Konten dari Pengguna

Kurang Empati: Ciri, Penyebab, dan Dampaknya pada Perilaku Bullying

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kurang Empati. Gambar: Pexels/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kurang Empati. Gambar: Pexels/

Empati memegang peranan penting dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Ketika seseorang tidak mampu menunjukkan empati, muncul potensi masalah dalam interaksi, salah satunya adalah meningkatnya risiko perilaku bullying. Memahami ciri, penyebab, serta dampak kurang empati akan membantu mencegah terjadinya perundungan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Pengertian Kurang Empati

Kurang empati merupakan kondisi ketika seseorang sulit memahami atau merasakan apa yang dialami orang lain. Menurut Bety Agustina Rahayu dan Iman Permana dalam Bullying di Sekolah: Kurangnya Empati Pelaku Bullying dan Pencegahan (2019), empati menurut KBBI daring (2019, dikutip dalam Rahayu & Permana) merupakan keadaan mental yang membuat seseorang merasa dirinya dalam perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Ketidakmampuan ini membuat seseorang cenderung mengabaikan emosi orang di sekitarnya.

Definisi Empati dan Kurang Empati

Baron-Cohen (dikutip dalam Fikrie, 2016, dikutip dalam Rahayu & Permana) mendefinisikan empati sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain dalam rangka untuk merespons pikiran dan perasaan mereka dengan sikap yang tepat. Kurang empati muncul saat seseorang tidak peduli atau gagal menangkap sinyal emosi dari lingkungan sosialnya. Empati dipengaruhi oleh kapasitas pengamat, dan tinggi rendahnya empati seseorang juga dipengaruhi oleh kemampuan intelektual (Taufik, 2012, dikutip dalam Rahayu & Permana).

Pentingnya Empati dalam Interaksi Sosial

Empati menjadi dasar perilaku prososial, seperti menolong dan menghormati orang lain. Kemampuan untuk berempati meningkatkan perilaku positif terhadap orang lain, memfasilitasi hubungan dan interaksi sosial, meningkatkan kepatuhan anak terhadap aturan, serta memainkan peranan penting terhadap kompetensi sosial seseorang (Rahayu & Permana, 2019). Sebaliknya, perkembangan empati yang tidak optimal, dalam kondisi ekstrem, dapat berkaitan dengan autisme dan psikopati (Rahayu & Permana, 2019). Tanpa empati, seseorang berisiko melakukan tindakan yang merugikan, misalnya perundungan di sekolah atau di tempat kerja.

Perkembangan Empati Sepanjang Usia

Rahayu dan Permana (2019) menjelaskan bahwa empati berkembang sesuai dengan tahapan usia (Volbrecht Lemery dkk., 2007, dikutip dalam Fidrayani, 2015, dikutip dalam Rahayu & Permana). Pada usia anak-anak, empati masih lebih ditunjukkan kepada orang tuanya dibandingkan orang lain (Van Der Mark dkk., 2002, dikutip dalam Fidrayani, 2015, dikutip dalam Rahayu & Permana). Perkembangan empati dimulai sejak anak lahir hingga dewasa — pada usia sebelum sekolah, empati anak dimulai dari respons terhadap tekanan orang lain, kemudian keyakinan benar dan salah; pada usia sekolah dasar, anak mulai memahami pandangan orang lain.

Ciri-ciri Kurang Empati

Kurang empati dapat dikenali melalui beberapa indikator sikap dan perilaku. Seseorang yang kurang empati seringkali tidak peduli terhadap perasaan orang lain dan sulit merespons situasi emosional dengan tepat. Berdasarkan Jurnal Keperawatan Jiwa, pelaku bullying umumnya menunjukkan tanda kurang empati, seperti bersikap "biasa wae" (biasa saja) setelah melakukan bullying maupun saat melihat kejadian bullying (Rahayu & Permana, 2019).

Indikator Seseorang Kurang Empati

Rahayu dan Permana (2019) mengidentifikasi indikator kurang empati berdasarkan hasil wawancara dengan siswa pelaku bullying. Beberapa indikator yang ditemukan antara lain:

  1. Menganggap tindakan bullying sekadar "iseng", "guyon" (bercanda), "njaraki" (menjahili), atau "dolanan" (main-main) tanpa tujuan yang bermanfaat.

  2. Bersikap "biasa wae" setelah melakukan atau menyaksikan bullying.

  3. Adanya perasaan lebih berkuasa, seperti menganggap diri sebagai "bos", ketua kelas, atau wakil ketua kelas.

  4. Tidak takut pada guru maupun orang tua sehingga tetap melakukan bullying dengan anggapan hanya bercanda.

  5. Menggunakan alasan pertahanan diri — mengejek lebih dulu agar tidak diejek.

Penyebab Kurang Empati

Faktor yang memengaruhi kurang empati cukup beragam. Beberapa di antaranya berasal dari individu, sementara yang lain dipengaruhi lingkungan.

Faktor Individu

Rahayu dan Permana (2019)menekankan kapasitas intelektual pengamat sebagai faktor yang memengaruhi tinggi-rendahnya empati seseorang (Taufik, 2012, dikutip dalam Rahayu & Permana). Seseorang yang memiliki empati rendah akan kurang mampu merespons tekanan dan rasa ketidaknyamanan dari orang lain yang menjadi korban, serta tidak mampu menghubungkan perilaku antisosial yang mereka lakukan dengan reaksi emosional orang lain (Jolliffe & Farrington, 2006, dikutip dalam Rahayu & Permana).

Faktor Lingkungan

Weber (2014, dikutip dalam Zakiyah, Humaedi, & Santoso, 2017, dikutip dalam Rahayu & Permana) menyebutkan bahwa ada empat faktor yang dapat menyebabkan seseorang berperilaku bullying, yaitu faktor individu, keluarga, lingkungan, dan teman sebaya. Selain itu, kurangnya pencegahan sekolah turut memperkuat rantai bullying — dalam studi kasus di SDN Pungkuran Pleret Bantul yang diteliti Rahayu dan Permana (2019), sikap apatis lingkungan terwujud dalam ketidaktersediaan guru bimbingan konseling serta standar operasional prosedur (SOP) sekolah terkait bullying, sehingga siswa yang sudah sering melakukan bullying tanpa mendapatkan sanksi tegas menjadi "kebal" terhadap hukuman.

Dampak Kurang Empati terhadap Bullying di Sekolah

Kurang empati menjadi salah satu faktor yang memudahkan munculnya perilaku bullying di lingkungan sekolah. Seseorang yang tidak mampu memahami perasaan temannya lebih mudah melakukan tindakan menyakitkan tanpa memikirkan dampaknya. Berdasarkan studi kasus Rahayu dan Permana (2019) terhadap 102 siswa di SDN Pungkuran Pleret Bantul, sebanyak 67,65% siswa berada dalam kategori bullying sedang, dengan mayoritas pelaku (62,30%) adalah siswa laki-laki. Hal ini tentu dapat menimbulkan kerusakan relasi sosial dan menurunkan rasa aman di sekolah.

Korelasi Kurang Empati dengan Perilaku Bullying

Terbatasnya empati membuat individu tidak segan melukai orang lain, baik secara fisik maupun emosional. Kondisi ini menimbulkan sikap agresif dan memperbesar risiko tindakan bullying, sejalan dengan temuan bahwa individu dengan empati rendah tidak mampu menghubungkan tindakan antisosialnya dengan dampak emosional pada korban (Jolliffe & Farrington, 2006, dikutip dalam Rahayu & Permana).

Implikasi bagi Pencegahan Bullying

Meningkatkan empati melalui pendidikan moral dan lingkungan yang suportif menjadi langkah strategis untuk mencegah perundungan. Rahayu dan Permana (2019) menekankan bahwa sekolah perlu memiliki guru dan ruang konseling untuk mengatur kedisiplinan siswa, sehingga siswa dapat belajar patuh pada tata tertib dan memiliki rasa menghargai antarsesama. Sekolah dan keluarga bisa bekerja sama membangun budaya saling menghargai, sehingga kasus bullying dapat ditekan.

Kesimpulan

Kurang empati memengaruhi kualitas hubungan sosial dan berpotensi memicu tindakan bullying, terutama di lingkungan sekolah, sebagaimana dibuktikan Rahayu dan Permana (2019) melalui studi kasus terhadap 102 siswa sekolah dasar. Dengan memahami ciri, tahapan perkembangan, dan penyebabnya — baik dari sisi individu maupun kurangnya sistem pencegahan sekolah — masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat. Meningkatkan empati sejak dini menjadi investasi penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan aman.