Konten dari Pengguna

Manfaat Literasi Kesehatan Mental

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Literasi Kesehatan Mental.Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Literasi Kesehatan Mental.Gambar: Pexels.

Literasi kesehatan mental semakin banyak dibicarakan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan jiwa. Pemahaman yang baik mengenai literasi kesehatan mental dapat mendorong individu mengenali gejala, mengurangi stigma, dan meningkatkan penggunaan layanan profesional jika dibutuhkan.

Memahami Literasi Kesehatan Mental

Literasi kesehatan mental merujuk pada kemampuan seseorang dalam memahami, mengenali, dan mengelola isu-isu terkait kesehatan jiwa. Menurut Jorm (dikutip dalam Handayani, Ayubi, & Anshari, 2020 dalam Literasi Kesehatan Mental Orang Dewasa dan Penggunaan Pelayanan Kesehatan Mental), literasi kesehatan mental didefinisikan sebagai pengetahuan dan keyakinan mengenai gangguan-gangguan mental yang membantu rekognisi, manajemen, dan prevensi.

Definisi Literasi Kesehatan Mental

Literasi kesehatan mental adalah pemahaman mengenai masalah kesehatan jiwa, mulai dari mengenali tanda-tanda awal hingga mengetahui di mana mencari pertolongan. Seseorang yang memiliki literasi yang baik umumnya lebih siap menghadapi stres dan masalah psikologis.

Komponen Utama Literasi Kesehatan Mental

Handayani, Ayubi, dan Anshari (2020), mengutip Kutcher, Wei, dan Coniglio (2016), merinci lima aspek literasi kesehatan mental. Kelima aspek tersebut adalah: (a) pengetahuan tentang bagaimana mencegah gangguan mental, (b) pengakuan kapan suatu gangguan berkembang, (c) pengetahuan tentang opsi pencarian pertolongan dan perawatan yang tersedia, (d) pengetahuan tentang strategi pertolongan mandiri yang efektif untuk masalah yang lebih ringan, dan (e) keterampilan pertolongan pertama untuk mendukung orang lain yang mengalami gangguan mental atau berada dalam krisis kesehatan mental.

Pentingnya Literasi Kesehatan Mental di Masyarakat Dewasa

Di kalangan dewasa, literasi kesehatan mental berperan penting untuk mencegah masalah yang lebih serius. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi penduduk Indonesia yang menderita gangguan mental emosional mengalami peningkatan dari 6% pada tahun 2013 menjadi 9,8% pada tahun 2018 (Kemenkes RI, dikutip dalam Handayani, Ayubi, & Anshari, 2020) — dengan prevalensi tertinggi pada kelompok usia di atas 75 tahun, kelompok perempuan, dan kelompok yang tidak bersekolah. Dengan pemahaman yang cukup, masyarakat dapat memperkuat ketahanan diri dan mendukung lingkungan yang lebih sehat secara psikologis.

Manfaat Literasi Kesehatan Mental

Manfaat literasi kesehatan mental sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Individu yang teredukasi mampu mengambil keputusan yang lebih baik terkait kesehatan jiwanya.

Meningkatkan Kesadaran dan Pengetahuan tentang Masalah Kesehatan Mental

Pemahaman yang baik membuat seseorang lebih peka terhadap gejala gangguan mental. Hal ini membantu deteksi dini dan mencegah kondisi memburuk — sejalan dengan temuan penelitian ini, di mana sebagian besar responden mampu mengenali gejala-gejala gangguan mental, menunjukkan bahwa pengetahuan mereka mengenai gejala gangguan mental cukup baik, sehingga mendorong pencarian pertolongan dari tenaga formal dibandingkan informal.

Mengurangi Stigma terhadap Gangguan Mental

Stigma seringkali menjadi penghalang utama dalam mencari bantuan. Handayani, Ayubi, dan Anshari (2020) menemukan bahwa kegagalan masyarakat dalam memahami terminologi gangguan psikologis dapat memicu munculnya stigma negatif di masyarakat mengenai gangguan mental, sehingga membuat mereka enggan mencari bantuan profesional. Literasi yang baik akan mendorong sikap terbuka dan mengurangi pandangan negatif terhadap masalah psikologis.

Mendorong Perilaku Mencari Bantuan Secara Dini

Orang dengan literasi tinggi cenderung lebih proaktif mencari layanan kesehatan mental. Konsekuensi utama dari literasi kesehatan mental yang rendah adalah keterlambatan dalam mencari bantuan, dengan hasil berupa pengobatan yang tertunda (Handayani, Ayubi, & Anshari, 2020).

Hubungan Literasi Kesehatan Mental dengan Penggunaan Layanan Kesehatan Mental

Tingkat literasi kesehatan mental memiliki hubungan erat dengan kecenderungan menggunakan layanan kesehatan jiwa. Pemahaman yang cukup bisa menjadi faktor penentu seseorang memutuskan mencari bantuan profesional.

Korelasi Tingkat Literasi dengan Pencarian Layanan Kesehatan Mental

Temuan ini bukan sekadar gambaran umum, melainkan didukung data empiris yang kuat. Penelitian Handayani, Ayubi, dan Anshari (2020) menggunakan desain cross-sectional terhadap 139 responden dengan masalah kejiwaan (ODMK) di Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Nilai rerata literasi kesehatan mental responden adalah 73,08 (skala 100), dengan 56,1% responden telah memanfaatkan pelayanan kesehatan jiwa. Di antara responden dengan literasi kesehatan mental tinggi, sebanyak 64,9% telah memanfaatkan pelayanan kesehatan jiwa, dibandingkan hanya 45,2% pada responden dengan literasi rendah — hasil uji chi square menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p = 0,031). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa masyarakat dengan literasi kesehatan mental tinggi memiliki peluang (odds ratio) sekitar 2,5 hingga 4,5 kali lebih besar untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan jiwa dibandingkan mereka dengan literasi rendah, setelah variabel-variabel lain dikendalikan.

Faktor-faktor Penghambat dan Pendorong Penggunaan Layanan

Handayani, Ayubi, dan Anshari (2020) menguji secara spesifik delapan variabel perancu, yaitu: usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, stigma gangguan jiwa, pelayanan petugas kesehatan, dan ketersediaan pelayanan kesehatan jiwa. Berdasarkan hasil pemodelan multivariat terakhir, ketersediaan pelayanan kesehatan jiwa ditemukan sebagai variabel perancu utama dalam hubungan antara literasi kesehatan mental dengan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan jiwa — artinya, seberapa mudah layanan kesehatan jiwa dapat diakses turut menentukan apakah literasi yang baik benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan mencari bantuan. Literasi membantu mengurangi keraguan dan rasa takut dalam proses ini, namun ketersediaan layanan tetap menjadi faktor penentu penting.

Cara Meningkatkan Literasi Kesehatan Mental di Masyarakat

Agar literasi kesehatan mental semakin meluas, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Strategi edukasi yang tepat dapat memperkuat pengetahuan masyarakat secara luas.

Edukasi dan Sosialisasi melalui Media

Penggunaan media massa dan digital sangat efektif untuk menyebarkan informasi seputar kesehatan jiwa. Berdasarkan survei Global Web Index (dikutip dalam Handayani, Ayubi, & Anshari, 2020), pengguna media sosial di Indonesia paling aktif berada di usia 16–64 tahun, dengan rerata waktu 3 jam 26 menit per hari, sehingga media sosial menjadi salah satu sarana penting bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan mental.

Kolaborasi antara Profesional Kesehatan, Pemerintah, dan Komunitas

Kerja sama lintas sektor sangat dibutuhkan. Handayani, Ayubi, dan Anshari (2020) menyarankan perlunya peningkatan pengetahuan, sikap, keyakinan, dan isu-isu kesehatan mental guna meningkatkan literasi kesehatan mental bagi masyarakat berisiko seperti ODMK, serta peningkatan informasi mengenai keberadaan layanan kesehatan jiwa yang ada, baik di puskesmas maupun rumah sakit.

Rekomendasi Praktis untuk Individu dan Keluarga

Setiap orang dapat mulai dengan mencari informasi terpercaya, berdiskusi terbuka, dan tidak ragu mengajukan pertanyaan seputar kesehatan mental dalam keluarga.

Kesimpulan

Literasi kesehatan mental membawa manfaat nyata, mulai dari meningkatkan kesadaran hingga mendorong perilaku mencari bantuan lebih dini. Berdasarkan penelitian Handayani, Ayubi, dan Anshari (2020) pada 139 responden dengan masalah kejiwaan di Kecamatan Bogor Timur, hubungan antara literasi kesehatan mental dan penggunaan layanan kesehatan mental terbukti signifikan secara statistik (p = 0,031), dengan masyarakat berliterasi tinggi memiliki peluang 2,5–4,5 kali lebih besar memanfaatkan layanan kesehatan jiwa — meski ketersediaan layanan kesehatan tetap menjadi faktor penentu penting dalam hubungan ini. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk terus meningkatkan literasi kesehatan mental, seiring dengan perluasan akses layanan kesehatan jiwa, demi mewujudkan lingkungan yang lebih sehat secara psikologis.