Konten dari Pengguna

Konsistensi: Pengertian dalam Psikologi dan Cara Membangunnya

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Konsistensi. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Konsistensi. Gambar: Pexels.

Konsistensi menjadi fondasi dalam membentuk kebiasaan positif maupun mencapai tujuan jangka panjang. Artikel ini membahas makna konsistensi dalam psikologi serta strategi efektif untuk membangunnya.

Apa Itu Konsistensi dalam Psikologi?

Menurut jurnal Membangun Konsistensi Belajar melalui Self Control dan Self Consciousness, konsisten terhadap diri sendiri tidak mudah seperti yang diucapkan — naik turunnya konsistensi pada individu seringkali menjadi problematika dalam kehidupan, khususnya dalam belajar (Muhammad Fadhil Alghi Fari Majid, 2021). Konsistensi diri merupakan salah satu bagian dari aspek kepribadian individu yang dapat berupa kepercayaan, tindakan, maupun sikap (Majid, 2021).

Definisi Konsistensi

Menurut Basten sebagaimana dikutip Majid (2021), konsistensi adalah ketetapan hati seseorang ataupun individu dalam melakukan tindakan yang mengacu pada kehendak, minat, dan tujuannya. Sejalan dengan itu, Evertson dkk. menjelaskan bahwa konsistensi adalah proses mempertahankan tingkah laku sebagaimana dengan kenyataan yang sebenarnya — artinya dalam mewujudkan konsistensi perlu ada tindakan secara nyata yang berdasar pada kenyataan yang sesungguhnya (Majid, 2021).

Peran Konsistensi dalam Kehidupan Sehari-hari

Peserta didik yang memiliki konsistensi belajar rendah akan menghasilkan prestasi yang rendah pula; begitu juga sebaliknya, ketika peserta didik memiliki konsistensi belajar tinggi maka akan berdampak prestasi yang tinggi pula (Majid, 2021). Menurut Khalsa sebagaimana dikutip Majid (2021), siswa yang memiliki prestasi rendah dari semestinya akan memperlihatkan tingkah laku negatif dan menyebabkan kehancuran terhadap konsep diri dalam jangka waktu bertahun-tahun.

Konsistensi dan Self Control

Self control menduduki posisi paling penting yang harus dipahami dan diaktualisasikan oleh manusia dalam berdinamika di kehidupan ini (Majid, 2021). Goleman menjelaskan bahwa self control adalah kemampuan untuk mengontrol diri sendiri dari emosi berlebihan yang mencolok, yang dapat dilihat dari ketegangan seseorang apabila menghadapi stres atau kemampuannya mengontrol dirinya apabila dimusuhi oleh temannya (Majid, 2021, mengutip Goleman, 2005). Thompson mendefinisikan self control sebagai suatu kepercayaan individu bahwa untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan dapat melalui tindakan diri sendiri (Majid, 2021).

Cara Membangun Konsistensi

Membangun konsistensi tidak selalu mudah, namun hal ini bisa dilatih. Self control dan self consciousness menjadi kunci utama dalam proses ini, sebagaimana dijelaskan dalam jurnal yang sama.

Pentingnya Self Control

Kemampuan kontrol diri sangat berpengaruh terhadap kebiasaan belajar yang benar, tingkah laku yang tertib di masyarakat dan di sekolah, kedisiplinan dan tingkah laku seksual yang sehat (Majid, 2021). Kontrol diri dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal: faktor internal mencakup hierarki dasar biologi, perkembangan seiring bertambahnya usia, dan pengaruh emosional; sedangkan faktor eksternal adalah keadaan perilaku seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungannya, terkhusus sahabat dan keluarganya (Majid, 2021).

Proses Pembinaan Self Control

Adapun proses pembinaan yang dapat dilakukan adalah: (1) memperbaiki perilaku sehingga mampu memberikan contoh kontrol diri yang positif dan menjadikannya sebagai prioritas; (2) melakukan pembinaan dengan menstimulus keadaan internal pada individu sehingga memunculkan motivasi dalam diri; (3) melatih self control seseorang dalam menghadapi kondisi-kondisi yang negatif, artinya sebelum melakukan sesuatu terlebih dahulu memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan (Majid, 2021).

Peran Self Consciousness dalam Konsistensi

Teori consciousness atau kesadaran sangat cocok digunakan dalam membangun konsistensi dalam belajar karena dengan kesadaran yang dimiliki seseorang akan memunculkan motivasi diri dalam proses pembelajaran (Majid, 2021). Self-Awareness atau kesadaran diri merupakan pengetahuan tentang alasan-alasan dari perilaku individu — kesadaran diri mampu mengarahkan manusia untuk menilai atau mengamati dirinya sendiri; berdasarkan pengamatan itu, individu sering kali menemukan hal-hal yang negatif dalam dirinya dan terdorong untuk mengubahnya ke arah positif (Majid, 2021).

Paulo Freire membagi kesadaran manusia menjadi tiga bagian: (1) Kesadaran Magis (Magical Consciousness) — masyarakat yang tidak bisa melihat faktor-faktor yang saling berkaitan; (2) Kesadaran Naif (Naival Consciousness) — melihat aspek manusia sebagai sumber permasalahan; dan (3) Kesadaran Kritis (Critical Consciousness) — yang lebih melirik persoalan struktur dan sistem yang bermasalah (Majid, 2021).

Manfaat Konsistensi untuk Kehidupan Pribadi dan Akademik

Konsistensi dalam belajar dapat dibentuk melalui kontrol diri (Self Control) dan kesadaran diri (Self Consciousness), karena dengan adanya kontrol diri dan kesadaran akan menjadi media pengingat yang efektif dalam membentengi hal-hal yang dapat meruntuhkan konsistensi yang telah terbentuk (Majid, 2021). Dengan diterapkannya konsistensi dalam proses belajar, maka dengan sendirinya kebiasaan akan terbentuk kemudian seseorang merasa gelisah apabila tidak belajar (Majid, 2021).

Kesimpulan

Konsistensi adalah strategi penting dalam mencapai tujuan dan membangun kebiasaan yang positif. Dengan merealisasikan teori self control dan self consciousness, manusia mampu mengontrol dirinya serta memiliki kesadaran dalam belajar yang dapat dijadikan sebagai penyaring hal-hal yang memungkinkan mengganggu pembelajaran (Majid, 2021). Manfaat konsistensi tidak hanya terasa dalam ranah akademik, tetapi juga dalam pengembangan kepribadian dan pencapaian hidup secara menyeluruh.