Memahami Betrayal Trauma dan Dampaknya pada Hubungan
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Betrayal trauma sering muncul dalam hubungan yang seharusnya memberikan rasa aman. Kondisi ini membuat banyak orang merasa bingung karena luka justru datang dari orang yang dipercaya. Memahami pola dan ciri-cirinya dapat membantu penyintas mengenali apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Pengertian dan Konsep Dasar Betrayal Trauma
Menurut Rachel E. Goldsmith, Jennifer J. Freyd, dan Anne P. DePrince dalam artikel jurnal ilmiah “Betrayal Trauma: Associations With Psychological and Physical Symptoms in Young Adults,” betrayal trauma adalah trauma yang dilakukan oleh seseorang yang dekat dengan korban. Artikel tersebut menjelaskan bahwa trauma seperti kekerasan pada anak atau kekerasan pasangan intim yang dilakukan oleh orang tempat korban bergantung atau merasa dekat memiliki tingkat pengkhianatan yang lebih tinggi dibandingkan serangan oleh orang asing, dan lebih kuat berkaitan dengan gejala psikologis maupun fisik dibandingkan trauma dengan tingkat pengkhianatan rendah.
Definisi Betrayal Trauma Menurut Riset Psikologi
Goldsmith menggambarkan betrayal trauma sebagai pengalaman ketika sistem kelekatan dan rasa aman justru terhubung dengan sumber ancaman. Korban bisa saja mengalami kekerasan emosional, kebohongan besar, atau pelanggaran kepercayaan yang berulang. Di permukaan, hubungan mungkin tampak “baik-baik saja”, namun di dalam diri korban tersimpan rasa takut dan kebingungan yang kuat. Kondisi ini membuat banyak penyintas sulit memberi nama pada pengalamannya.
Perbedaan Betrayal Trauma dengan Trauma Lain
Berbeda dengan trauma akibat kecelakaan atau bencana, betrayal trauma berkaitan erat dengan kedekatan dan ketergantungan. Ancaman datang dari orang yang diharapkan melindungi, sehingga otak sering memilih mekanisme seperti penyangkalan, pemisahan (dissociation), atau “melupakan” agar hubungan tetap berjalan. Goldsmith menekankan bahwa hal ini membuat reaksi korban tampak kontradiktif bagi orang luar, misalnya tetap membela pelaku atau kembali ke hubungan yang menyakitkan.
Ciri-Ciri dan Dampak Betrayal Trauma pada Korban
Betrayal trauma biasanya meninggalkan jejak pada emosi, cara berpikir, dan pola hubungan sehari-hari. Sebagian orang baru menyadari dampaknya bertahun-tahun setelah peristiwa utama terjadi. Dengan mengenali ciri-cirinya, penyintas bisa mulai memahami bahwa reaksinya adalah bentuk respons terhadap luka yang mendalam, bukan sekadar “terlalu sensitif”.
Gejala Emosional dan Kognitif Betrayal Trauma
Secara emosional, korban sering merasakan campuran marah, sedih, jijik, tetapi juga rindu dan sayang pada pelaku. Rasa malu dan bersalah kerap muncul, misalnya merasa bodoh karena “tidak sadar dari dulu”.
Dalam artikel yang disebutkan sebelumnya, Goldsmith, Freyd, dan DePrince menyebutkan betrayal trauma berkaitan dengan gangguan pemrosesan informasi seperti disosiasi dan alexithymia. Disosiasi dijelaskan sebagai fragmentasi pemrosesan informasi yang dapat mencakup gangguan memori dan kognisi, sedangkan alexithymia merujuk pada kesulitan mengenali, melaporkan, dan memahami keadaan emosional diri sendiri.
Dampak Jangka Panjang pada Hubungan dan Rasa Percaya
Dalam jangka panjang, betrayal trauma dapat memengaruhi cara seseorang membangun kedekatan. Ada yang menjadi sangat curiga dan selalu waspada, ada juga yang justru mudah percaya pada orang yang tidak aman karena pola lama terasa familiar. Kondisi ini dapat berhubungan dengan munculnya kecemasan, depresi, atau kecenderungan terjebak lagi dalam hubungan yang merugikan. Memahami ciri-ciri betrayal trauma bisa menjadi langkah awal untuk mencari bantuan profesional dan perlahan memulihkan rasa aman dalam hubungan.
Kesimpulan
Betrayal trauma menggambarkan luka mendalam akibat pengkhianatan dari orang yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Luka ini menyentuh inti kepercayaan, sehingga wajar jika penyintas merasa bingung, terpecah, dan sulit menjelaskan apa yang dialami.
Dengan mengenali gejala emosional, kognitif, dan dampak pada pola hubungan, penyintas dapat melihat bahwa reaksinya memiliki konteks psikologis yang jelas. Pemahaman ini membuka ruang untuk mencari dukungan, membangun batas yang lebih sehat, dan perlahan menyusun ulang rasa percaya pada diri sendiri maupun orang lain setelah mengalami betrayal trauma.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Healing: Proses Pulih dan Berdamai dengan Diri