Konten dari Pengguna

Martabat Manusia: Pengertian dan Perspektif Psikologi

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Martabat Manusia. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Martabat Manusia. Gambar: Pexels.

Martabat manusia menjadi salah satu tema penting dalam berbagai diskusi sosial, kebijakan, dan psikologi. Konsep ini erat kaitannya dengan penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain. Memahami arti serta cara menjaga martabat manusia dapat membantu membangun relasi yang lebih sehat di lingkungan sekitar.

Pengertian Martabat Manusia

Martabat (dignity) tampaknya merupakan sesuatu yang hampir semua orang inginkan — ia merupakan ekspresi seminal dari pengalaman manusia yang mendapat otoritas melalui tuntutan orang-orang di seluruh dunia (David J. Mattson & Susan G. Clark, 2011). Konsep martabat manusia memiliki daya tarik emosional yang mendalam di berbagai budaya di seluruh dunia, termasuk melalui gagasan seperti kehormatan dan rasa hormat (Mattson & Clark, 2011).

Empat Perspektif Martabat Manusia

Mattson & Clark (2011) mengidentifikasi empat pandangan utama tentang martabat manusia dalam Policy Sciences:

(1) Martabat sebagai Justifikasi Hak. Dalam perspektif ini, martabat merupakan nilai intrinsik manusia yang menjustifikasi pemberian hak. Sekadar dengan menjadi manusia, kita semua secara intrinsik istimewa dan karenanya berhak atas hak-hak tersebut. Pandangan ini banyak diadopsi dalam deklarasi internasional termasuk Universal Declaration of Human Rights (Mattson & Clark, 2011).

(2) Martabat sebagai Perilaku yang Bermartabat. Martabat dalam perspektif ini diperoleh atau diekspresikan dalam istilah yang relevan secara sosial dan budaya bagi orang lain. Jenis martabat ini erat kaitannya dengan kebajikan dan perilaku berbudi, yang ditandai oleh penghormatan orang lain (Mattson & Clark, 2011).

(3) Martabat sebagai Perspektif terhadap Orang Lain. Perspektif ketiga berkaitan dengan sejauh mana diri sendiri menganggap orang lain memiliki martabat, terlepas dari perilaku mereka. Konsep martabat ini erat kaitannya dengan dinamika kelompok dan proses stereotip; martabat sering diberikan kepada mereka yang memiliki status penuh sebagai "manusia," biasanya mereka yang merupakan bagian dari in-group (Mattson & Clark, 2011).

(4) Martabat sebagai Pengalaman Subjektif. Martabat adalah sesuatu yang diwujudkan melalui pengalaman individu manusia akan pilihan otonom dalam domain politik; kebahagiaan, kesejahteraan, harga diri, dan integritas psikologis dalam domain psikologis; serta rasa memiliki pada kelompok atau budaya dalam domain sosial (Mattson & Clark, 2011).

Martabat sebagai Pengalaman Subjektif: Perspektif Psikologi

Dari sudut pandang psikologis, martabat adalah suatu kondisi yang ditandai oleh rasa kepuasan, kesejahteraan, dan ketenangan — penilaian integratif terhadap kehidupan dan keadaan kita. Martabat ini tidak muncul dalam ruang hampa; ia dibentuk tidak hanya oleh hubungan dengan diri sendiri, tetapi juga oleh hubungan dengan orang lain serta interaksi dengan dunia fisik (Mattson & Clark, 2011). Psychological well-being (kesejahteraan psikologis), yang secara luas digunakan dalam psikologi sosial, mencerminkan konsep martabat yang dialami secara subjektif (Mattson & Clark, 2011).

Martabat dan Dinamika Nilai

Mattson & Clark (2011) mengembangkan kerangka nilai untuk memahami martabat: nilai-nilai seperti kekuasaan (power), kekayaan (wealth), kesejahteraan (well-being), penghormatan (respect), dan kejujuran (rectitude) semuanya terkait dengan pengalaman martabat. Rasa hormat (respect) dan kejujuran (rectitude) memiliki hubungan yang paling dekat dengan psikologis eksistensial — ketika orang merasakan bahwa nilai-nilai ini dilanggar, dampaknya pada martabat mereka jauh lebih besar dibandingkan perampasan nilai lainnya, kecuali gangguan fisik yang parah (Mattson & Clark, 2011).

Pentingnya Menjaga Martabat Manusia

Secara empiris, tingkat martabat manusia tampak sangat dipengaruhi oleh kekayaan dan akses terhadap nilai-nilai lain yang disediakan oleh kekayaan, terutama dalam kondisi kemiskinan. Namun setelah orang tidak lagi hidup dalam kemiskinan, pengalaman martabat tampaknya bergantung pada nilai-nilai lain yang berkaitan dengan aktualisasi diri (Mattson & Clark, 2011, mengacu pada Maslow, 1954). Kecaman yang terus-menerus, ketidakadilan, dan pengecualian dari proses kebijakan secara langsung mengancam martabat individu dan komunal (Mattson & Clark, 2011).

Kesimpulan

Martabat manusia, yang didefinisikan sebagai pengalaman subjektif dari kesejahteraan yang bergantung pada jumlah kolektif pengalaman nilai-nilai antarindividu, memiliki implikasi nyata bagi kehidupan sehari-hari dan kebijakan. Menjaga martabat manusia adalah tentang memastikan bahwa orang-orang dapat mengakses nilai-nilai penting — rasa hormat, kesejahteraan psikologis, keamanan fisik, dan kebebasan — yang secara bersama membentuk pengalaman hidup yang bermartabat (Mattson & Clark, 2011).