Konten dari Pengguna

Kontrolabilitas: Pengertian dan Pengaruhnya terhadap Pengambilan Keputusan

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kontrolabilitas. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kontrolabilitas. Gambar: Pexels.

Kontrolabilitas merupakan konsep yang sering muncul dalam pembahasan psikologi dan manajemen, khususnya saat seseorang dihadapkan pada situasi yang memerlukan keputusan cepat dan tepat. Pemahaman mengenai kontrolabilitas tidak hanya membantu individu mengenali batas kemampuan dalam mengendalikan situasi, tetapi juga memengaruhi cara seseorang bereaksi terhadap tantangan. Melalui artikel ini, Anda akan mengenal lebih dalam tentang kontrolabilitas serta bagaimana konsep ini memengaruhi proses pengambilan keputusan.

Apa Itu Kontrolabilitas?

Kontrolabilitas menjadi topik penting dalam psikologi dan manajemen, terutama saat membahas perilaku manusia dalam menghadapi permasalahan.

Definisi Kontrolabilitas

Menurut Albert Bandura dan Robert Wood dalam Effect of Perceived Controllability and Performance Standards on Self-Regulation of Complex Decision Making (1989), terdapat dua aspek penting dalam exercise of control yang relevan terhadap perubahan organisasional. Aspek pertama berkaitan dengan tingkat personal efficacy untuk memengaruhi perubahan melalui penggunaan kemampuan secara kreatif — ini merupakan sisi personal dari proses transactional control. Aspek kedua berkaitan dengan changeableness atau controllability of the environment, yang mewakili tingkat hambatan sistem dan peluang untuk menggunakan personal efficacy (Bandura & Wood, 1989).

Dalam kerangka social cognitive theory (Bandura, 1986), perceived self-efficacy beroperasi sebagai faktor sentral dalam mekanisme self-regulatory yang mengatur motivasi dan tindakan manusia. Seseorang yang memiliki kepercayaan kuat pada efficacy-nya, melalui kecerdasan dan ketekunan, akan menemukan cara untuk menjalankan sejumlah kontrol bahkan di lingkungan yang memiliki peluang terbatas dan banyak hambatan (Bandura & Wood, 1989).

Dengan demikian, kontrolabilitas menggambarkan keyakinan individu bahwa dirinya dapat memengaruhi atau mengarahkan jalannya peristiwa — dan keyakinan ini sangat menentukan tingkat kepercayaan diri serta strategi yang dipilih seseorang untuk menghadapi tantangan. Rotter (1966) dalam Psychological Monographs sebelumnya telah meletakkan fondasi konsep ini melalui locus of control — keyakinan seseorang tentang sejauh mana peristiwa dalam hidupnya dikendalikan oleh dirinya sendiri (internal) atau oleh kekuatan di luar dirinya (eksternal).

Pentingnya Kontrolabilitas dalam Kehidupan Sehari-hari

Persepsi kontrol berperan besar dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Individu yang percaya bahwa organisasi atau lingkungan mereka adalah controllable mempertahankan rasa self-efficacy yang kuat, menetapkan tujuan yang semakin menantang, dan menunjukkan pemikiran analitis yang efektif. Sebaliknya, individu yang meyakini lingkungan mereka tidak mudah dikontrol menunjukkan self-efficacy yang rendah bahkan ketika standar masih dalam jangkauan mudah (Bandura & Wood, 1989). Perasaan tidak berdaya dapat menurunkan semangat dan membuat individu mudah putus asa.

Pengaruh Kontrolabilitas terhadap Pengambilan Keputusan

Kontrolabilitas memiliki dampak langsung pada kualitas pengambilan keputusan seseorang. Cara individu melihat kemampuannya dalam mengelola situasi sangat memengaruhi proses berpikir dan tindakan yang diambil.

Kontrolabilitas dan Self-Regulation dalam Proses Pengambilan Keputusan

Banyak upaya manusia diarahkan pada tujuan kolektif yang dicapai dalam struktur organisasi melalui usaha yang dimediasi secara sosial (socially mediated effort). Dalam menjalankan kontrol atas hasil-hasil organisasi, pengambil keputusan harus menguasai cara efektif dalam memobilisasi upaya kolektif orang lain (Bandura & Wood, 1989).

Hasil penelitian Bandura dan Wood (1989) menunjukkan bahwa perceived self-efficacy — yang dipengaruhi oleh pencapaian sebelumnya — memengaruhi kinerja organisasional selanjutnya melalui efeknya pada analytic strategies. Setelah pengalaman lebih lanjut, sistem kinerja diregulasi secara lebih ekstensif dan rumit oleh konsepsi diri tentang efficacy. Perceived self-efficacy memengaruhi pencapaian organisasional berikutnya baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pengaruhnya pada personal goal challenges (Bandura & Wood, 1989).

Keyakinan self-efficacy yang kuat membuat seseorang memusatkan perhatian pada analisis dan pencarian solusi masalah. Sebaliknya, mereka yang dilanda keraguan diri cenderung berpaling ke dalam diri dan menjadi sibuk dengan kekhawatiran evaluatif ketika menghadapi tuntutan lingkungan yang sulit — mereka merenungi kekurangan diri dan membayangkan skenario kegagalan (Bandura & Wood, 1989).

Kompleksitas, Standar Kinerja, dan Persepsi Kontrol

Pengambilan keputusan yang efektif dalam lingkungan yang dinamis mengharuskan individu menimbang dan mengintegrasikan berbagai informasi dari beragam sumber. Keputusan harus dibuat di tengah aliran aktivitas yang terus-menerus di bawah batasan waktu. Selain itu, banyak aturan keputusan untuk menjalankan kontrol atas lingkungan yang dinamis harus dipelajari melalui pengalaman eksplorasi (Bandura & Wood, 1989). Diperlukan rasa self-efficacy yang kuat untuk tetap berorientasi pada tugas selama proses pembelajaran aturan eksploratif ini (Bandura & Wood, 1989).

Semakin kuat perceived self-efficacy seseorang, semakin tinggi tujuan yang ditetapkan untuk diri sendiri dan semakin teguh komitmen mereka terhadap tujuan tersebut. Tujuan yang menantang meningkatkan motivasi dan pencapaian kinerja (Bandura & Wood, 1989). Standar kinerja yang jelas dan persepsi kontrol yang positif mendorong individu untuk terus berkembang dan memperbaiki diri.

Kesimpulan

Kontrolabilitas memiliki peran besar dalam membentuk cara seseorang mengambil keputusan, baik dalam situasi sederhana maupun kompleks. Berdasarkan penelitian Bandura dan Wood (1989), perbedaan dalam persepsi controllability menghasilkan perbedaan besar dalam pencapaian organisasional — individu yang beroperasi dengan keyakinan bahwa lingkungan mereka controllable menunjukkan self-efficacy yang lebih kuat, menetapkan tujuan yang lebih menantang, dan mencapai hasil yang lebih baik. Pemahaman yang baik mengenai kontrolabilitas membantu seseorang mengenali sejauh mana dirinya mampu mengendalikan situasi dan menyesuaikan strategi yang tepat.

Implikasi Praktis

Dengan mengenali tingkat kontrolabilitas dan memperkuat keyakinan tentang self-efficacy, individu dapat lebih percaya diri dan terarah dalam mengambil keputusan sehari-hari. Tidak hanya itu, pemahaman ini juga memudahkan individu untuk tetap gigih saat menghadapi tantangan, mempertahankan analytic thinking yang efektif, dan beradaptasi terhadap perubahan yang tak terduga.