Konten dari Pengguna

Leon Festinger: Teori, Karier, dan Pengaruhnya dalam Ilmu Psikologi

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Disonansi Kognitif. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Disonansi Kognitif. Gambar: Pexels.

Leon Festinger dikenal sebagai tokoh penting yang membawa perubahan besar dalam bidang psikologi sosial. Ia memperkenalkan dua teori yang menjadi dasar banyak penelitian modern: teori disonansi kognitif dan teori perbandingan sosial.

Profil Singkat Leon Festinger

Berdasrarkan laman Britannica berjudul Leon Festinger, Leon Festinger (1919–1989) adalah psikolog sosial Amerika yang dikenal atas kontribusinya dalam teori perbandingan sosial (1954) dan teori disonansi kognitif (1957). Ia menempuh pendidikan di University of Iowa di bawah bimbingan Kurt Lewin, dan kemudian mengajar di beberapa institusi ternama termasuk Stanford University.

Teori Disonansi Kognitif

Dalam tulisan berjudul Cognitive Dissonance Theory, Leon Festinger (1957) mengembangkan teori disonansi kognitif berdasarkan gagasan bahwa mempertahankan konsistensi kognitif adalah dorongan dasar manusia; oleh karena itu, teori ini memprediksi bahwa individu akan berusaha memulihkan konsistensi antarkognisi setelah pengalaman yang menimbulkan disonansi (Monica K. Miller, Jordan D. Clark, & Alayna Jehle, 2015). Teori disonansi kognitif menyatakan bahwa individu berusaha mempertahankan konsistensi di antara berbagai kognisi — seperti pikiran, perilaku, sikap, nilai, atau keyakinan. Kognisi-kognisi yang tidak konsisten menghasilkan keadaan tidak menyenangkan yang memotivasi individu untuk mengubah satu atau lebih kognisi guna memulihkan konsistensi (Miller dkk., 2015).

Disonansi kognitif dikonseptualisasikan sebagai pengalaman tidak nyaman yang disebabkan oleh memegang kognisi yang tidak konsisten secara bersamaan — misalnya ketika seseorang menyadari bahwa tindakannya bertentangan dengan nilai-nilai yang ia pegang kuat, yaitu kemunafikan (Miller, Clark & Jehle, 2015).

Cara pertama yang disarankan Festinger untuk mengurangi disonansi adalah mengubah kognisi atau perilaku sehingga kognisi dan perilaku menjadi konsonan; cara kedua adalah mengubah lingkungan agar realitas yang dirasakan sesuai dengan kognisi; cara ketiga adalah menambah dan/atau menghilangkan kognisi untuk meningkatkan proporsi kognisi konsonan terhadap kognisi disonan (Miller dkk., 2015).

Teori Perbandingan Sosial

Perbandingan sosial (social comparison) adalah suatu adaptasi sosial-kognitif yang dilakukan seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain. Teori mengenai perbandingan sosial ini pertama kali dirumuskan oleh Leon Festinger (Lianawati dalam tulisan berjudul Perbandingan Sosial). Menurut teori ini, proses saling memengaruhi dan perilaku saling bersaing dalam interaksi sosial ditimbulkan oleh adanya kebutuhan untuk menilai diri sendiri — kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan membandingkan diri dengan orang lain (Lianawati).

Awalnya, ada dua hal yang cenderung diperbandingkan manusia: pendapat (opinion) dan kemampuan (ability). Menurut Festinger, setiap orang mempunyai dorongan (drive) untuk menilai pendapat dan kemampuannya sendiri dengan cara membandingkannya dengan pendapat atau kemampuan orang lain (Lianawati, mengutip Festinger, 1954; dalam Sarwono, 1987).

Perbandingan sosial dapat dilakukan dengan dua cara: downward comparisons — membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki level lebih rendah — yang dapat memperkuat diri (self-enhancement) dan meningkatkan self-esteem; dan upward comparisons — membandingkan diri dengan orang yang levelnya lebih tinggi — yang dapat meningkatkan diri dan mendorong perbaikan (self-improvement) (Lianawati).

Pengaruh dan Kontribusi Leon Festinger

Meskipun teori disonansi kognitif terus berkembang dan mendapat berbagai alternatif interpretasi, teori ini terbukti resilient dan berguna dalam banyak konteks. Peneliti di bidang kesehatan dan pencegahan telah menerapkan teori disonansi kognitif pada berbagai perilaku yang dilakukan orang meski menyadari dampak kesehatan yang negatif (Miller, Clark & Jehle, 2015). Teori ini juga menantang teori-teori behavioristik yang sudah mapan dengan menunjukkan bahwa elemen kognitif harus dipertimbangkan dalam mempelajari pembelajaran dan perilaku (Miller dkk., 2015).

Kesimpulan

Kontribusi Leon Festinger dalam psikologi sangat berpengaruh, terutama melalui teori disonansi kognitif (1957) dan teori perbandingan sosial (1954). Melalui karya-karyanya, ia meninggalkan warisan intelektual yang tetap relevan dalam memahami perilaku manusia.