Memahami Bias Konfirmasi: Pengertian dan Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bias konfirmasi merupakan fenomena yang sering muncul tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang cenderung mencari atau menerima informasi yang memperkuat keyakinannya, sementara mengabaikan fakta yang bertentangan. Kondisi ini dapat memengaruhi cara berpikir dan mengambil keputusan di berbagai situasi, mulai dari pilihan personal hingga penyebaran informasi di media sosial.
Definisi Bias Konfirmasi Menurut Para Ahli
Bias konfirmasi adalah kecenderungan seseorang untuk lebih mempercayai informasi yang sejalan dengan kepercayaan atau opini yang sudah dimiliki, sambil mengabaikan informasi yang bertentangan. Beberapa ahli memberikan definisi yang saling melengkapi.
Menurut Blount (2017) dalam kajian Fiqhiyatun Naja dan Nanik Kholifah, dengan judul Bias Konfirmasi terhadap Perilaku Berbohong, bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk membangun keyakinan dan mencari informasi yang hanya mendukung pendirian seseorang, serta mengabaikan bukti lain yang kontras dengan yang ia mau. Senada dengan itu, Rolf Dobelli dalam Assad (2017) mendefinisikan bias konfirmasi sebagai kecenderungan manusia untuk menafsirkan informasi baru yang harus selaras dengan teori dan kepercayaan yang sudah ada — dengan kata lain, membuang semua informasi baru yang bertentangan dengan apa yang diyakini (Naja & Kholifah, 2020).
Definisi yang lebih presisi dikemukakan oleh Kassin (dalam Sulistiawan, 2013, dikutip dalam Naja & Kholifah, 2020): bias konfirmasi mengarahkan seseorang untuk menerima atau menolak kebenaran sebuah klaim, bukan atas dasar kekuatan argumen untuk mendukung klaim itu sendiri, melainkan karena besarnya korespondensi klaim dengan gagasan yang telah terbentuk sebelumnya. Tinjauan komprehensif Nickerson (1998) dalam Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises, juga mengkonfirmasi bahwa bias konfirmasi adalah fenomena kognitif yang bersifat universal dan muncul dalam banyak bentuk dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator Bias Konfirmasi
Marbun (dalam Naja & Kholifah, 2020) memaparkan empat indikator utama bias konfirmasi: pertama, tidak suka mendengarkan pendapat dari orang yang bertentangan dengan pemikirannya; kedua, menggunakan informasi dari orang yang sejalan dengan pemikirannya sebagai bahan pertimbangan; ketiga, lebih memperhatikan masukan atau pendapat yang sesuai dengan pendapatnya sendiri; dan keempat, cenderung mengesampingkan informasi yang tidak sesuai dengan pemahamannya.
Bagaimana Bias Konfirmasi Terjadi pada Individu
Pada dasarnya, bias konfirmasi muncul dari kecenderungan otak manusia yang ingin merasa benar dan nyaman. Ketika dihadapkan dengan bukti yang bertentangan dengan apa yang mereka inginkan, individu akan secara aktif mengabaikan atau menolaknya — hal itu sangat menghalangi kemampuan seseorang untuk menemukan kebenaran (Ronson, 2013, dikutip dalam Naja & Kholifah, 2020)
Thomas Gilovich (1993) dalam buku How We Know What Isn't So: The Fallibility of Human Reason in Everyday Life, menambahkan dimensi memori dalam fenomena ini: bias konfirmasi membuat seseorang lebih mudah mengingat informasi baru yang mendukung apa yang mereka percayai selama ini, dan secara tanpa sadar, dengan cepat melupakan dan mengabaikan informasi ataupun fakta baru yang menyanggah kepercayaan itu (Naja & Kholifah, 2020). Dengan demikian, pandangan yang bertentangan sering diabaikan atau dianggap kurang relevan bukan karena tidak valid, tetapi karena otak secara selektif memproses informasi yang mengkonfirmasi keyakinan yang sudah ada.
Contoh Bias Konfirmasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Bias konfirmasi dapat terjadi pada berbagai proses dan situasi seperti saat pengambilan keputusan.
Bias Konfirmasi dalam Proses Pengambilan Keputusan
Saat seseorang harus memutuskan sesuatu, ia cenderung mencari argumen atau bukti yang memperkuat pilihannya. Bias konfirmasi merupakan proses pembuatan keputusan di mana seseorang akan mencari bukti yang memperkuat dan mengabaikan pencarian informasi yang melemahkan dugaan awalnya (Basyaib, 2006, dikutip dalam Naja & Kholifah, 2020). Hal ini terlihat dalam keputusan membeli produk, memilih institusi pendidikan, hingga penilaian terhadap orang lain. Kahneman (2011) dalam Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa bias konfirmasi merupakan produk dari pemikiran otomatis (System 1), yang dapat dikurangi dengan pemikiran lebih lambat dan analitis (System 2).
Bias Konfirmasi dan Penyebaran Berita Bohong
Salah satu dampak nyata bias konfirmasi yang paling relevan di era digital adalah keterkaitannya dengan penyebaran informasi keliru. Sebuah riset bertajuk The Spreading of Misinformation Online (Washington Post, 2014) menyatakan bahwa bias konfirmasi bukan hanya mempersempit pikiran, tetapi juga dapat memicu penyebaran berita bohong (Naja & Kholifah, 2020). Ketika seseorang memiliki bias konfirmasi, ia cenderung menyukai dan membagikan konten yang membenarkan pemikirannya, meskipun informasi tersebut tidak akurat (Andrew, CNN, 2017, dikutip dalam Naja & Kholifah, 2020).
Penting untuk dicatat bahwa penelitian empiris Naja dan Kholifah (2020) terhadap 80 anggota PMII Pasuruan menemukan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara bias konfirmasi dan perilaku berbohong secara langsung. Perilaku berbohong dipengaruhi oleh banyak faktor lain, di antaranya menjaga harga diri, kepercayaan diri yang rendah, menghindari tanggung jawab, serta faktor karakter dan kepribadian seseorang.
Dampak Bias Konfirmasi terhadap Hubungan Sosial
Bias konfirmasi juga dapat memicu kesalahpahaman dan konflik dalam hubungan sosial. Orang yang terjebak dalam bias ini sering sulit menerima kritik atau saran yang bertentangan dengan keyakinannya. Menurut Myrvang (2017) dalam kajian Naja dan Kholifah, bias konfirmasi menyebabkan seseorang memilih setengah realitas yang dipertahankan berdasarkan konviksi psikologis — membuat seseorang merasa berhak untuk menjadi benar, tanpa didasarkan pada penilaian yang logis dari fakta dan kenyataan (Naja & Kholifah, 2020).
Langkah-Langkah Mengidentifikasi Bias Konfirmasi
Berdasarkan empat indikator yang dikemukakan Marbun (dalam Naja & Kholifah, 2020), beberapa cara untuk mengenali bias konfirmasi antara lain: mengamati apakah kita cenderung tidak mau mendengarkan pendapat yang bertentangan dengan pemikiran sendiri; memeriksa apakah kita hanya menggunakan informasi dari sumber yang sejalan dengan opini pribadi; dan mengevaluasi apakah kita secara konsisten mengesampingkan informasi yang tidak sesuai dengan pemahaman yang dimiliki.
Strategi Mengurangi Bias Konfirmasi dalam Berpikir
Agar cara berpikir semakin objektif, beberapa strategi dapat diterapkan. Kahneman (2011) menyarankan aktivasi System 2 — yakni pemikiran yang lebih lambat, analitis, dan disengaja — sebagai cara untuk mengimbangi kecenderungan otomatis bias konfirmasi. Secara praktis, ini dapat dilakukan dengan mendengarkan sudut pandang berbeda secara terbuka, berdiskusi dengan orang yang memiliki pandangan lain, mencari secara aktif bukti yang menentang keyakinan yang sudah ada (disconfirmation strategy), serta membiasakan diri mengevaluasi informasi dari berbagai sumber sebelum membentuk kesimpulan. Menurut Phung & Marbun (dalam Naja & Kholifah, 2020), kesadaran tentang adanya bias konfirmasi dalam diri sendiri merupakan langkah pertama yang paling penting untuk mengatasinya.
Kesimpulan
Bias konfirmasi merupakan kecenderungan kognitif di mana seseorang mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang selaras dengan keyakinannya, sambil mengabaikan informasi yang bertentangan. Fenomena ini dapat memengaruhi keputusan, pola pikir, dan hubungan sosial. Meskipun bias konfirmasi sering dikaitkan secara teoretis dengan kecenderungan berbohong atau menyebarkan informasi keliru, penelitian empiris Naja dan Kholifah (2020) menunjukkan bahwa hubungan langsung antara keduanya tidak terbukti signifikan secara statistik — perilaku berbohong dipengaruhi oleh banyak faktor yang lebih kompleks. Dengan memahami dan mengidentifikasi indikator bias konfirmasi, setiap orang dapat melatih diri untuk lebih terbuka, kritis, dan objektif dalam berpikir serta berinteraksi.