Tuhan-nya, kepuasan terhadap keyakinan yang dianutnya, dan pembedaan batasan baik buruk dalam dirinya.

Diri Sosial — terkait bagaimana individu melakukan interaksi sosial, yang merupakan penilaian orang lain terhadap dirinya terkait kualitas interaksi interpersonal dengan lingkungan sekitarnya (Hartanti, 2018).

Tiga Dimensi Konsep Diri

Konsep diri memiliki tiga dimensi: (1) pengetahuan — individu memiliki pengetahuan terhadap dirinya sendiri terkait gambaran dirinya dan kekurangan maupun kelebihan dirinya; (2) harapan — individu memahami kemungkinan dirinya di masa mendatang akan menjadi apa; dan (3) penilaian — terkait kemampuan individu dalam menilai dirinya sendiri terkait "siapa saya" dan "seharusnya saya menjadi apa" (Hartanti, 2018, mengutip Calhoun & Acocella, 1995).

Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Beberapa faktor yang memengaruhi konsep diri meliputi: self-appraisal (pandangan individu yang menjadikan dirinya sebagai objek dalam komunikasi), reaksi dan respons orang lain, peran yang dimainkan, dan kelompok rujukan (reference group) (Hartanti, 2018, mengutip Verderber, 1984; Brooks dalam Rahmat, 2004). Orang tua adalah kontak sosial paling awal dan paling kuat; apa yang dikomunikasikan orang tua terhadap anak lebih menancap daripada informasi lain yang diterima anak sepanjang hidupnya (Hartanti, 2018).

Peranan Konsep Diri dalam Perkembangan Psikologis

Konsep diri yang sehat berperan penting dalam mempertahankan keselarasan batin (inner consistency); seluruh sikap dan pandangan individu dalam menafsirkan pengalamannya; serta dalam penentuan pengharapan individu — harapan merupakan inti dari konsep diri (Hartanti, 2018). Kehidupan, perilaku, dan kemampuan individu sangat dipengaruhi oleh apa yang diistilahkan dengan konsep diri (Hartanti, 2018, mengutip Rogers, 1961).

Perubahan Konsep Diri pada Berbagai Tahap Usia

Konsep diri bersifat dinamis dan dapat berubah seiring bertambahnya usia. Masa golden age (usia 2–12 tahun) dianggap masa yang tepat untuk menanamkan konsep diri pada anak; jika tidak diajarkan sejak kecil, anak tidak memiliki pandangan terhadap dirinya secara positif (Hartanti, 2018). Pada masa remaja, konsep diri cenderung tidak konsisten karena sikap orang lain yang dipersepsikan remaja juga berubah seiring masa peralihan; pada masa dewasa, konsep diri dan citra tubuh menjadi relatif stabil (Hartanti, 2018).

Kesimpulan

Jadi konsep diri merupakan persepsi individu terhadap dirinya dan juga merupakan bentuk penghargaan diri atau penilaian terhadap diri sendiri. Harga diri (self esteem) merupakan dasar pengalaman hidup seseorang yang dapat menjadi komponen dasar kepribadian dan dapat berpengaruh terhadap kualitas hubungan interpersonal dan suasana hati dalam kehidupan sehari-hari (Hartanti, 2018). Dengan memahami dan mengembangkan konsep diri yang positif, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih percaya diri.